Aku Bukan Kartini

Aku Bukan Kartini Kalimat pertama yang ingin aku tulisakan di artikel ini adalah selamat memperingati Hari Kartini, 21 April 2017. Semoga kita bisa menjadi perempuan-perempuan yang menginspirasi dunia dan membentuk karakter anak bangsa yang berkualitas. Aamiin.

Kartini. Hampir semua perempuan di Indonesia ini pasti kenal dengan sosok bersahaja yang selalu saja diidentikkan dengan kebaya, sanggul, pintar, cerdas, santun, gemar baca, dan jago nulis. Perempuan pemilik nama lengkap Raden Ajeng Kartini atau lebih dikenal dengan R. A. Kartini ini merupakan satu dari sekian banyak pahlawan nasional di Indonesia.

Aku Bukan Kartini

Ia lahir di tengah keluarga bangsawan. Ayahnya yang merupakan bupati Jepara membuat ia memiliki kesempatan lebih dibanding perempuan lain seusianya. Kondisi ekonomi keluarganya yang berkecukupan, membuat Kartini mendapatkan pendidikan layak di sekolah Europese Lagere School (ELS). Di sana Kartini belajar bahasa Belanda dan bersekolah hingga ia berusia 12 tahun.

Mungkin bagi kita hal tersebut adalah hal yang biasa di era saat ini. Dimana perempuan mendapatkan pendidikan layak dan berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi, ya tidak ada bedanya dengan lelaki. Namun, pada zaman Kartini justru perempuan memiliki keterbatasan hak, salah satunya adalah hak berpendidikan. Dimana perempuan saat itu memiliki kebiasaan harus tinggal di rumah dan ‘dipingit’.

Jika Saya Ditanya Tentang Peran Kartini

Pertanyaan yang tidak sulit untuk aku jawab, tapi mungkin pun akan berbeda dengan pendapat orang kebanyakan. Ya, janganlah kalian tidak sepakat jika pendapatku ini berbeda dengan kalian. Karena aku melihat sosok pemilik karya tulis “Habis Gelap, Terbitlah Terang” ini dari sisi lain.

Jika banyak orang mengatakan Kartini adalah sosok pahlawan yang memperjuangkan hak-hak perempuan, ya ini  aku masih sepakat. Ada juga yang bilang Kartini sebagai sosok perempuan yang ramah dan santun meskipun berpendidikan tinggi, ya aku sepakat dengan ini. Selain itu, ada yang bilang Kartini adalah perempuan yang cerdas dengan tulisan-tulisannya. Ini pun aku masih setuju.

“Lalu, apa yang membuat kamu berbeda pandangan tentang Kartini?” tanya sahabatku. Hal yang membuatku berseberangan pendapat dengan banyak orang tentang sosok Kartini adalah emansipasi. Secara harafiah, emansipasi adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sejumlah usaha untuk mendapatkan hak politik maupun persamaan derajat, sering bagi kelompok yang tak diberi hak secara spesifik, atau secara lebih umum dalam pembahasan masalah seperti itu.

Menurutku, persamaan derajat yang ditekankan Kartini dalam hal ini adalah persamaan hak mendapat pendidikan. Sebab, kala itu budaya Indonesia sangat kaku dan membentuk personal image perempuan hanya sebagai sosok perempuan yang cukup di rumah dan tidak bisa berkreasi serta berkarya. Ya, budaya ‘dipingit’ tadi.

Tapi, yang banyak aku lihat tidak sedikit perempuan akhirnya bablas mengartikan makna emanspasi ala R. A. Kartini ini. Para kaum hawa di Indonesia mengartikan emansipasi itu hingga ke semua lini. Lalu, dimana peran lelaki sebagai pemimpin? Contoh kecil saja, kita mulai dari peranan rumah tangga. Jika kita, perempuan, merasa hak antara lelaki dan perempuan tidak ada beda, lalu siapa yang akan menjadi komando kapal rumah tangga, dan siapa yang menjadi nahkodanya? Jika keduanya merasa sama-sama komando, inilah yang menyebabkan rumah tangga tidak bertahan lama. Bukankah dalam sebuah organisasi pun posisi struktural itu tetap ada? Ada ketua dan ada anggota.

Pena

Jadi bagiku, Kartini adalah sosok pahlawan pendidikan. Dia ingin memperjuangkan hak mengenyam pendidikan yang sama antara perempuan dan laki-laki. Kartini menuliskan dalam bukunya tentang penderitaan perempuan di Jawa seperti harus dipingit, tidak bebas dalam menuntut ilmu atau belajar, serta adanya adat yang mengekang kebebasan perempuan.

Ini yang kerap kali beliau ulas dalam tulisannya. Hal ini juga sejalan dengan ajaran agama Islam yang mengharuskan seorang perempuan itu pintar dan cerdas. Sebab, perempuan-perempuan ini nantinya akan menjadi calon ibu. Dari kita akan lahir generasi-generasi penerus bangsa ini. Pasti kalian juga pernah mendengar istilah ini :

“Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya”

Adapun pesan yang ingin disampaikan dari kalimat itu adalah dimana seorang ibu akan mendampingi selalu anak-anaknya tumbuh dan berkembang, haruslah memiliki pendidikan yang cukup. Ketika tidak, maka anak tidak akan puas dengan rasa penasarannya, saat mereka bertanya pada ibunya. Ini yang kerap membuat si anak saat remaja lebih memilih teman sebayanya daripada ibunya sebagai teman curhat mereka. Pada tahap perkembangan inilah banyak kerusakan generasi terjadi, dimana mereka mendapatkan informasi tentang permasalahan hidup dari teman sebayanya yang justru juga memiliki kondisi sama, yaitu berada di fase ingin tahu, mencari jati diri.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata, “Hendaknya seorang wanita menyempurnakan pendidikan anak-anaknya karena anaknya adalah generasi penerus di masa yang akan datang. Dan, contoh pertama kali bagi mereka adalah para ibu.”

Ini berarti Islam pun tidak melarang muslimah untuk memiliki pendidikan. Namun, pendidikan bagi seorang perempuan bukan digunakan untuk kesombongan diri, melainkan untuk bekal mereka ketika nanti menjadi seorang ibu.

Hal ini juga yang aku dapati dalam pemikiran Kartini. Beliau menyinggung tentang mengapa kitab suci itu harus dibaca dan dihafal tanpa perlu kewajiban memahaminya. Ini sejalan dengan kisah Aisyah ra yang diriwayatkan dalam hadis Muslim.

Dikisahkan dari Aisyah ra berkata, ”Sebaik-baik wanita adalah wanita kaum Anshar. Rasa malu tidak menghalangi mereka untuk mendalami ilmu agama,” (HR. Muslim).

Bahwa Al Qur’an itu tidak sekedar dibaca saja, akan tetapi ada kewajiban memahaminya, dengan begitu perempuan pun memiliki ilmu agama yang baik sehingga nantinya bisa mereka ajarkan kepada anak-anak mereka.

Begini sudut pandangku melihat peran R. A. Kartini bagi emansipasi perempuan di Indonesia. Bukan emansipasi yang (ke)bablas(an). Dimana ketika memimpin, urusan rumah tangga, kedudukan di dunia kerja, perempuan kerap kali bilang bahwa mereka memiliki hak gender yang sama. Tapi, ketika di suruh pasang lampu, ganti botol air dispenser, ganti ban mobil yang bocor, dan mereka bilang, “Iiiihh pasangan macam apa itu, masak istrinya yang melakukan pekerjaan itu. Enggak bertanggung jawab kali jadi suami.”

Hal inilah yang seharusnya kita pahami dari pemikiran-pemikiran Kartini. Hak yang beliau perjuangkan adalah hak pendidikan bagi kaum perempuan. Bukan hak gender. Jelas bahwa dalam ilmu psikologi pun kedudukan perempuan dan lelaki juga di pandang dari segi biologisnya. Dimana perempuan itu dipandang dependen, selalu mengalah, lemah dan pasif, emosional dan mudah nangis, penakut dan sensitif, mudah terpengaruh dan dibujuk, lebih sensitif terhadap prilaku non verbal, serta lebih ekspresif.

Bukankah ini berarti perempuan tetap membutuhkan sosok lelaki sebagai pelindung dalam hidup mereka? Berartikan tetap ada perbedaan kedudukan antara perempuan dan lelaki. Inilah yang saya maksud dengan emansipasi (ke)bablas(an). Jangan sampai kita, perempuan, tidak menghormati hak lelaki dan melupakan kewajiban kita sebagai perempuan.

Siapa Bilang Aku Kartini?

Berkaca dari 3 tahun terakhir ini. Ingatanku lekat sekali dengan setiap momentum Hari Kartini di tahun-tahun kemarin. Tidak sedikit media cetak, radio, dan televisi yang kerap mengundangku untuk menjadi salah satu nara sumber (narsum) di program dan kolom mereka. Ya, hanya sekedar berbagi pengalamanku yang telah bergerak sekitar 4 tahun di Medan Heritage sebagai sosok perempuan yang aktif. Kata mereka agar liputan mereka bisa memberi inspirasi bagi para pembacanya.

Hal ini menjadi sebuah pernyataan bagi diriku sendiri, kalau Aku Bukan Kartini. Siapa bilang aku Kartini? Aku ini Rizky, seorang anak perempuan dari pasangan suami istri berdarah Mandailing dan dibesarkan dengan mental disiplin dan mandiri. Papa, dialah sosok yang mengantarkanku menjadi perempuan yang saat ini kalian lihat.

Masa kecilku dihabiskan dengan hal-hal bahagia bersamanya. Dia sering mengajak anak-anaknya berpergian ke tempat-tempat wisata, ke taman kota, atau sekedar berbelanja di pasar tradisional. Dan Mama, beliaulah sosok yang kerap sekali mengingatkan Papa untuk selalu memberikan pendidikan agama sebagai pondasi keimanan kami.

Papa dan Mama

Papa dan Mama

Jadi, jika kalian tanya aku terinspirasi dengan Kartini? Jawabnya, tidak. Namun, Papa dan Mamalah yang menghantarkanku menjadi sosok perempuan mandiri. “Papa yakin sebenarnya Fitri itu bisa menyelesaikan kuliah Fitri di Psikologi. Walaupun Mamamu selalu takut kalau kau dipaksa bisa buat Fitri stress. Lihat sekarang, bahkan Fitri bisa melakukan lebih. Kau itu cukup ditekan sikit dan diarahkan, karena Papa tahu Fitri itu anak gadis Papa yang kuat,” kenangku atas pesan Papa di akhir tahun lalu, di saat saya, Mama, dan beliau duduk bareng makan siang di meja dapur, rumah kami.

Jadi, Kartini itu bukan aku. Aku adalah Rizky. Rizky Syahfitri Nasution, nama yang diberikan orang tuaku sebagai doa bahwa Rizky adalah rezeki, Syah adalah kehalalan, dan Fitri adalah hari yang suci, sebab kala itu kata Mama, aku lahir di hari ketiga lebaran. Maka, aku adalah doa kebahagiaan mereka yang mendapatkan rezeki halal di hari nan suci.

Begitu beruntungnya aku memiliki nama yang sangat indah. Inilah alasan bagiku mengapa Kartini tak lebih dari sosok perempuan yang memperjuangkan hak pendidikan bagi kaum hawa. Hal ini sejalan dengan kisah Aisyah ra dalam hadis Muslim di atas, bahwa perempuan juga memiliki keharusan menuntut ilmu agama. Itu berarti keharusan menuntut ilmu bagi perempuan sudah ada sejak dahulu kala.

Bagaimana cara mendapatkan ilmu kak? Kalau kata Imam Syafi’i, ilmu itu didapat dengan :

  • Kecerdasan
  • Semangat
  • Penuh kesabaran
  • Biaya dalam mencarinya
  • Petunjuk guru
  • Jangka waktu yang panjang

Salah satu semangat muslimah di zaman Rasul, bisa kita baca dari kisah Abu Sa’id Al-Khudriy ra, ia mengatakan bahwa ada seorang perempuan menghadap Nabi saw seraya berkata, “Wahai Rasulullah, kaum laki-laki telah memborong waktumu. Karenanya, berilah kami sebuah waktu khusus yang kau tetapkan sendiri. Di waktu itu kami akan mendatangimu, lalu ajarilah kami ilmu yang telah Allah berikan kepadamu.”

Ya, kisah ini juga mengingatkanku dengan bacaan di buku Wanita Idaman Surga, karangan M. Khalilurrahman Al-Mahfani. Dia memaparkan bahwa tipe keenam dari perempuan shaleha idaman surga adalah perempuan yang pintar dan cerdas. Salah satu ciri perempuan cerdas adalah mereka yang bersama ilmu dan iman, serta giat dalam menuntutnya.

“Menuntut ilmu adalah kewajiban tiap orang muslim” (HR. Ibnu Majah dari Anas bin Malik)

“Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (QS. Al-Baqarah : 269)

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. Al-Mujadilah : 11)

Dari beberapa hadis dan ayat Qur’an di atas kita dapat menyimpulkan bahwa hanya orang-orang berilmu yang mempergunakan nikmat akal dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, hendaknya seorang perempuan memacu dirinya untuk terus belajar dan belajar. Jadikan setiap orang yang ditemuinya sebagai guru dan setiap peristiwa yang dilihat dan dialaminya sebagai sebuah pelajaran yang bisa mendatangkan hikmah.

Buku "Jangan Takut Gagal" Karya Aldilla Dharma

Buku “Jangan Takut Gagal” Karya Aldilla Dharma

Sebab, ilmu yang bermanfaat adalah bekal seseorang yang bisa dibawa mati. Rasulullah menjelaskan dengan sabdanya :

“Jika mati salah saeorang di antaramu, terputuslah segala amal perbuatannya, kecuali tiga perkara : shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak shaleh” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

Lantas, apa yang membuat kita, perempuan, harus menyia-nyiakan waktu pada hal-hal yang tidak menambah kecerdasan kita? Kamu tidak mau menciptakan sejarah seperti Kartini? Sebab, Aku Bukan Kartini, Kartini pun bukan kamu, kita, dan mereka.

Ayoklah bangkit dari mati suri pemahamanmu. Mari ciptakan sejarah kita sendiri sebagai pejuang-pejuang pendidikan bagi kaum perempuan. Sudah saatnya perempuan memberikan perubahan, di mulai dari memantaskan pendidikan kita agar generas-generasi yang lahir dari rahim kita adalah mereka yang sholeh dan sholeha. Aamiin.

Beginilah aku sebagai Rizky, in syaa Allah penerus perjuangan Kartini, pengagum Aisyah ra serta Khadijah ra, dan sedang belajar se-sabar Fatimah ra :

Pemandu Wisata Bagi Adik-adik Sanggar Belajar Pintar

Pemandu Wisata Bagi Adik-adik Sanggar Belajar Pintar

 

Peserta Terfavorit Jenius Lokal 2014

Peserta Terfavorit Jenius Lokal 2014

Aksi #SaveTamanSriDeli

Aksi #SaveTamanSriDeli

Reporter Freelance di TVRI Sumut

Reporter Freelance di TVRI Sumut

Liputan Kompas TV Bersama Gramedia

Liputan Kompas TV Bersama Gramedia

Monolog Puisi di Jong Batak Art Festival 2015

Monolog Puisi : Jong Batak Art Festival 2015

Foto Bareng Bang @ceritajimmy, Selaku Corporate Communication XL Northern & Central Sumatera

Juara I Blog Competition, PT XL Axiata Tbk,

Medan Heritage : Foto Bareng Salah Satu Guru di Madrasah Al Wasliyah

Foto Bareng Salah Satu Guru di Madrasah Al Wasliyah & Pemain serta Sutradara Film 5PM

Dusun Mayat : Photo by www.mollyta.com

Monolog Puisi : Mengenang 11 Tahun Tsunami Aceh

Youth Government 2007, Perwakilan Indonesia

Youth Government 2007, Perwakilan Indonesia

Launching Medan Heritage Tour, Bersama Plt. Walikota Medan, Agustus 2013

Launching Medan Heritage Tour, Bersama Plt. Walikota Medan, Agustus 2013

Semoga tulisan Aku Bukan Kartini, memberi spirit baru bagi para pembaca bahwa setiap kita bisa memiliki semangat juang seperti Kartini. Yok, ciptakan sejarahmu! Dimulai dari menciptakan sejarah bagi keluarga kecilmu kelak, dimana anak cucumu akan merasa bangga memiliki dirimu yang menjadi panutan dan sumber inspirasi mereka. Salam Inspirasi Cantik!

“Kejarlah pendidikan terbaikmu. Bukan untuk menyombongkan atau menyaingi siapa pun. Melainkan sebagai bekal bagi anak-anak kita. Jadilah role model pertama dan selamanya” #NR

 

12 Comments
  1. Agnesiarezita
    • Rizky Nasution
  2. Dewi
    • Rizky Nasution
  3. Imey
    • Rizky Nasution
  4. Pertiwi Soraya
    • Rizky Nasution
  5. ibrahim
  6. Nasriati Muthalib
    • Rizky Nasution

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *