17an Ala Nasution Rizky

17 Agustus adalah tanggal sakral bagi bangsa Indonesia dan merupakan momentum kemerdekaan yang terjadi pada tahun 1945 silam. Genap 70 tahun bangsa Indonesia memperingati kemerdekaannya. Namun, apakah benar Indonesia telah merdeka dalam makna yang sebenarnya? Berikut cerita ku di momentum 17an 2015 kemarin.

Instalasi Sampah

Instalasi Sampah

Cerita pertama aku mulai dari kegiatan 17an di Pulo Brayan, Kecamatan Deli Serdang. Kegiatan yang di inisiasi oleh teman-teman dari 50 komunitas Medan ini bertemakan “Komunitas Ber-17an” atau dibaca dengan komunitas bersatu tujuan yakni, mengenang kembali masa kejayaan Indonesia pada masa tempo dulu. Mulai dari pakaian, kendaraan hingga permainan dan jajanan yang dijajakan bertemakan tempo dulu

Tentunya aku tidak mau melewatkan begitu saja momen berharga ini. Beberapa foto aku abadikan dalam bingkai kamera ku. Hmmm, sungguh berasa kembali ke tempo dulu melihat para peserta yang hadir pada hari itu berkostum ala tentera, none Belanda, kebaya, dan juga ala gaya anak muda tahun 80-an.

17an Ala Nasution Rizky

Bareng SIGI Medan dan Digidoy Komik

Bareng SIGI Medan dan Digidoy Komik

Bareng Rani Barus, Si Pemilik Quote "Bergerak Jika Tergerak"

Bareng Rani Barus, Si Pemilik Quote “Bergerak Jika Tergerak”

17an Ala Nasution Rizky

17an Ala Nasution Rizky

Sepulang dari Pulao Brayan, aku bersama Irvan yang merupakan penggagas Medan Heritage Tour, melanjutkan perjalanan menuju Pusat Kota Medan. Setibanya di sana, bareng teman-teman dari beberapa komunitas di Kota Medan, kami merayakan kemerdekaan Indonesia ke-70 tahun dengan cara yang berbeda. Kami memulai pawai dari Pusat Kota Medan, tepatnya di pelataran trotoar Balai Kota Medan.

Peserta tidak hanya orang pribumi, ada juga beberapa orang asing yang turut serta dalam kegiatan Merdeka Itu Bersih yang aku dan teman-teman inisiasi. Balai Kota Medan menjadi titik start kami memulai pawai yang mengusung tentang kepedulian anak muda akan kebersihan lingkungan Kota Medan.

17an Ala Nasution Rizky

Senang rasanya karena di momentum yang tidak biasa aku bisa berkenalan dengan orang-orang baru dan berbagi pengalaman baru pula. Pertama, sama si bule ini. Ternyata dia adalah salah satu anggota di Coach Surfing Community (Baju Merah) yang memang sengaja datang ke Medan tepat di Hari Kemerdekaan Indonesia, hanya untuk merasakan euphoria peringatan bangsa ini, sekaligus mengetahui seperti apa sih cerita dan budaya yang bangsa ini punya, khususmya cagar alam dan cagar budaya Kota Medan.

Kami bergerak dari Balai Kota Medan menuju destinasi pertama yakni, Taman Budaya Sumatera Utara yang terletak di Jl. Perintis Kemerdekaan, Medan. Pada saat itu aku ikut rombongan kedua. Kami berkendarakan angkot yang sengaja kami carter satu angkot. Di sana aku berkenalan dengan teman-teman baru dari tiga komunitas berbeda, diantaranya KOPHI Sumut, Save Our Rivers, dan Blog M.

17an Ala Nasution Rizky

Angkot melaju lancar tanpa hambatan. Sekitar sepuluh menit kami sudah tiba di Taman Budaya. Rombongan ku dan rombongan pertama setibanya menikmati aksi panggung yang ditampilkan oleh para sahabat seniman di Taman Budaya siang itu. Penampilan yang mereka sajikan berupa puisi, monolog, drama, dan tarian kontemporer.

Monolog

Monolog

Tari Kontemporer

Tari Kontemporer

Entah mengapa, melihat mereka berkarya di atas panggung membuat hasrat seni ku berasa terpanggil dan maaf, jangan salahkan aku jika kaki ini tiba-tiba melangkah gontai ke arah panggung sambil mengenakan tompeng di wajah ku. Ya, beginilah aku. Sebut saja aku si sawan puisi, pantang lihat panggung sastra langsung saja melipir ingin tampil. Naumn, jangan pula bertanya karya apa dan siapa yang aku persembahkan, sebab apa yang aku tampilkan merupakan kalimat random yang aku lontarkan dari isi kepala ku pada siang itu. Intinya, pesan yang ingin aku sampaikan bahwa Merdeka Itu Bersih, Bersih Itu Merdeka.

Sastra Bebas

Sastra Bebas

Selepas menikmati penampilan seni, aku sempat bercengkrama dengan Qintari Dita yang merupakan perempuan muda yang memiliki segudang prestasi ini. Yah, sebut saja dia multitalen. “Aku tuh nge-fans lho dek sama mu. Akhirnya kita bisa berkenalan langsung. Aku suka karena kamu itu serba bisa, aku tertarik sekali. Next time kita ngobrol panjang ya dek. Pokoknya aku bahagia kali bisa jumpa langsung seperti ini,” ungkap ku pada gadis berparas lembut dan pemilik senyum manis.

Selain itu, aku juga bertemu sama Yuri Nasution. Sosok perempuan penggila sejarah. Kalau ngobrol sama perempuan ini seputar sejarah Sumatera ataupun Indonesia, doi jagonya. Dan pertemuan ku sama Qintari juga karena ulahnya si cantik Yuri. “Thanks Yuri sudah ngajakin Qintari ikutan di kegiatan kita,” ujar ku bahagia lega karena momen ini yang aku nanti-nantikan. Untuk mengabadikan momen langka ini, aku meminta mereka foto bersama sebelum mereka pergi berlalu menghadiri kegiatan 17an di tempat lainnya.

Qintari Dita & Yuri Nasution

Qintari Dita & Yuri Nasution

Jam makan siang pun tiba, aku dan teman-teman duduk lesehan di rumput sambil menikmati nasi bungkus berlaukkan ayam gulai dan sayur-mayur sebagai rencah penikmat santapan kami saat itu. “Hmmm, nyumiii.. selamat makan weee,” lugas ku yang sudah tak sabar ingin melahabnya segera.

Selepas makan siang aku dan beberapa teman komunitas saling berkenalan. Mulai dari komunitas Save Our Rivers, kemudian komunitas Lowrider Medan, dilanjut komunitas Medan Heritage Tour, KOPHI Sumut, HiLo Green, dan komunitas Anak Kece Medan. Kami semua sepakat dalam satu visi yakni, yang namanya merdeka itu adalah bersih. Baik bersih secara lingkungan, bersih secara pemerintahan, bersih dari kemiskinan, bersih dari krisis pendidikan, bersih dari pemusnahaan warisan kota, dan lain sebagainya.

Makan Siang & Ramah Tamah

Makan Siang & Ramah Tamah

Foto Bersama di Taman Budaya Medan

Foto Bersama di Taman Budaya Medan

Makan siang dan sesi foto bersama di Taman Budaya pun kelar. Kami melanjutkan pawai kami melintasi Jl. Perintis Kemerdekaan hingga Jl. HM. Said. Di sepanjang jalan itu kami mengutip sampah non-organik saja. Dan serunya beberapa penduduk sekitar Jl. HM. Said ada yang menyapa kami, lalu berkata “Dek, biasanya juga ada petugas yang ngutip sampah kok di sini.” Namun, beberapa diantara kami, salah satunya aku yang mengedukasi ke penduduk tentang aksi Merdeka Itu Bersih.17an Ala Nasution Rizky

Lalu perjalanan kami lanjutkan menuju Jl. Bedagai. Jalan ini merupakan pajak yang aktif beroperasi pada pagi hari. Jadi tak heran jika di sepanjang jalan banyak sekali sampah berserakan yang memadati hampir di semua pelataran rumah warga, berbentuk ruko (rumah toko).

17an Ala Nasution Rizky

17an Ala Nasution Rizky

Terinspirasi dari seorang anggota Save Our Rivers, akhirnya aku meminta mereka mengabadikan gaya ku pada momen bendera Merah Putih. Foto di bawah ini menceritakan bahwa bangsa Indonesia pada kenyataannya belum merdeka yakni, merdeka dari lingkungan yang bergelimang sampah. Masih banyak daerah di Kota Medan ini yang tertimbun oleh sampah, bahkan di tengah kota sekalipun. Bukan salah sampahnya ataupun tempat sampahnya, melainkan tingkat kesadaran masyarakatlah yang belum terbentuk untuk membuang sampah pada tempatnya.

17an Ala Nasution Rizky

Di penghujung Jl. Bedagai, aku dan teman-teman menemukan satu gedung tua dengan kondisi yang sangat memilukan. Gedung ini merupakan salah satu heritage Kota Medan yang tidak dilestarikan yakni, Gedung RRI (Radio Republik Indonesia) pertama yang ada di Medan. Dan di lokasi ini, aku sempat juga mengabadikan momen ini bareng Musthofa Rangkuti yang merupakan adik sekaligus sahabat yang sudah aku kenal sejak 2011 silam. Namun, siapa menduga, kami akhirnya bertemu kembali di kegiatan ini yang mana sebelumnya terakhir berjumpa pada tahun 2013 dan aku lupa ketemu dimana. Singkat kata singkat cerita, kurang lebih sudah 2 tahun kami tidak berjumpa.

Foto Bersama di Gedung RRI Medan

Foto Bersama di Gedung RRI Medan

17an Ala Nasution Rizky

Dari Gedung RRI, kami berlanjut menuju Jl. Sutomo. Di sepanjang jalan ini tidak terlalu banyak sampah non-organik yang kami dapati. Tiba-tiba mata ku tertuju pada sekumpulan orang yang kurang lebih 100 meter di ddepan kami. Terlihat ada yang jongkok sambil memilih barang dan ada yang berdiri melakukan tawar-menawar barang. “Kak, itu mereka ngapain?” tanya Funy salah satu anggota komunitas Blog M. “Oh, itu namanya Pajak Ular. Konon katanya disebut itu karena barang yang dijajakan merupakan barang tadahan ataupun barang-barang bekas. Yah, kalau jago milih bisa saja dapat barang ori dengan harga miring,” jelas ku padanya.

Kami pun beristirahat sejenak di Tugu Medan Area, merupakan salah satu monumen peringatan Medan Area yang terjadi pada tahun 1948 silam. Monumen ini berseberangan letaknya dengan Hotel Belinun yang merupakan tempat beristirahatnya para kolonial Belanda kala itu dan penyerangan dilakukan di hotel tersebut. Selain itu, monumen ini juga berseberangan dengan Gedung Nasional. Gedung ini juga merupakan heritage Kota Medan, yang mana pada tahun 60-an Gedung Nasional berfungsi sebagai gedung seni dan pertunjukkan di Kota Medan. Tidak sedikit artis luar negeri yang menampilkan karyanya di Gedung Nasional ini.

Di Depan Tugu Medan Area

Di Depan Tugu Medan Area

Membersihkan Halaman Gedung Nasional

Membersihkan Halaman Gedung Nasional

Beranjak dari Jl. Sutomo, kami melintasi Jl. Veteran. Di hujung Jl. Veteran mengarah ke Stasiun Kereta Api, aku mendapati satu bangunan heritage lagi yakni, Vihara Setia Budi yang didirikan sebelum tahun 1921. Konon vihara ini dulunya dengan dengan sebutan Kwan Tek Kong. Namun, pada masa orde baru beralih menjadi Tri-Dharma yakni, unsur Buddha, Kong Hu Cu, dan Tao.

Vihara Setiia Budi

Vihara Setiia Budi

Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Titi Gantung dan Stasiun Kereta Api yang didirikan bersamaan pada tahun 1885. Pada hari itu Titi Gantung dipadati oleh pengunjung dan pedagang kaki lima. Sampai-sampai kami tidak bisa lagi mengutip sampah di seputaran Titi tersebut, sebab banyak sekali sepeda motor yang berlalu lalang. “Hmmm, ini bukti Kota Medan masih sangat minim ruang publik,” gumam ku dalam hati.

Titi Gantung

Titi Gantung

Dari Stasiun Kereta Api, kami menyeberang menuju Lapang Merdeka Medan. Perjalanan pun terhenti di Monumen Pancasila yang merupakan monumen penanda bahwasanya pembacaan teks Proklamasi pernah di proklamirkan di Lapangan Merdeka Medan. Di sisi ini kami menikmati detik-detik penurunan Sangsaka Merah Putih oleh para Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka).

Tugu Pancasila, Lapangan Merdeka Medan

Tugu Pancasila, Lapangan Merdeka Medan

Selesai pengibaran, entah mengapa kaki ini dengan gontainya melangkah menuju podium Lapangan Merdeka Medan. Dan benar, aku mendapati sosok pelatih Paskibraka tahun 2004. Yah, dia pelatih ku. Seseorang yang berlogat medok Jawa, namun memiliki pribadi yang disiplin dan tegas dalam menggembleng kami pada masa itu. Kak Amranta, begitu kami memanggilnya. Hehehe, sungguh ini hari yang sangat membahagiakan. Aku bertemu begitu banyak sosok orang yang aku kagumi. Sudah tentu, momen ini juga harus aku abadikan. Cekreekk!

17an Ala Nasution Rizky

Bahagia? Yah, teramat bahagia. Sebab tidak hanya pengalaman dan teman baru saja yang didapat, tapi aku juga dapat kado di momentum 17an ini. “Kak, dimana? Ary singgah ke rumah kakak pagi ini ya. Ada yang mau Ary antar,” sepenggal chat dari salah satu penggiat Medan Heritage Tour. “Kak, sinilah. Ini untuk kakak, tapi yang lain jangan tahu ya. Maaf Cuma bisa kasih ini oleh-oleh dari kampong,” ungkap Thofa seusai perjalanan pawai kami di sore itu. Hmmm, Indonesia yang ulang tahun, malah aku yang dapat kado. Cihhuuyy!

17an Ala Nasution Rizky

Kemerdekaan tak lagi momentum seremonial perayaan HUT RI saja, melainkan bagiku adalah momen dimana aku bertemu sosok-sosok inspiratif ku dan belajar hal-hal baru dengan orang-orang yang kreatif tentunya. Begitulah cerita 17an Ala Nasution Rizky kemarin. Terima kasih Ya Allah, terima kasih kawan. Merdeka Itu Bersih, Bersih Itu Merdeka. Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa kita, dan satu pergerakan kita, MERDEKA!

17an Ala Nasution Rizky

 

MERDEKA bukan soal peringatan, bukan pula kebanggaan. Melainkan bagaimana kita sebagai anak bangsa bisa menjadi individu yang berkualitas serta menjadi agen perubahan dan pergerakan bagi anak muda lainnya. Jika sudah, maka pribadi pantas untuk me-merdeka-kan diri guna menciptakan kemerdekaan sesungguhnya bagi bangsa ini #NR

4 Comments
  1. Rudi Hartoyo
  2. fajar siagian
  3. aizeindra
  4. Habib.asyrafy@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *