Dusun Mayat

Dusun Mayat : Photo by www.mollyta.com

Dusun Mayat : Photo by www.mollyta.com

Kami membendung sungai dan musim panen di kepala

Di gerbang dusun berdebur matahari dan biji-bijian

Berpasangan burung mencuci debu dari sayap-sayap

Masa depan menyerupai padi merah terdengar di pematang sayap

 

Telah lama tanah-tanah merekah menyembunyikan kami

Dari gemuruh pengetahuan mengabarkan kemarau

Kami terbius tubuh di tangan dan kapal hangus

Kelokan di kaki bukit menyaksikan kebocahan kami terbelah

Dusun menjelma langit terbalik di atasnya

Sebuah jalan ramai membentang dari sebatang pohon

Di sana orang-orang menggenggam hidup

Dengan tepung beras dan kenangan

 

Menggambar rumah dan sebuah dunia pada selembar mimpi

Kami memamah daun-daun disucikan darah ayam dan kematian

Menyemburkan berekor-ekor lembu ramah ketika disembelih

Hingga lahir kembali sebagai burung berbentuk guci

Dan terbang meninggalkan bukit duduk seperti kursi

Kami dewasa di antara putus asa dan angin marah

Yang melumpuhkan dusun pada malam pembakaran

Kami melihat mayat-mayat

Menyalakan obor sepanjang pengintaian

 

Mengenali kota-kota asing mongonggok di kamar

Dan gerbang dusun menyongsong mereka yang di bawa pergi

Kami hanya memandang dan tak mampu memanggili orang hilang

Muslim melupakan dirinya bersama kamar terus tertutup

Lalu setiap malam ketukan-ketukan terbakar perlahan

Kemudian pagi membangunkan dusun sebagai ladang

Dan ular menjulur dari rumpun bambu

Namun kami tetap mayat pongah bagai sebutir padi di atas batu

Tak tercuri keabadian saat mengunyah dengan gigi ngilu

 

Karya : Arie MP Tamba

Puisi ini dideklarasikan dalam agenda Mengenang 11 Tahun Tsunami Aceh pada 19 Desember 2015. Pendeklarasian puisi Dusun Mayat merupakan simbolis tragedi Tsunami Aceh 2004, yang hari ini kita mengingat bukan untuk menangisi duka. Hanya untuk mencintai alam agar tidak terjadi tsunami lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *