Ada Cerita Blogger Medan Jurusan Binjai

Minggu, 09 Agustus 2015, awal mula cerita ini di mulai. Entah mimpi apa, seminggu sebelum tanggal itu aku dihubungi oleh ketua pakar Blogger Medan, dek Rudi Hartoyo si Founder www.medanwisata.com , “Kak, 09 Agustus free enggak kak? Nge-DURIAN yok? Jadi pemateri,” ungkapnya pada ku. Oke, terkejut sudah pasti, tapi hati tak kuasa menolak dan aku langsung menyetujuinya.

Cerita punya cerita ternyata aku menggantikan posisi bang Adin, alias pemilik akun @DINNENO & blog www.dinneno.my.id . “Kak, sebenarnya bang Din neh yang ngisi, tapi doi bentrok jadwal dengan kegiatan lain. Please ya kakak bisa,” rayu Rudi pada ku. Dan rayuan Rudi pun berhasil, yang pada akhirnya kami bertiga bareng Yoga mendiskusikan tema apa yang akan menjadi materi di DURIAN kali ini.

Oh iya, DURIAN itu singkatan dari Diskusi Ringan Anak Medan. Ini merupakan salah satu program rutin Blogger Medan setiap bulannya. Siapa pun bisa jadi pemateri di forum ini, “Yang penting bisa berbagi ilmu dan pengalamannya kak, enggak mesti harus seputar blogging,” tutur Yoga si Founder www.komburkali.com yang berusaha meyakinkan ku saat kami mendiskusikan tema materi.

Setelah beberapa kali bersilang pendapat dan gonta-ganti tema, akhirnya kami sepakat mengusung tema “Memulai Gerakan Sosial.” Tema ini disepakati karena Yoga dan Rudi pengen kalau materi yang dibahas nanti merupakan pengetahuan baru bagi teman-teman Blogger Medan. “Oke, sepakat! Kalau seputar ini mah aku sanggup. Aku kali ini,” tegas ku pada mereka dan musyawarah mufakat pun terjadi.

Blogger Medan Durian Binjai

Pagi, tepat pukul 09.00 WIB aku tiba di Stasiun Kereta Api Medan. Di sana tampak gelak tawa teman-teman Blogger Medan pecah. Mereka saling bercanda satu dan lainnya. Yah, begitulah keluarga Blogger Medan, mereka selalu penuh dengan guyon yang selalu bisa buat perut terkocok hebat!

Sambil menunggu keberangkatan kereta pukul 09.30, enggak sah rasanya kalau awal perjalanan ini tidak kami abadikan. Selepas berfoto, kami dijatah tiket oleh dek Dewi, alias pemilik akun @bintangberpuisi dan blog www.bintangberpuisi.com . “Wah, pengalaman pertama liburan sambil belajar bareng teman-teman,” gumam ku dalam hati dan senyum-senyum sendiri.

Foto Bareng di Stasiun Kereta Api Medan

Foto Bareng di Stasiun Kereta Api Medan

Setibanya di Binjai, tepat pukul 10.30. Sebelum menuju Neo Cafe, tempat kami berdiskusi ringan, kami melakukan ritual keluarga Blogger Medan yakni, saling berkenalan satu dan lainnya. “Enggak sah rasanya kalau tak kenalan. Nanti enggak bisa sayang-sayangan, kan tak kenal maka tak sayang,” begitu ungkap Yoga dan sontak canda tawa pecah pada siang itu di taman Stasiun Kereta Api Binjai.

Foto Bareng di Stasiun Kereta Api Binjai

Foto Bareng di Stasiun Kereta Api Binjai

Lalu cerita kami lanjutkan dengan berjalan kaki menuju tempat diskusi. Walaupun terik matahari menyengat pada siang itu, tapi entah mengapa tak membuat mood ini berubah. Banyak hal yang aku dapati sepanjang perjalanan kami.

Pelajaran pertama saat keluar dari gerbang Stasiun Kereta Api Binjai. Terkejut sih iya, karena tidak pernah aku mendapati terminal yang bersih seperti milik Kota Binjai ini. Posisi terminal ini hanya satu meter dari stasiun. “Wow! Bersih kali ya terminal orang ini,” tutur ku kepada Rudi yang saat itu jalan berdampingan bersama ku.

Blogger Medan Durian Binjai

Dari sini aku mendapatkan pelajaran bahwa bersih atau tidaknya lingkungan kota bukan terletak pada fasilitas ataupun peraturan daerah (perda) kotanya. Melainkan bagaimana tingkat kesadaran masyarakatnya bisa terbentuk. Jika “bersih” sudah menjadi budaya bagi masyarakat di suatu kota, sudah pasti fasilitas dan undang-undang cukup berperan sebagai penguat perilaku tersebut. Ini yang belum tertanam dalam budaya warga Kota Medan.

Setelah menikmati pemandangan bersih dan sempat mengabadikannya, aku melanjutkan perjalanan menuju Pusat Kota Binjai. Penemuan kedua ku adalah Tugu Perjuangan 45 milik Kota Binjai. Konon katanya tugu ini dibangun untuk mengenang kejadian perjuangan para pahlawan di era 1945 silam, bahwa peperangan melawan kolonial Belanda tidak hanya terjadi di Kota Medan, melainkan juga terjadi di Kota Binjai.

Tugu Perjuangan 45

Tugu Perjuangan 45

Perjalanan selanjutnya kami menemukan Makam Pahlawan Kota Binjai. Luasnya tidak jauh beda dengan Makam Pahlawan Kota Medan. Begitu pula tugu yang berada di tengah areal pemakaman, persis dengan yang aku lihat di Medan. Aku dan beberapa teman dari Blogger Medan singgah sebentar ke dalam makam hanya sekedar mengabadikan momen tersebut.

Makam Pahlawan Binjai

Makam Pahlawan Binjai

Kurang lebih 80 meter dari makam, kami tiba di Neo Cafe. Sembari teman-teman penyelenggara mempersiapkan media presentasi, aku beristirahat sebenter di pojok samping cafe sambil menikmati pemandangan sungai Kota Binjai. “Wah! Emanglah Binjai ini, enggak lingkungan kotanya saja yang bersih. Ini sungai juga bersih. Enggak ada sampah yang mengambang atau pun tertimbun di pinggir sungai,” gumam ku kembali berdecak kagum.

“Kak, kita mulai yok?” panggilan Yuha menyadarkan lamunan ku saat itu. Jujur saja, ini kali pertamanya aku sedikit gugup untuk memulai presentasi. Ehehe, yang dibenak ku saat itu adalah mereka orang-orang yang memiliki pengetahuan lebih luas dari aku. Tapi seketika pemikiran itu aku hilangkan, karena aku yakin tidak ada ilmu yang sia-sia. “Bisa saja mereka tahu banyak, tapi mungkin mereka punya pengalaman yang berbeda dari aku dan ini yang harus aku bagi,” gumam ini yang meyakinkan ku kembali.

::MATERI DURIAN JURUSAN BINJAI::

Memulai Gerakan Sosial

Memulai Gerakan Sosial

Memulai Gerakan Sosial

Memulai Gerakan Sosial

Memulai Gerakan Sosial

Memulai Gerakan Sosial

Memulai Gerakan Sosial

Memulai Gerakan Sosial

Memulai Gerakan Sosial

Memulai Gerakan Sosial

Memulai Gerakan Sosial

Memulai Gerakan Sosial

20 menit berlalu aku memaparkan materi dan detik-detik menegangkan terjadi lagi. “Hmmm, ada enggak ya yang nanyak? Kalau enggak ada, gawat neh. Berarti aku gagal neh presentasinya,” ucap ku dalam hati penuh was-was, hehehe.

Dan akhirnya ada yang bertanya dari sisi kiri ku. “Kak, bagaimana merubah pemikiran orang kalau pergerakan yang kita lakukan itu enggak sia-sia. Karena ada beberapa orang yang berpendapat bahwa buat pergerakan tapi yah tetap gitu-gitu juga kotanya, enggak akan berubah,” ungkap Lily membuka pertanyaan di siang itu.

Bagiku tidak ada pergerakan yang sia-sia, sekalipun sederhana. Sebab, tidak banyak orang yang secara sukarela mau membuat pergerakan dan mau menyisihkan waktunya hanya untuk memikirkan kepentingan orang banyak.

“Jadi, sekalipun pergerakan yang kita lakukan belum membuahkan perubahan bagi lingkungan, maka jangan kecewa. Karena sekalipun tidak berhujung pada perubahan, paling tidak sejarah telah mencatat kita sebagai bagian dalam agen perubahan di Kota Medan,” ujar ku meyakinkan Lily, si gadis imut bertubuh semok itu.

Pertanyaan kedua datang dari sisi kanan ku. “Kak, apa yang membuat kakak memilih untuk melakukan pergerakan sosial? Padahal kan usia seperti kakak lebih memilih untuk menjadi wanita karir. Kek begini kan enggak ada duitnya,” tanya Funy pada ku sedikit ekstrim.

Bagiku pekerjaan adalah bagaimana aku melakukan sesuatu sesuai passion. Berkegiatan sosial adalah jalan hidup yang aku pilih. Pekerjaan yang menjanjikan gaji besar dan kehidupan sejahtera saja berani aku tinggalkan. Sebab, mengerjakan sesuatu bukan nominal yang dilihat melainkan tulus tidaknya aku menjalankan pekerjaan itu.

Berkegiatan sosial merupakan media bagiku untuk menebar kebaikan. “Setiap apa yang kita lakukan untuk kebaikan dan dilakukan untuk kepentingan orang banyak, sekalipun itu tidak ada uangnya. Insha Allah, akan ada rezeki dari arah berbeda yang telah Allah siapkan buat ku. Itulah keyakinan ku dan itu selalu terjadi dalam hidup ku,” tutup ku mengakhiri jawaban atas pertanyaan Funy.

Pertanyaan ketiga masih datang dari arah kanan ku. “Dari tadi yang kakak menyampaikan kalau sociopreunership itu adalah dimana kita menciptakan suatu peluang pemberdayaan masyarakat sehingga terbentuk koperasi. Bagaimana dengan kita cari tahu terlebih dahulu apa yang menjadi kebutuhan masyarakat, baru dikembangkan. Mana yang benar?” ujar seorang wanita hijab pemilik nama Putri Rizki Ardhina.

Bagiku menciptakan peluang usaha ataupun mencari tahu terlebih dahulu kebutuhan apa yang menjadi prioritas dalam suatu perekonomian masyarakat, itu sama-sama benar. Tinggal bagaimana kita bisa memberdayakan masyarakat tersebut untuk saling sinergi membangun perekonomian daerahnya sehingga memiliki koperasi sendiri. “Dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat” mungkin selogan ini yang bisa menggambarkan makna sociopreunership.

Dan pertanyaan terakhir di siang itu datang dari Yuha, si Founder @CakCobak. “Kak, bagaimana tips untuk supaya kita tetap konsisten dengan pergerakan sosial. Jadi pengalaman ku itu, dulu aku aktif di salah satu isu lingkungan yang menyuarakan untuk menggunakan kantong kertas dan mengurangi kantong plastik. Tapi yah kakak lihat saja sekarang. Enggak ada satupun masyarakat Kota Medan yang tergerak untuk menggunakannya. Dan itu sulit sekali. Mungkin juga ini terjadi di beberapa kota lainnya. Itu gimana kak?” tanyanya penuh penasaran.

Bagiku bergerak bukan soal harus terjadi perubahan, melainkan bagaimana kita bisa melakukan terus pergerakan itu dan menularkannya pada orang-orang di sekeliling kita. Kemudian lihat lagi tujuan dari pergerakan itu, jika tujuannya 10 tapi pergerakannya cuma 2, maka wajar saja kalau perubahan masih jauh di depan mata. Karena orang di luar sana yang berhasil membangun pergerakannya, pasti ada cerita pahit dan berdarah di balik kesuksesannya.

Permasalahan lingkungan, khususnya limbah non-organik bukan lagi isu yang tabu. Bahkan sangat banyak komunitas lingkungan yang terbentuk di seluruh penjuru Indonesia ini dan tidak semuanya juga yang gagal. “Jika kamu menggunakan cara konvensional yakni, dengan mengajak masyarakat menggunakan kantong kertas. Kenapa tidak kamu menggunakan cara yang melawan arus yakni, dengan cara mendaur ulang limbah-limbahnya. Yah, lebih ke pergerakan budidaya sampah di hilir yakni, Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA). Aku bisa berargumen seperti ini karena ini sudah dilakukan teman ku di Jakarta dan itu berhasil. Bahkan banyak bantuan datang dari luar negeri sehingga anak-anak yang tinggal di sekitaran TPA tak perlu mulung lagi dan bisa bersekolah. Semua ini terjadi hanya karena budidaya sampah. Permasalahan lingkungan selesai, masyarakatnya terbedaya,” papar ku berbagi pengalaman padanya.

Semua pergerakan kembali pada agen atau penggiat pergerakan itu. Mereka harus satu visi dan misi, merancang tujuan, mempelajari karakter masyarakat di daerahnya, dan yang pasti buatlah pergerakkan yang kreatif agar memudahkan kita untuk menularkan isu yang ingin disampaikan. “Jika sasarannya anak muda, maka gunakan cara yang di sukai anak muda,” begitu tegas ku mengakhiri jawaban Yuha, dan sekaligus menutup DURIAN siang itu

Blogger Medan Durian Binjai

Wow! Satu kata menggambarkan DURIAN siang itu. Terima kasih untuk bang Adin yang sudah membatalkan jadwalnya dan terima kasih juga untuk dek Rudi yang sudah mempercayakan aku menjadi penggantinya. Pengalaman ini akan menjadi bagian dari cerita perjalanan ku kelak, dan akan selalu ku ingat Ada Cerita Blogger Medan Jurusan Binjai.

4 Comments
  1. Rudi Hartoyo
    • Rizky Nasution
  2. ramli muhamad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *