Berkeliling Lagi di Kota Medan

Sudah lama rasanya tidak menikmati jalan kaki di Kota Medan. Akhirnya seminggu yang lalu aku memutuskan berkeliling lagi di Kota Medan dengan memanfaatkan fasilitas pejalan kaki yang katanya sudah dilakukan peremajaan di akhir tahun lalu.

 

Berkeliling Lagi di Kota Medan Ilustration by : NAZ

Berkeliling Lagi di Kota Medan, Ilustration by : NAZ

Sekilas di beberapa titik kota fasilitas pejalan kaki mulai membaik, tapi tidak sedikit juga yang pengerjaannya tanggung, bak manusia dicekek leher. Sesak juga rasanya saat berkeliling di kota ini. Bolehlah ya berkomentar, harus boleh dong, ini kan personal blog ku, hehehe. Pedestrian yang mengalami perbaikan kemarin memang bagus sih, terlihat lebih rapi. Tapi, tetap saja belum senyaman pedestrian saat aku berjalan di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Mungkin di tulisan ini aku tidak melampirkan data-data penelitian, namun aku akan membandingkan berdasarkan pengalamanku sebagai pejalan kaki di kota lain, baik di Indonesia ataupun Negara lainnya.

Kemarin iseng bertanya ke beberapa teman tentang kondisi pedestrian di Kota Medan. Lucunya, pas aku mengeluarkan istilah pedestrian, ada yang nyeletuk dan bilang, “pedestrian itu seperti apa bu dok? Hahaha.. Maaf kalau awak agak lola bu,” kata salah seorang di grup KUPAS (Kumpul Komunitas). Lalu, ada yang lainnya menyahut, “Itu seperti musafir yak? Pengelana gitu?”

Sungguh kocak pertanyaan dan celetukan mereka. Ini pertanda masih ada orang yang belum mengenal isu tersebut. Mungkin bisa dikatakan, Medan kurang mensosialisasikan isu pedestrian ini. Memang sekilas ini merupakan bagian terkecil dari sebuah kota. Namun, tak bisa dipungkiri, tanpa adanya fasilitas ini, secara psikologis, masyarakat bisa mengalami guncangan emosi.

“Kalau ngomong soal pedestrian, fungsi utamanya adalah keselamatan. Keselamatan berarti terkait dengan nyawa para penggunanya. Fungsi selanjutnya, kenyamanan berkaitan hati dan pikiran tanpa ada rasa was-was atau tertekan ataupun khawatir. So, dua alasan mendasar ini maka dibuatlah fasilitas untuk pejalan kaki seaman dan seindah mungkin,” papar bang Bambang F. Wibowo, salah satu fasilitastor di grup KUPAS.

Parkir Sembarangan

Parkir Sembarangan

Pembangunan Fasilitas yang Tidak Kelar

Pembangunan Fasilitas yang Tidak Kelar

Tidak Taat Lalu Lintas

Tidak Taat Lalu Lintas

Berangkat dari pemaparan beliau maka dapat ditarik bahwa konsep saling menghargai sesama pengguna jalan raya berawal dari pembangunan pedestrian yang nyaman dan aman. Hal ini berkaitan juga dengan konsep Sapta Pesona yang pernah aku dengar paparannya saat mengikuti seminar “Sosialisasi Forum Tata Kelola Pariwisata (FTKP) Kota Medan, 19 Desember 2016.

Di sana mereka menjelaskan bahwa  ada 7 aspek penting dalam mewujudkan pesona pariwisata, diantaranya keamanan, ketertiban, kebersihan, kesejukan, keindahan, keramahan, dan kenangan. Tujuan dari program ini dilakukan oleh Kementerian Pariwisata yakni, guna meningkatkan kesadaran, rasa tanggung jawab segenap lapisan masyarakat.

Tapi, nyatanya kondisi fasilitas kota Medan saat ini masih jauh dari kata sempurna dari sebuah desain tata ruang kota. Kita tidak usahlah membahas dari segi pembangunannya, kita berangkat dari pembahasan segi fungsi. Sempat aku dan beberapa kawan-kawan dari Medan Heritage melakukan perjalanan bareng relawan Institute for Transportation & Development Policy (ITDP), berkeliling kota Medan. Ya, semacam melakukan test road untuk mendapatkan pengalaman berjalan kaki di Medan.

Dari perjalanan itu kami banyak mendapati kondisi pedestrian yang tidak layak akses. Semisal, trotoar yang digunakan sebagai lahan parkir, rambu-rambu lalu lintas yang tinggal tiangnya doang, kondisi saluran air yang mampet, masih terdapat sampah di beberapa titik trotoar, dan tata letak tumbuhan yang lebih mendominasi daripada akses pejalan kaki.

Kenangan ini jadi mengingatkanku dengan berita 2 Oktober 2017 kemarin, di salah satu laman website media online. Judulnya, “Kota Medan Dinobatkan Kota Terbaik Indonesia 2017, Kok Bisa?” Berita tersebut berisi tentang Walikota Medan yang mendapatkan penghargaan dalam acara Indonesia Attractive Award (IAA) 2017 di Jakarta.

Laman itu juga menginformasikan kalau Bapak dengan jargon “Medan Rumah Kita,” mendapatkan penghargaan untuk nominasi pengembangan potensi investor dan pembangunan ekonomi. Iya sih memang, di satu sisi kota Medan saat ini sangat gencar dari sektor pembangunan hotel, perumahan, dan perkantoran.

Tapi pertanyaannya, ketika semua ini dibangun, apakah pemerintah memikirkan desain tata ruang kotanya? Dimana ini akan bersangkutan juga dengan fasilitas pedestrian yang sudah aku bahas tadi. Gosah mikir ribet deh, yang aku perhatikan dimana ada sekolah, enggak jauh dari situ ada pasar, ada rumah sakit, dan ada mall. Alhasil, semua manusia berkumpul pada satu titik lokasi, inilah yang menyebabkan kemacetan.

Lain dari itu, sudahlah semua bertumpu di satu titik, lahan parkir untuk masing-masing gedung itu tidak mumpuni menampung jumlah pengunjungnya. Alhasil, menggunakan trotoar dan badan jalan sebagai lahan parkir. Nah ini, berkaitan dengan pengalamanku dan kawan-kawan Medan Heritage yang pengen buat kegiatan di badan jalan, pas tahun 2013 silam.

Kami tidak mendapat izin melakukan aktifitas di badan jalan karena akan menimbulkan kemacetan. Kalaulah dipikir-pikir, kami hanya menggunakan durasi 4 jam untuk acara, sedangkan lokasi perkantoran, sekolah, rumah sakit, dan pusat perbelanjaan ini, akan beraktifitas setiap hari dalam hitungan tahun. Tapi kenapa bisa diberi izin?

Nah lho, mulai mikir kelen kan? Ya, Inilah Medan Bung! Sebuah jargon yang acapkali dikoarkan anak Medan ke khalayak luas. Semacam membenarkan bahwa adab dan kebiasaan masyarakatnya harus dimaklumi (baca: semerawut dan apatis). Kenapa begitu bangganya anak muda sekarang membenarkan jargon itu untuk perilaku yang negatif. Padahal tidak semua anak muda Medan memiliki konsep yang sama dalam berpikir.

Aku salah satunya. Bagiku Medan ini hanya butuh penggerak sajanya. Tak perlu muluk kali harus berharap pada pemerintah kota untuk merealisasikan semua keinginan kita. Karena, aku penganut kepercayaan “Berbuat dan bergerak saja terus, lalu lihat apa yang terjadi nanti.” Ya, sebuah aliran yang belum tentu banyak dianut orang lain.

Wajar kalau hari ini banyak orang menganggap aku edan. Melakukan sesuatu yang belum pasti ada ujungnya. Mengakmpanyekan sesuatu bukan berarti harus beruhujung hasil toh? Yang penting mah, gerak saja dulu. Lakukan, bukan hanya mengeluh! Manusia itu secara psikologis, akan terbentuk baik jika direspon dengan stimulus baik, dan dibiasakan dengan hal-hal yang baik.

Pernah dengar istilah role model? Kalau dalam logat Medan, conbar (baca: contoh barang). Nah, kalau ada conbar tuh, kan gampang kita milih barang mana yang mau kita pilih. Jadi, apatis itu bukan sekedar tentang rasa tidak peduli, bisa jadi orang apatis karena dia tidak tahu terhadap sebuah isu.

Inilah yang membuat aku dan kawan-kawan Medan Heritage terus bergerak, minimal kami membantu masyarakat, khususnya anak muda, mendapatkan informasi yang baik daan benar melalui kegiatan yang kami kemas dengan cara selo (baca: santai) dan kreatif. Karena, ketika kondisi hati seseorang dalam keadaan senang, biasanya mereka akan lebih mudah mengalami proses belajar. Konsep ini yang kami ramu dalam melakukan kampanye.

“Berbagai kawasan komersial dan pusat perbelanjaan dibangun tanpa mempertimbangkan keseimbangan tata ruang kota Jakarta. Kawasan resapan air dan ruang terbuka hijau semakin sempit,” ungkap Firdaus Cahyadi, pengamat lingkungan hidup dari Satu Dunia.

Penambahan dari Dr. Ratna Mardiyati, dokter jiwa dari Rumah Sakit Soeharto Heerdjan, sekitar 1,33 juta penduduk DKI Jakarta diperkirakan mengalami gangguan kesehatan mental atau stress. Gangguan stress itu disebabkan dari berbagai hal, terutama karena masalah pekerjaan dan tata ruang kota yang buruk di DKI Jakarta. Angka tersebut mencapai 14% dari total penduduk dengan tingkat stress akut (berat) mencapai 1-3%.

Begitulah pendapat dua pengamat, mencoba menganalisis kota Jakarta yang semakin semerawut. Jakarta dan Medan memiliki tipikal kota yang sama. Dipadati pendatang, multikultur, dan merupakan kota besar di Indonesia. Bisa jadi nih, beberapa tahun ke depan, Medan akan menjadi the next kota Jakarta. Bakal banyak orang stress diakibatkan semerawutnya laju lalu-lintas perkotaan. (baca juga artikel: KUBIKER : Astra Safety Road)

Cobalah kelen perhatikan di jalanan sekarang, sudahlah jumlah kendaraan makin tinggi, kadang di setiap simpang hilang lampu lalu lintasnya, adapun lampunya tapi tak berfungsi. Belum lagi banyak orang yang punya seribu nyawa, menerobos saja gitu walaupun masih lampu merah. Ya, kek gitulah orang Medan, sakti mandraguna. Merah bukan berarti tanda berhenti, tapi tidak takut mati, ribak sude!

Jadi, masih kelen anggap permasalahan pedestrian ini hal sepele? Dari hal sesederhana ini saja bisa menyebabkan warga kota stress. Mungkin dah bisalah kita pelan-pelan peduli akan isu ini. Ya, minimal dengan tidak memarkirkan kendaraan di atas trotoar, atau tidak menggunakan trotoar sebagai jalur kendaraan bermotor (itu tempat orang jalan woi, suka-suka ko aja bah!). Bisa juga untuk tidak membuang sampah sembarangan, supaya selokan di kota ini enggak mampet. Sama satu inilah woi, cak kelen kurang-kuranginlah ya nerobos lampu merah itu, suka jantungan mamak aku tengoknya (baca: lihatnya). Apalagi para pejalan kaki yang menyeberang, pasti lebih seram lagi nengok kelakuan kelen.

Sosialisasi Pedestrian oleh ITDP

Sosialisasi Pedestrian oleh ITDP

Sosialisasi Kelola Wisata oleh Badan Warisan Sumatera

Sosialisasi Kelola Wisata oleh Badan Warisan Sumatera

Sebenarnya, untuk belajar toleransi itu, enggak perlu jauh-jauh kita bahas Bhinneka Tunggal Ika yang kemarin sempat heboh di media sosial. Mulailah untuk melatih adab itu di jalan raya, dengan kita bisa menghargai pengguna jalan satu dan lainnya, berarti kita sudah memanusiakan manusia. Kek gini baru mantap. Inilah Medan Bung!

Segitu sajalah ya ulok (baca: ngomong) awak. Intinya, kalau kelen mau mengunggah kondisi kota Medan di media sosial, tolong untuk menyebarkan kebaikan. Boleh saja info komplain yang dinaikkan, tapi mohon untuk menawarkan solusi dari unggahan tersebut. Jadi, anak-anak muda yang baca itu pun enggak sekedar ikut mengeluh pas bacanya, tapi justru mereka terinspirasi untuk berbuat lebih dari unggahan kelen itu. Cocok kam rasa?

Mauliate nagodangan, jomlah kita sebarkan informasi positif agar semakin banyak anak muda Medan yang cerdas bermedia sosial. Yuk Kawan, Berkeliling Lagi di Kota Medan ! 🙂

2 Comments
  1. Abdullah Yasin
  2. Abdullah Yasin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *