Digidoy : Industri Kreatif Digital Komik Khas Medan

Waktu ke waktu terus bergulir, zaman semakin berkembang, dan perekonomian dunia pun semakin pesat menjadikan para pebisnis terus memikirkan inovasi apalagi yang harus dibuat dan produk apalagi yang akan diciptakan untuk memikat pasar dunia.

Ternyata semakin berkembangnya perekonomian dunia, menuntut Indonesia untuk turut berkembang juga pada sektor bisnis. Seperti yang kita ketahui gelombang pertama perekonomian Indonesia  adalah era pertanian, berikutnya era industri, dan kemudian disusul era informasi. Namun, prediksi tidak terhenti sampai di era informasi. Siapa sangka ternyata saat ini Indonesia masuk pada era kreatif.

Digidoy : Industri Kreatif Digital Komik Khas Medan

Digidoy : Industri Kreatif Digital Komik Khas Medan

Era kreatif ditandai dengan berkembangnya industri kreatif yang menggunakan ide dan keterampilan individu sebagai modal utama, sehingga industri kreatif tak lagi sepenuhnya mengandalkan modal besar dan mesin produksi. Dalam buku karangan John Howkins “The Creative Economy,” mengatakan bahwa orang-orang yang memiliki ide akan lebih kuat dibandingkan orang-orang yang bekerja dengan mesin produksi, atau bahkan pemilik mesin itu sendiri.

Industri kreatif berawal pada tahun 1990 di Inggris. Pada masa pencalonan perdana menteri Tony Blair dan New Labour Party, mereka menawarkan industri kreatif sebagai solusi atas terpuruknya perekonomian Inggris pada masa itu. setelah terpilih pada tahu 1997, mereka mulai mensosialisasikan industri kreatif melalui Departement of Culture, Media and Sports (DCMS) dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kontribusi industri kreatif terhadap perekonomian Inggris. Akhirnya, di tahun 1998 mereka melakukan pemetaan pertama industri kreatif.

Tidak hanya negara Inggris, saat ini Korea juga sudah mulai menguasai pasar dunia melalui konsep perekonomian industri kreatif. Hal ini yang membuat pemerintahan negara Indonesia mulai melirik dan peduli akan perekonomian industri kreatif. Apalagi Indonesia memiliki banyak kekayaan, tidak hanya kekayaan alam melainkan juga kekayaan adat istiadat dan budaya, yang mana tidak dimiliki oleh negara lain. “Ini adalah peluang yang bisa kita manfaaatkan untuk menguasai pasar industri kreatif dunia,” ungkap Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Ibu Mari Elka Pangestu dalam liputannya di salah satu televisi swasta, Januari kemarin.

Sedangkan di Indonesia industri kreatif sudah diterapkan pada 1998. Pada saat itu industri kreatif telah menyelamatkan krisis moneter di Indonesia melalui peran Usaha Kecil Menengah (UKM).  Kemudian pemerintah melakukan pemetaan tahun 2007 dan menunjukkan hasil yang cukup signifikan terhadap perekonomian Indonesia.

Akhirnya, pada 18 Oktober 2011, Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono merubah fungsi Kementerian Pariwisata dan Budaya menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Hingga sampai pada kepemimpinan Presiden Jokowi Dodo, sektor industri kreatif menjadi sorotan utama dalam mengembangkan perekonomian Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa negara Indonesia semakin serius mengembangkan sektor industri kreatifnya.

Digidoy : Industri Kreatif Digital Komik Khas Medan

Industri kreatif adalah industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan, serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan melalui penciptaan dan pemanfaatan daya kreasi dan daya cipta individu tersebut.

Dari definisi tersebut, kemudian dibagi ke dalam 14 subsektor industri kreatif diantaranya :

  1. Periklanan: jasa periklanan, termasuk produksi material iklan, kampanye relasi publik, dll.
  2. Arsitektur: berkaitan dengan jasa desain bangunan, perencanaan biaya konstruksi, dll.
  3. Pasar barang seni: perdagangan barang-barang asli, unik, dan langka lewat galeri, lelang, dll.
  4. Kerajinan: berkaitan dengan kreasi produk dari tenaga pengrajin yang tidak diproduksi massal.
  5. Desain: terkait dengan kreasi desain grafis, desain interior, desain produk, desain industri, dll.
  6. Fashion: terkait dengan kreasi desain pakaian, desain alas kaki, dan aksesori mode lainnya.
  7. Video, film, dan fotografi: produksi video, film, dan jasa fotografi, termasuk proses distribusi.
  8. Permainan interaktif: kreasi permainan komputer dan video yang bersifat hiburan, edukasi, dll.
  9. Musik: kreasi/komposisi, pertunjukan, reproduksi, dan distribusi rekaman suara.
  10. Seni pertunjukan: konten produksi pertunjukan, misal opera, musik teater, drama, tarian, dll.
  11. Penerbitan dan percetakan: penulisan konten dan penerbitan buku, majalah, koran, jurnal, dll.
  12. Layanan komputer dan piranti lunak: layanan komputer, olah data, piranti lunak, dll.
  13. Televisi dan radio: kreasi konten acara, transmisi konten, station relay, dll.
  14. Riset dan pengembangan: penemuan dan penerapan ilmu dan teknologi.

Melihat dari perkembangan industri kreatif yang sudah dijabarkan di atas dan melihat subsektornya, ternyata hal ini juga terjadi di Kota Medan. Semakin tahun semakin banyak para anak muda Kota Medan yang tertarik menggeluti sektor industri kreatif sebagai lahan bisnis, mulai dari bisnis kuliner, percetakan, fashion, informasi, dan akhirnya sekarang lebih dominan pada sektor video, film, fotografi, dan desain.

Berbicara tentang subsektor desain dalam industri kreatif, saya tertarik dengan salah satu kelompok anak muda yang satu ini. Mereka adalah para komikus yang tergolong sangat baru di Kota Medan. Akan tetapi, karya-karya mereka sudah mendapat tempat di hati masyarakat Kota Medan dan ini patut diacungi jempol. Siapa lagi kalau bukan Digidoy Komik (www.digidoy.com), komik strip karya asli anak medan dengan gaya bahasa “medan kali.”

Komik Digidoy, Digital Komik Khas Medan

Digidoy Komik, Digital Komik Khas Medan

“Berdiri sejak Maret 2014, tapi tentative tanggalnya kak,” begitu ungkap Dody Pratama selaku Founder sekaligus komikus Digidoy. Komik ini terlahir atas dasar pemikiran ingin me-Medan-kan dunia. “Nah, karena aku jagonya buat komik dan Arif jagonya di digital. Akhirnya, kami mikirlah untuk buat satu karya yang bisa mengangkat nama Medan melalui karya sederhana namun bisa membawa perubahan yang berarti,” ungkap Dody lagi, begitu kerabat akrab memanggilnya.

Asal muasal nama komik Digidoy dari pengambilan nama karakter yang ada di komik ini, yaitu Digi dan Doy. “Kemarin sih mikirnya simpel. Karakter pertama yang ada kan si Digi, itu telor alien itu dan si Doy, sahabat Digi di bumi,” ungkap M. Arif Siregar yang juga merupakan Founder sekaligus CEO Digidoy. Namun, sekarang karakter Digidoy bertambah menjadi empat karakter dengan kehadiran Bang Dev dan Coki.

Digi dan Doy

 

Digidoy Karakter

Digidoy Karakter

Dari artikel yang saya baca dikatakan bahwa di dalam industri kreatif, kreatifitas memegang peranan sentral sebagai sumber daya utama. Industri kreatif lebih banyak membutuhkan sumber daya kreatif yang berasal dari kreatifitas manusia daripada sumber daya fisik. Namun demikian, sumber daya fisik tetap diperlukan terutama dalam peranannya sebagai media kreatif.

Menurut saya mereka cukup pandai membaca peluang ini, sebab tidak banyak pengusaha muda di Kota Medan yang memikirkan konten kreatif sebagai modal dalam membangun suatu usaha. Dengan Dody yang memiliki latar belakang seorang komikus dan Arif sebagai seorang digital specialist, membuat mereka mampu memanfaatkan sumber daya kreatif yang dimiliki sebagai modal dalam persaingan industri kreatif.

Digital Komik Khas Medan

Digital Komik Khas Medan

Komik bukanlah usaha yang baru lagi di pasar desain grafis. Namun, komik merupakan usaha yang sangat murah, mudah, dan diminati oleh semua kalangan. Seperti yang kita tahu, dahulu komik dominan kalau tidak dibukukan, yah difilmkan. Tapi di tangan Arif dan Dody, publikasi komik Digidoy hanya membutuhkan publikasi online dalam proses distribusi produknya. Namun, dampak yang didapat sangatlah besar. Hal ini dapat terlihat dari total follower akun Digidoy di social media. Padahal mereka baru saja satu tahun berjalan, namun sudah memiliki follower Twitter sebanyak 782, Instagram 10.7K, dan Facebook 30.000 like.

“Pendistribusian via online sebenarnya bertujuan untuk meningkatkan eksistensi Digidoy saja, baik dari segi publikasi, tolak ukur keberhasilan, dan feedback sebagai perbaikan komik kami,” ungkap Arif menegaskan alasannya memilih social media sebagai distribusi produk.

Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan Digidoy ingin menjawab tantangan kalau komik juga mampu bersaing di era Industri Kreatif Digital. Salah satu strategi digital marketing mereka pun memanfaatkan para pengusaha online yakni, Punya Medan, Teri Bajak Medan, dan Cerita Medan. Trik yang digunakan dengan cara membuat cerita dimana tokoh sebagai karakter utama dalam cerita, namun pesan yang ingin disampaikan tetap mengena karakter asli si tokoh, bukan fiksi.

Komik Strip : Karakter Punya Medan

Komik Strip : Karakter Punya Medan

Komik Strip : Karakter Teri Bajak Medan

Komik Strip : Karakter Teri Bajak Medan

Komik Strip : Karakter Cerita Medan

Komik Strip : Karakter Cerita Medan

Selain itu, kenapa saya mengatakan mereka ini adalah anak-anak muda kreatif di Kota Medan, karena mereka berhasil mengenalkan gaya bahasa dan juga logat Medan serta isu-isu terkini yang berkembang di Kota Medan. Sehingga, para pembaca mendapatkan informasi seputar trend di Kota Medan. Jadi, wajar saja jika visi Digidoy adalah ingin me-Medan-kan dunia.

Digidoy : Industri Kreatif Digital Komik Khas Medan

“Pada tahun 1960-an, pusat perkomikan Indonesia justru berada di Medan. Saat itu Taguan Hardjo dan Zam Nuldyn menjadi komikus yang amat disukai masyarakat. Mereka hadir dengan cirinya masing-masing. Dan komik itu dikenal dengan sebutan Komik Medan” ungkap Arif, lelaki bercelana pendek itu.

Alasan inilah yang membuat mereka optimis bisa mengangkat Medan dan dikenal dunia. Dengan sedikit polesan kreatifitas dengan karakter-karakter yang ada di cerita dan menciptakan Digi sebagai karakter fiksi. “Jika di Jepang karakter fiksi mereka adalah Doraemon. Nah, kalau di Medan yah si Digi ini. Dimana Doraemon memiliki ciri khas kental dengan kantong ajaibnya sehingga filosofi ini dingat dan menjadi minat para pembaca di Jepang. Nah, kami ingin si Digi juga begitu. Si karakter fiksi yang me-Medan-kan dunia,” ungkap Arif di sela-sela Meet and Great dalam 1th Anniversary Digidoy Komik.

Personil di Balik Komik Digidoy

Personil di Balik Digidoy Komik

Debut kesuksesan Digidoy Komik pun tampak pada perhelatan 1th Anniversary mereka yang diselenggarakan pada 7 Juni 2015 kemarin di Sun Plaza Medan, lantai G, zona C. Perhelatan ini berupa Meet and Great, Workshop, Lomba Komik Strip, dan Lomba Blog.

Jumpa Tengah Bersama Digidoy Komik

Jumpa Tengah Bersama Digidoy Komik

Lebih dari 100 pengunjung memadati event yang sangat langka diselenggarakan ini. Melalui event ini para founder berharap bisa lebih dekat lagi dengan para penikmat komik dan juga sebagai ajang sosialisasi serta mengajak para komikus Medan untuk membangkitkan kembali kejayaan Komik Medan yang sempat besar pada zamannya.

Kemeriahan Acara Jumpa Tengah Bersama Digidoy Komik

Kemeriahan Acara Jumpa Tengah Bersama Digidoy Komik

 

Digidoy di Mata Anak Muda Kota Medan

“Aku sudah kenal Dody Pratama yang merupakan salah satu Founder Digidoy Komik dari sejak kuliah dulu, kebetulan kami satu kampus. Menurutku Digidoy itu komik yang lucu, unik, anak Medan kalilah pokoknya. Selain itu juga cerita-ceritanya up to date. Apa yang jadi tranding topic di masyarakat Medan, Digidoy memvisualisasikannya dengan nuansa cerita kreatif nan lucu melalui komik stripnya. Disamping itu, mereka juga mampu memperkenalkan budaya anak Medan dan logatnya melalui komik stripnya. Yah, banyak kali nasehat tersirat yang bisa kita petik dari ceritanya,” ungkap gadis hijab yang paling memfavoritkan karakter Digi, Doy, dan Coki ini.

Famita Destyana Utari, Penggiat Sosial

Famita Destyana Utari, Penggiat Sosial

“Komiknya keren. Gambarnya oke. Tapi masih ada yang kurang sih.. seperti ceritanya masih standar menurutku. Lebih di explore lagi kalau bisa, hehehe. Kedepannya kalau bisa support kegiatan komunitas. Yah semacam angkat kegiatan komunitas ke ceritanya Digidoy atau buat narasi singkat buat ajakannya. Jadi, e-flyer kegiatan Medan kedepannya bisa dalam bentuk komik.,” tutur Irvan Deriza yang mengaku pertama kali mengenal Digidoy Komik dari temannya, Bang Alit.

Irvan Deriza, Announcer

Irvan Deriza, Announcer

“Digidoy itu membawa keunikan akan karakter warga Medan. Dari cara bicaranya ditambah lagi dengan adanya icon-icon Kota Medan yang ada di dalam komik. Digidoy ini bagus untuk memperkenalkan Kota Medan dengan cara yang berbeda. Alangkah bagusnya kalau Digidoy juga mengangkat unsur budaya dan tradisi yang ada di Sumatera Utara, lebih terutama Kota Medan,” papar Din Afriansyah yang dahulu mengenal Digidoy Komik pada saat ia bekerja sebagai Digital Agency dan sering memantau trend Kota Medan melalui social media.

Din Afriansyah, Digital Media Consultan

Din Afriansyah, Digital Media Consultan

“Hm..aku sih kenal Dody emang udah lama, sejak kuliah dulu. Emang dari dulu dia udah punya wacana pengen bikin komik khas Medan dan ngumpulin para komikus asli Medan. Jadi, orang-orang berbakat di Medan enggak pada kabur ke Jawa deh! Digidoy Komik sih bagus kali, candaannya pas buat orang Medan. Harapannya, semoga komiknya bisa dibuat atraktif. Dibuat video gitu. Karakter favoritku yah si Doy, hahaha..,” lugas Kartika Sari A. yang mendoakan Digidoy Komik agar tercapai visinya.

Kartika Sari A., Sketcher

Kartika Sari A., Sketcher

 

Salah Satu Penggemar Digidoy dari Pulau Jawa

Digidoy tidak hanya memiliki penggemar di dalam kota saja, bahkan mereka memiliki penggemar dari Pulau Jawa yakni, dari Kota Bandung. Saat menerima chat di whatsapp saya pada Februari 2015 kemarin, saya sangat terkejut dan sedikit tidak menyangka,”Ternyata Digidoy sudah segini hebat debutnya di social media. Sehingga baru satu tahun berjalan sudah mencuri perhatian temanku ini,” gerutuku dalam hati.

Digital Komik Khas Medan

Berikut komentar salah satu penggemar Digidoy Komik dari Bandung tentang komik strip mereka :

Ah I see.. they’re great! Aku selalu suka sama semangat dan kreatifitas anak muda yang ngangkat budaya mereka. Kebetulan aku suka komik dan ada cita-cita bikin komik strip. Makanya tertarik banget sama karya mereka. Komiknya bermanfaat banget dan menghibur. Terus kalau aku sebagai orang Jawa, bisa jadi tahu guyonan orang-orang Medan. Cuma buka page-nya mereka saja, pas baca sudah kerasa dan kebayang logat Medan. Ini kalau diterusin bisa jadi ikutan ngomong logat Medan. Harapanku buat mereka sih enggak lain enggak bukan ya tetap berkarya. Sebarkan virus Medan,” ungkap Shiromdhona yang mengaku terinspirasi dengan Digidoy untuk membuat komik strip kelak.

Shiromdhona, Art Enthustiastic

Shiromdhona, Art Enthustiastic

 

Harapan Anak Muda Kota Medan Untuk Digidoy

Meskipun debut Digidoy sebagai komik strip Kota Medan saat ini menduduki tingkat teratas di hati masyarakatnya, namun Digidoy Komik tidak boleh cepat puas sebagai pendatang baru. Suatu karya juga membutuhkan inovasi dalam menjaga eksistensi karyanya. Salah satunya bisa melalui harapan-harapan para pembacanya.

Dari paparan pendapat beberapa anak muda Kota Medan di atas jelas bahwa hal utama yang diingikan mereka kedepannya Digidoy dapat memberikan warna baru dalam hal konten digital yakni, mampu menciptakan Digidoy Komik dalam media video agar lebih atraktif. Selain itu, juga memberikan warna baru dalam hal konten ceritanya yakni, dengan mengangkat kearifan budaya lokal Kota Medan. Sebab, banyak hal tentang Kota Medan yang tidak diketahui masyarakat luar dan justru sangat ingin diketahui oleh mereka. Sejauh ini masyarakat luar hanya mengetahui Medan sebagai kota wisata kuliner dan logatnya yang terkesan “kasar.” Namun, Digidoy Komik sudah mampu merubah stigma ini dengan cerita “Orang Medan ibarat durian. Kulitnya penuh duri, tapi daging buahnya lembut.”

Digidoy : Industri Kreatif Digital Komik Khas Medan

Dan yang terakhir, kedepannya diharapkan Digidoy Komik tidak hanya mengangkat cerita-cerita terkini yang berkembang di Kota Medan, melainkan mampu berangkulan bersama komunitas Medan lainnya melalui komik stripnya. Dengan begitu Digidoy Komik baru bisa dikatakan me-Medan-kan Dunia. “Semua dirangkul, semua naik, semua dikenal. Sehingga orang luar benar-benar mengenal apa saja yang hits di Medan. Tidak hanya dari segi logat dan bahasa saja. Banyak yang masih butuh diperkenalkan,” tutur Irvan Deriza yang juga merupakan Owner Likemyselfco dan Penggas Medan Heritage.

Hal ini terkait dengan salah satu artikel yang saya baca di news.indonesiakreatif.net, mengatakan bahwa kekauatan para pelaku industri kreatif akan berlipat ganda jika melakukan kolaborasi. Ada 4 pola kebiasaan dari manfaat berkolaborasi, diantaranya : (1) saling membantu, (2) saling memberi, (3) saling memberi saran dalam melihat dari sudut pandang yang berbeda-beda dan saling berdiskusi untuk memecahkan masalah dalam tim, serta (4) saling menguatkan.

Nah, semoga pendapat dan harapan yang saya paparkan dari sahabat-sahabat Digidoy Komik dapat memberikan masukan yang positif dalam kemajuan komik strip Kota Medan kedepannya sebagai industri kreatif, dan tentunya menjadi karya yang bisa dibanggakan bagi masyarakat Kota Medan, Indonesia, bahkan dunia. Yuk! bersama kita me-Medan-kan dunia melalui industri kreatif milik Digidoy Komik.

Digidoy : Industri Kreatif Digital Komik Khas Medan

19 Comments
  1. Ananta Bangun
    • Rizky Nasution
    • Dinneno
  2. Wahyu Blahe
    • Rizky Nasution
  3. famita destyana utari
  4. Dinneno
    • Rizky Nasution
  5. @tokehape
    • Rizky Nasution
  6. Rudi Hartoyo
  7. Windi
    • Rizky Nasution
  8. Januardi Efendi
    • Rizky Nasution
  9. edo
  10. ibrahim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *