Anak-Anak Jalanan Yang Merindu

Anak-Anak Jalanan Yang Merindu

Anak-Anak Jalanan Yang Merindu

 

Kau fikir mereka tidak memiliki hak untuk menikmati sedikit saja dari kesejahteraan kota ini? Mereka juga manusia, mereka juga anak-anak kita yang tumbuh dari air susu Ibu Pertiwi.

Lantas, kenapa saat ini kau merasa mereka hanya bocah-bocah dekil, nakal, tak berprikemanusiaan, dimana hanya menjadi kuman-kuman kota.

Apa yang kau tahu?
Apa yang pernah kita buat?
Pernah tahu kenapa mereka begitu?
Bahkan sampai hari ini aku pun masih bertanya-tanya, dimana ibu bapak mereka?

Lalu, siapa yang harus kita salahkan?
Anak-anaknya?
Ibunya?
Atau bapaknya yang tak cakap menyantuni nafkah tumbuh berkembang mereka?

Ahahahaha, pantaskah kita acuh?
Buat apa syair Tanah Airku yang mendendangkan keberadaan Ibu Pertiwi di negeri ini?
Siapa ibu itu? Yang mana anak-anaknya?

Yang aku tahu, siapa pun yang mengalir darah anak bangsa dalam jiwa kita. Merekalah bocah-bocah Ibu Pertiwi. Lantas, mereka. Bocah-bocah yang berdendang di pinggir jalan. Mereka yang berlantun nada-nada sumbang. Menggecrek-gecrekkan krincingannya. Yang selalu saja mengharap, “setidaknya aku bisa makan satu kali hari ini”.

Tapi, masih saja kau bilang mereka kuman-kuman kota? Pengganggu kenyamanan laju kendaraan mu? Yang kerap mengkhawatirkan diri mu akan tatto dan perangai mereka yang bau, dekil, dan acak kadut?

Takut? Cuek? Acuh?
Begitu saja kau seterusnya!
Bukan orang tuanya yang kita pertanyakan dimana.
Bukan tatto-nya lantas membuatnya tak pantas.
Hanya saja hati mu yang terlalu apatis, memandang mereka yang begitu sinis.

Bahkan, dia yang berjas, berdasi, rambut klimis. Lantas kau bilang merekalah “orang baik dan terpandang”? Padahal mereka lebih rendah. Mereka itulah kuman-kuman bangsa ini¬†yang senantiasa berperan di balik topengnya.

Maaf, jika aku memilih menanggalkan topeng yang telah kau sematkan pada ku. Kini jalanan, bocah-bocah dekil dan dendang lagu sumbang telah mengajarkan ku tentang makna menghargai hidup tanpa pengakuan, tanpa bersikeras harus terpandang, yang penting ” kami bisa makan hari ini”.

Ibu, inilah bocah mu…
ANAK-ANAK JALANAN YANG MERINDU.

 

Event : Mendadak Anak Jalanan
Date : 19 Juni 2016
Director Event : Way Wari AL Kahfi
Photo : Wicaksono Lugas Dwicahyo
Location : Pitu Room

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *