Cara Bersyukur Terhindar Dari Pendusta Kenikmatan

Sinar mentari yang cerah dan hampir menyengat kulit, begitu akrab mengiringi langkah kaki ku menelusuri jalan menuju pintu utama Pusat Pasar pada pagi itu. Pusat Pasar yang banyak dikenal dengan sebutan Pajak Sentral oleh masyarakat Kota Medan, merupakan pasar tertua yang sudah berdiri sejak tahun 1932.

Pintu Utama Pusat Pasar

Pintu Utama Pusat Pasar

Pusat Pasar yang diusulkan pembangunannya pada tanggal 29 April 1929 ini, mulai dibangun pada 2 April 1931. Namun, berdasarkan sumber Wikipedia, pembangunan diselesaikan pada 21 Desember 1932 dan mulai beroperasi pada 1 Maret 1933.

Berarti jika dikira-kira bangunan ini sudah berusia kurang lebih 84 tahun. Kalau dikaitkan dengan syarat kategori heritage berarti Pusat Pasar sudah termasuk heritage Kota Medan. Pusat Pasar juga salah satu cagar budaya yang dilindungi Pemerintahan Kota Medan. Sebab, keberadaan Pusat Pasar konon katanya dikarenakan perekonomian yang letaknya di Pusat Kota Medan.

Begitulah sekilas sejarah singkat keberadaan Pusat Pasar yang terbersit diingatan ku saat menyusuri jalanan pasar yang sedikit basah akibat sisa hujan pada pagi itu. Tangga demi tangga aku tapaki hingga aku tiba di lantai tiga pasar ini. Bercak-bercak basah dari keringat ku, sesaat membuat gerah tubuh ini. Tapi aku yakin, peluh ku akan terbayar bersamaan dengan siapa yang aku temui nanti di sudut lantai tiga Pusat Pasar ini.

Akhirnya langkah ku berhenti di jajaran kios-kios bisu di sudut lantai tiga tersebut. Ya, hanya kios usaha menjahit Larisma yang buka di blok itu. Tampak para wanita berparas kotak sedang asyik menggenjot mesin jahitnya sambil mengulur-ngulur kain jahitannya. “Mereka benar-benar tekun,” detak ku dalam hati.

Terlihat dari pojok kanan kios seorang lelaki berbadan tegap dan kurang lebih berumur 40 tahun ini berjalan perlahan menghampiri ku. “Halo, mau jahit?” tuturnya berbicara sedikit gagap sambil mengisyaratkan maksud dengan gerakan tangannya. Ya, beliau seorang tuna rungu.

Foto Bersama Keluarga Bapak Markus Haloho

Foto Bersama Keluarga Bapak Markus Haloho

“Halo bapak, saya tidak ingin menjahit. Ini saya kemari bersama teman-teman dari TVRI ingin meliput aktifitas bapak dan ibu,” sahut ku membalas pertanyaan beliau yang sangat santun dan ramah secara tutur. Sontak ia memanggil istrinya dengan bersemangat, meskipun sedikit terbata-bata.

Istrinya melangkah gontai menghampiri ku dan berkata,”Halo mba, nama saya Magdalena. Saya istri Pak Markus.” Masya Allah, ternyata istrinya pun juga seorang tuna rungu. “Mereka benar-benar narasumber spesial ku hari ini,” ucap ku dalam hati sembari bersyukur.

Di satu sisi, memang aku merasa kesulitan untuk mewawancarai mereka. Tapi, sisi lain rasa haru bercampur syukur membelenggu jiwa dan fikiran ku. “Nikmat Allah mana lagi yang bisa aku dustakan? Allah memang Maha Tahu dan Maha Bijak menitipkan pesan kepada ku,” ucap syukur ku yang tiada henti.

Ingin rasanya meneteskan air mata, namun itu tak layak bagi ku. Tidak seharusnya mereka ditangisi, tapi sudah sepatutnya aku bangga pada mereka. Pernah tidak terfikir oleh kita bahwa hidup ini bukan tentang siapa yang paling berpengaruh dan siapa yang paling dipandang. Melainkan, tentang siapa yang mampu bertahan dan bersyukur di balik keterbatasannya. Ya, aku melihat hal itu pada pasangan tuna rungu ini. Kekayaan hati adalah hal utama bagi mereka, sebab bagi mereka membuat orang lain sukses itu adalah rezeki yang tiada nilainya dibanding harta benda.

“Pegawai saya tuna rungu juga. Orang-orang seperti kami ini kurang diberi ruang untuk bekerja. Kalau bukan saya dan suami, siapa lagi yang bisa membina mereka. Mereka mau makan apa? Kami tidak ingin mereka meminta-minta,” ungkapan tulus dari Bu Magdalena yang sedikit terbata-bata saat menjelaskannya pada ku.

Masya Allah, siapa pun mereka. Meskipun keyakinan kami berbeda, tapi aku sadar kalau Allah sedang menitipkan suatu hidayah yang harus aku ambil hikmahnya dari kehidupan mereka hari ini.  Iqra’ bismi rabbikal ladzi khalaq : bacalah dengan menyebut nama Tuhan mu yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

Ya, hari ini aku berdiri dan memandangnya tanpa henti sembari terngiang-ngiang, “Masya Allah, Maha Besar Kekuasaan-Mu Ya Rabb. Apalagi yang harus aku sesali dengan keterbatasan ku. Bahkan, tidak sampai pada 3 nikmat yang Kau ambil dari hidup ku. Namun, aku masih saja mengeluh.”

Begitulah hidup. Masih banyak di antara kita yang mengeluh pada hal-hal sederhana. Tapi, kita tak pernah tahu, bahkan banyak di luar sana orang dengan segudang keterbatasan sedang mati-matian bertahan melanjutkan hidup mereka.

Bagaimana lagi dengan kita yang sudah sombong dengan ketenaran dan kejayaan yang dimiliki saat ini? Padahal masih ada mereka yang mampu berbuat lebih dengan keterbatasannya. Maka, cukupkan sombong itu, cobalah melangkah ke tempat-tempat yang tak pernah kita jamah dan bersinggunganlah dengan mereka.

Bisa saja, diri ini akan merasa tidak ada apa-apanya daripada perjuangan mereka, kaum difabel. Ya, aku merasakan itu hari ini. Fabbiayi ala irabbikuma tukadziban : Maka nikmat Tuhan mu yang manakah yang kamu dustakan.

Seketika lamunan ku hilang dan aku tersadar, “Mba, mau minum apa?” tanya Pak Markus menawarkan ku. “Teh manis hangat saja Pak,” jawab ku. Lalu, ia melangkah ke arah kantin yang berada 10 meter dari kios usaha menjahit Larisma.

“Yuk Ky, kita mulai shooting,” sahut Kak Ranggi bergegas mempersiapkan alat rekam dihadapannya. Meskipun cuaca di pagi itu sedikit membuat ku gerah, tapi semangat ku tak kalah olehnya. Ya, semangat karena Allah yang baru saja aku hikmahi dari tontonan nyata di hadapan ku ini.

“Saya menjadi tuna rungu semenjak usia 1 tahun dikarenakan sakit demam tinggi yang berkepanjangan. Hingga usia dewasa, saya belajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) Marina di Pasar Merah. Di sana saya belajar nulis, membaca, bicara dan juga kursus menjahit. Setamat sekolah, saya pulang kampung dan mencoba memulai buka kursus jahit di sana. Saya saat ini sudah mulai bisa perlahan berbicara sedikit demi sedikit berkat bantuan alat pendengaran yang dikasih pihak sekolah dulu. Sudah sepuluh tahun saya mengembangkan usaha menjahit Larisma ini. Saya memilih pindah ke Medan karena saya ingin lebih maju dan membantu teman-teman difabel untuk bisa memiliki keahlian dan penghasilan. Saya juga sempat mempekerjakan dua orang normal, dan saat ini mereka sudah punya usaha menjahit sendiri. Saya ketemu suami saat bersekolah di Medan. Kami punya lima orang anak, yang tiga normal dan dua lagi tuna rungu juga. Putri sulung saya namanya Nasia, berusia 17 tahun. Adiknya, anak ke empat saya bernama Bosco, berusia 12 tahun dan juga seorang tuna rungu. Mereka begitu dikarenakan demam tinggi dan sakit kepala yang berkepanjangan. Jadi, tuna rungu bukan karena genetik (turunan), melainkan dikarenakan fungsi saraf yang terganggung, bisa saja karena sakit yang berkepanjangan. Meskipun begitu, anak-anak saya juga tak patah arang. Sehari-hari mereka ikut saya dan suami mengelola usaha ini,” begitulah papar Bu Magdalena dengan santai menjawab pertanyaan-pertanyaan yang aku lontarkan saat shooting kemarin, 3 Desember 2015.

Shooting yang berlangsung kurang lebih empat jam itu memang terasa melelahkan. Ada 3 scence yang harus mengulang hingga 3 kali take. Sampai-sampai aku membuat Kak Ranggi ngomel panjang lebar. Haha, itulah warnanya saat melakoni peran sebagai presenter televisi. Terlihat sederhana, tapi saat diperankan tetap saja ada sedikit kesulitan. Ya, kesulitan saat merangkai kata-kata yang tepat; informatif dan inspiratif.

Namun, celotehan itu tidak aku masukkan ke dalam hati. Karena aku sadar, begitulah karakter Kak Ranggi dalam memdidik pelakon baru seperti aku ini. Lelah pun terbayar dengan pengalaman yang aku rasakan saat itu. Pengalaman yang tak kalah mahal dengan upah kerja yang nantinya aku terima. Inilah pekerjaan yang aku dambakan. Melakukan sesuatu tanpa beban, tapi sarat makna dan bermanfaat.

“Mba Rizky, minum dulu ini,” sahut Pak Markus dari seberang kios sambil menghidangkan teh manis hangat dan dingin, serta buah segar berwarna-warni. Seketika air liur mulai memadati rongga mulut ku. “Aahh, pas sekali ini. Pasti segar,” gumam ku dalam hati.

Seteguk, tiga teguk perlahan aku menyeruput sambil sedikit demi sedikit menghembus teh yang hangat-hangat kuku. Tanpa menunggu waktu lama, pengikat plastik yang berisikan buah segar warna-warni pun aku buka dengan segera. “Wah seger, terima kasih ya Pak Markus dan Bu Magdalena. Yuk, kak.. bang.. enak nih,” ucap ku pada mereka yang sedang sibuk merapikan perlengkapan shooting.

Saat sedang asyik menikmati buah segar, tiba-tiba mata ku tertuju pada seorang gadis muda berbaju biru muda di pojok kios. Tampaknya ia sedang asyik bercengkrama dengan seorang teman sekerjanya yang kurang lebih terpaut usia yang tak jauh dari dirinya. Ya, sudah tentu mereka berkomunikasi tanpa suara. Menggunakan bahasa isyarat dan sambil bertawa canda. Terlihat begitu bahagia.

Rasa penasaran ini merajai fikiran ku. Pincuk buah pun aku tusukkan di plastik buah yang masih terbuka. Perlahan aku mencoba mendekati mereka. “ Hai, nama aku Rizky. Kamu siapa?” tanya ku patah-patah dengan intonasi yang sedikit tinggi. “Nama ku, Nasia,” balasnya.

Nasia, 17 Tahun. Gadis Sulung Pasangan Bu Magdalena & Bapak Markus Haloho

Nasia, 17 Tahun. Gadis Sulung Pasangan Bu Magdalena & Bapak Markus Haloho

“Oh ini Nasia. Anak sulung pasangan Bu Magdalena dan Pak Markus Haloho yang tadi mereka ceritakan itu,” gumam ku sambil mengangguk. Lalu, aku mengatakan dia cantik. Dia pun tersipu malu dan mengucapkan terima kasih. Nasia adalah gadis belia yang hanya mengecam bangku pendidikan hingga Sekolah Dasar (SD) saja. Meskipun begitu, dia tetap memiliki cita-cita yang mulia.

“Aku ingin menjadi penjahit seperti ibu dan bapak ku. Aku ingin seperti mereka yang selalu menolong orang lain. meskipun aku memiliki keterbatasan, tapi mereka sangat sayang dan sabar mendidik ku. Adik-adik ku juga tak malu mempunyai sodara dan orang tua seperti kami. Jika ibu dan bapak hanya menjadi tukang jahit di sini, aku punya mimpi ingin menjadi lebih dari mereka. Menjadi tukang jahit yang terkenal agar lebih banyak lagi teman-teman seperti ku terbantu,” ujarnya sambil tersenyum dan penuh rasa optimis.

Oh, Ya Rabb… begitu mulianya ciptaan-Mu ini. Seorang gadis yang begitu cantik dan ceria ini, justru tak patah arang untuk menaruhkan impiannya setinggi langit. Padahal di luar sana, masih banyak anak muda yang menyiakan waktunya dengan beragam aktifitas yang tak bermanfaat. Bahkan tak sedikit pula dari mereka hanya pandai mengeluh dan mengeluh pada apa yang tidak bisa mereka capai, padahal mereka telah Kau anugerahkan begitu banyak nikmat kesempurnaan.

Terkadang kita masih saja mengeluh akan nikmat yang telah Allah anugerahkan dalam hidup ini. Sekalipun kita tahu kalau tubuh ini telah diciptakan sempurna. Tahukah kita? Al-Qur’an telah jelas mengatakan bahwa tidak ada makhluk yang sempurna, karena setiap makhluk memiliki kekurangan dan kelebihan.

Tapi, ingatlah satu hal kawan bahwa ciptaan Allah Maha Sempurna. Bahkan robot sekalipun tak ada yang mampu menandingi kapasitasi otak manusia. Bukankah ini berarti Allah sedang mengatakan kepada kita, “Hai hamba-Ku, sekalipun kau tidak terlahir sempurna, maka sempurnakanlah diri mu dengan nikmat kelebihan yang telah Aku titipkan pada diri mu.”

Fabbiayyi ala irabbikuma tukadziban. Ya, nikmat Allah yang mana yang bisa kita dustakan kawan? Sudah sangat jelas firman-Nya, tak ada satu pun ciptaan-Nya yang sia-sia dalam hidup ini. Itu pun jika kita pandai bersyukur dan mau berfikir.

Hari ini aku menceritakan pengalaman ini bukan semata-mata kalian harus meneteskan air mata. Tak pula untuk mengharapkan pujian dari para pembaca. Tapi harapan ku, semoga melalui tulisan ini akan banyak orang yang sadar dan mau merubah bahwa mengeluh bukan solusi untuk kita maju. Namun, bersyukurlah atas apa yang telah Allah anugerahkan pada diri kita. Cari potensi diri, kembangkan, dan terus berprestasi.

Jangan pernah memandang sebelah mata pada kaum difabel ataupun penyandang disabilitas. Disabilitas bukan halangan untuk berkarya dan berprestasi.

Foto Bersama Karyawan Usaha Menjahit Larisma

Foto Bersama Karyawan Usaha Menjahit Larisma

Demikian tulisan Cara Bersyukur Terhindar Dari Pendusta Kenikmatan ini, semoga dapat memberi inspirasi bagi para pembaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *