5PM (Lima Penjuru Masjid) : Menciptakan Sejarah Melalui Karya

5PM (Lima Penjuru Masjid) : Menciptakan Sejarah Melalui Karya – Sebuah kalimat yang membuatku sedikit tertegun dengan statement Kang Umank, pemilik nama lengkap Humar Hadi. Beliau sosok yang mencuri perhatianku siang tadi. Banyak perjalanan hidupnya yang hampir mirip dengan kisah dimana aku menemukan self passion ku. Ulasan ini akan kita mulai dari poin “Bukan tentang siapa kita, melainkan tentang bagaimana kita.”

Umar Hadi, Sutradara 5PM

Humar Hadi, Sutradara 5PM

“Film itu sebagai wadah untuk mengukir sejarah. Karena menurut saya tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini, semua pasti ada manfaatnya,” ungkap Kang Umank yang merupakan sutradara di film 5PM (Lima Penjuru Masjid). Baginya, setiap orang berhak menciptakan sejarah bagi dirinya. Itu alasan mengapa beliau begitu tertarik pada kearifan lokal suatu daerah, namun karya-karyanya tidak akan terlepas dari konten religi.

“Generasi kita saat ini adalah generasi malas baca. Jadi tujuan saya buat film religi agar memudahkan masyarakat untuk memahami bahwa kebaikan itu harus dijaga,” tegas Kang Umank meyakinkan para peserta seminar. Baginya film merupakan solusi tepat untuk menebar kebaikan dan ini juga alasan beliau mengapa fokus di film dakwah.

Seperti yang kita tahu kawan, sebuah karya dikatakan keren ketika kita bisa mengikuti maunya pasar, rating-nya tinggi, dan penjualannya laku keras. Tapi, hal ini bertolak belakang dengan cara pandang Kang Umank dalam memproduksi sebuah karya. Beliau menegaskan bahwa setiap individu itu memiliki potensi seni dan setiap kita bisa membuat film, namun yang bisa memproduksi film sesuai hati penonton, itulah yang sulit.

Ini artinya, bukan sutradara yang mengikuti trend kekinian, melainkan seorang sutradara itu adalah dia yang mampu melakukan survey, verifikasi, lalu menganalisis data-data yang dia perolah di masyarakat luas. Berangkat dari data inilah seorang sutradara kemudian meramunya dalam bentuk skenario yang siap diproduksi. “Skenario itu kitab sucinya si sutradara. Jadi, dari awal kita memang harus tegas dalam pembuatan skenarionya. Kalau dari awal penulisnya si A maka sampai selesai pun tetap si A,” papar lelaki yang berlatar belakang pendidikan Akademi Kimia Analisis Bogor dan melanjutkan studinya ke Teknik Lingkungan.

Antusias Peserta Seminar Roadshow 5PM

Antusias Peserta Seminar Roadshow 5PM

“Mas Umar kan bilang tamatan Teknik Kimia, kok bisa malah jadi sutradara nih sekarang?” tanya salah satu peserta seminar. Kang Umank mengawali jawaban dengan tersenyum ke arah peserta, lalu mengatakan bahwa film adalah hobinya yang dimulai saat beliau terlibat di bulletin kampus semasa ia kuliah dulu. Pada saat itu mereka dari divisi bulletin membuat kompetisi menulis dan hampir 6 bulan menunggu namun tidak kunjung jua ada yang mendaftar kompetisi tersebut.

“Sampai satu ketika ada teman kost saya yang ketuk pintu kamar dan bilang mau daftar lomba nulis yang kami buat. Rasanya saya bahagia sekali, karena kami sudah hampir hopeless menunggu peserta yang mau daftar. Dan akhirnya dengan bangga kami umumin kalau dialah pemenang tunggalnya, hahaha..” ungkapnya sambil tertawa ke hadapan penonton dan seketika suasana ruangan riuh dengan suara tawa peserta.

Pasti kalian bertanya, terus apa kaitannya dengan dia menggeluti dunia film? Ya, karena tulisan si pemenang itu yang buat beliau tergerak ingin memproduksi tulisan itu dalam bentuk audio visual. Karena beliau sadar disamping tulisan si pemenang itu sangat layak baca dan mengingat minat baca anak muda mulai melemah, maka ia memutuskan tulisan tersebut harus dijadikan film. Ini juga terbukti dengan data UNESCO yang menunjukkan minat baca Indonesia berada di persentasi 1:1000, ini berarti dari 1000 orang warga negara Indonesia, hanya satu yang memiliki minat baca yang tinggi.

Ungkapan Kang Umank ini membuatku sadar sesuatu bahwa sebuah karya itu bukan tentang siapa kita, melainkan bagaimana kita. Ya, bagaimana kita menciptakan sejarah kita sendiri dalam sebuah karya. Jadi gini ulasannya. Kang Umank bilangkan setiap individu itu unik, memiliki jiwa seni dan taste setiap orang itu akan beda. Nah, ketika kita tahu menempatkan warna (taste) kita dalam sebuah karya, tanpa ditampilkan siapa sutradaranya, orang juga sudah bisa menebak itu karya siapa.

Ini yang aku sebut dengan karya itu tentang “bagaimana” bukan “siapa”. Ketika pada akhirnya karya kita itu diapresiasi, itulah bonusnya. Cara pandang aku ini juga sejalan dengan statement Kang Umank yang bilang bahwa untuk memproduksi sebuah film itu bukan bergerak dari modal (baca: dana), melainkan bergerak dari sebuah ide liar yang terarah, yang sudah memiliki pattern dan disiplin dalam penggarapannya. “Ini baru namanya karya orisinil. Pesan apa yang ingin kita sampaikan bisa sama dengan pesan apa yang penonton tangkap. Itu baru namanya karya yang menciptakan sejarah,” tegas lelaki yang mengaku memiliki hobi membaca buku.

Saya, Kak Syarif, Kak Adit, Kang Umank

Saya, Kak Syarif, Kak Adit, Kang Umank

Ada prinsip hidup Kang Umank yang membuat aku merasa klik dengan beliau, ketika ia mengatakan kalau berkarya melalui seni film adalah suatu keputusan yang bertujuan mencapai “balancing” dalam dirinya. “Orang seni adalah orang yang bisa menghargai banyak orang. Dan saya senangnya di dunia film. Otak kiri saya bekerja untuk sains, nah analisis itu saya dapat ketika di lapangan saat saya melakukan verifikasi ide. Kalau otak kanan saya bekerja untuk kreatifitas. Nah ini saya dapatkan di lapangan pada saat melakukan produksi film,” papar lelaki yang mengaku sudah berkecimpung di dunia film sejak tahun 2005 dengan produksi film pendek.

Ya, konsep “balancing” ini sangat bagus kita terapkan dalam kehidupan kita. Kalau aku menyebutnya dengan istilah aktualisasi diri, ketika self needs (baca: ego) lebih dominan daripada tuntutan super ego (baca: keinginan lingkungan) kita, maka di saat itulah kita butuh menyeimbangkan keduanya agar menjadi suatu perilaku yang tepat. Sebab, tidak banyak orang berada di tahap ini. Apalagi di generasi malas membaca seperti saat ini. Semangat anak muda untuk mengaktualisasikan dirinya itu sangat minim sekali. Minder, inilah karakter yang banyak dianut anak muda kekinian.

“Saya itu bukan orang yang pede(an). Tapi sejak ikut lomba nyanyi di SMP dan itu menang, dari sana awal keberanian itu timbul. Terus, prestasi yang paling membuat saya itu lebih percaya diri pas saya ikut ajang Mojang Jajaka di Bogor. Saat itu saya terpilih menjadi Duta Pariwisata di daerah saya,” ungkap Aditya S. Pratama, salah satu aktor di film 5PM (Lima Penjuru Masjid).

Adit S. Pratama, Melakoni Peran Budi Dalam Film 5PM

Adit S. Pratama, Melakoni Peran Budi Dalam Film 5PM

Dari kesempatan itu Kak Adit mengaku kalau kemampuan public speaking dan rasa percaya dirinya makin terasah. Kisah Kak Adit dan Kang Umank sebenarnya tidak jauh berbeda, bahwa ketika kita mampu melihat apa yang menjadi potensi dari dalam diri kita dan mau untuk mencoba serta belajar, maka dengan sendirinya kita akan diarahkan pada minat yang akan kita gemari. Jika perilaku baik itu berulang, maka itulah yang akan menggiring kita pada pencapaian prestasi. Ya, ini yang aku maksud dengan konsep aktualisasi tadi.

Kata kunci dari sebuah aktualisasi diri diantaranya mau mencoba, mau belajar, ingat bangkit jika gagal, mengambil hikmah dari sebuah kegagalan, dan tetap rendah hati ketika mencapai kesuksesan. Ini yang aku dapati dari perangai ketiga pelaku film 5PM (Lima Penjuru Masjid) tadi siang.

“Film adalah jalan yang menarik dalam mensyiarkan dakwah. Sebelumnya saya tidak pernah terfikir untuk menjadi aktor sebuah film. Tapi Allah arahkan saya ke dunia ini karena langkah awal saya yang mencoba gabung di milis film favorit saya kala itu, Ketika Cinta Bertasbih. Dari sana saya banyak mengetahui tentang dunia film dan dari sana juga saya dipertemukan dengan Kang Umank. Hingga sekarang saya Alhamdulillah diajak terlibat lagi di film beliau,” lugas Ahmad Syarif, yang berperan sebagai Lukman sang pemilik laundry kiloan.

Ahmad Syarif, Melakoni Peran Lukman Dalam Film 5PM

Ahmad Syarif, Melakoni Peran Lukman Dalam Film 5PM

Dari cerita Kak Syarif pun kita bisa menyimpulkan bahwa setiap orang berhak menciptakan sejarahnya sendiri. Itu kembali pada persoalan, mau atau tidak kita memulainya. Setiap orang akan punya cerita masing-masing dari mana mereka memulai karyanya. Dan mereka memulainya dari dunia film dengan latar belakang yang berbeda-beda. Kang Umank sebagai master analis lingkungan, Kak Adit seorang mahasiswa kedokteran, dan Kak Syarif seorang designer di salah satu advertising Malaysia.

 

Medan Heritage : Madrasah Al Wasliyah Tertua di Medan

Medan Heritage : Madrasah Al Wasliyah Tertua di Medan

Medan Heritage : Foto Bareng Salah Satu Guru di Madrasah Al Wasliyah

Medan Heritage : Foto Bareng Salah Satu Guru di Madrasah Al Wasliyah

Medan Heritage : Kunjungan ke Istana Maimoon

Medan Heritage : Kunjungan ke Istana Maimoon

Jadi, masih mau berkelit juga bahwa aktualisasi diri itu tak mungkin terjadi pada diri kita? Cukup kawan! Sudah saatnya kita melampaui batas. Ya, lampaui batas ke(minder)an dengan merubah pola pikir kita tentang makna pencapaian dengan cara Menciptakan Sejarah Melalui Karya. Bagaimana caranya? Nantikan film 5PM (Lima Penjuru Masjid) di bioskop kesayanganmu. Film ini akan membuka wacana berfikir kita tentang anak muda masa kini yang terpaut hatinya pada masjid. Semoga karya ini akan mencetak sejarah baru bagi generasi muda Indonesia. Salam Inspirasi!

 

 

“Film itu tentang cerita dan peran. Peran itu dilakonkan dengan acting. Acting itu menarik emosi. Ketika kita sudah bisa menguasai emosi maka pesan tersampaikan dengan tepat sasaran. Inilah film, sebagai perpustakaan kita. Begini cara saya menciptakan sejarah” – Humar Hadi –

 

 

 

5PM (Lima Penjuru Masjid) : Menciptakan Sejarah Melalui Karya

 

Organized by Fajr Management

Be a Good Movie Maker or Be a Good Movie Talent

Minggu, 19 Maret 2017

Hall International CNI Medan

5 Comments
  1. Pertiwi Soraya
    • Rizky Nasution
  2. ahmad salim muttaqin
    • Rizky Nasution
    • Umank Ady

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *