Ibu Cerdas, Anak Sehat

Anak merupakan aset dari suatu bangsa, sebab mereka merupakan salah satu penerus pertumbuhan suatu bangsa. Kemajuan suatu bangsa tergantung dari kualitas anak bangsanya dan anak yang sehat merupakan anak yang cerdas, energik serta produktif. Anak yang sehat berarti anak yang menyukai makanan sehat pula.

Ibu Cerdas, Anak Sehat

Ibu Cerdas, Anak Sehat

Ketika membicarakan tentang kesehatan anak, maka tidak jauh dari pembahasan “Bagaimana pola asuh yang diterapkan oleh seorang ibu? Dan konsumsi apa saja yang disajikan ibu saat anak-anak di rumah?” Mengapa hal ini menjadi penting? Yuk! simak artikel ini dan dapatkan manfaatnya.

Seiring berkembangnya zaman dan tuntutan semakin meingkat, maka hal ini juga menuntut seorang ibu menjadi seorang wanita karir demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Kesibukan seorang ibu sebagai wanita karir terkadang membuat mereka lalai untuk mengurus anak. Bahkan, tidak sedikit pula ibu yang merasa malas untuk memasak.

Peluang-peluang seperti ini dimanfaatkan banyak produk makanan untuk memproduksi makanan cepat saji yang bisa disediakan dengan waktu singkat dan pastinya yang menjadi sasaran pasar mereka yakni, para ibu yang bekerja. “Yah, mau bagaimana lagi, sudah enggak sempat masak makanan rumah. Jadi apa yang ada, sret langsung jadi dan praktis, lagi pula anak-anak suka,” ungkap Gita Nasution, salah satu pegawai swasta.

 

Tahukah ibu?

Makanan cepat saji pada intinya sangat berbahaya dibandingkan masakan rumah. Contohnya saja nugget yang memang bahan dasarnya berupa daging sapi ataupun ayam. Tapi apakah ibu-ibu sadari bahwa unsur nabati dalam makanan tidaklah cukup memenuhi kadar vitamin dalam tubuh anak-anak anda. Tubuh juga membutuhkan unsur nabati seperti sayur-mayur, buah, ataupun protein yang mampu membentuk energi secara sempurna, sehingga anak menjadi sehat dan produktif dalam melakukan aktifitasnya sehari-hari.

Selain itu, makanan cepat saji juga mengandung bahan pengawet yang sangat berbahaya bagi tubuh anak. Makanan yang mengandung penyedap rasa pun juga mengandung bahan pengawet. Bahan pengawet makanan merupakan bahan yang ditambahkan pada makanan untuk mencegah atau mengahambat rusak atau busuknya makanan tersebut. Beberapa bahan pengawet yang termasuk antioksidan berfungsi mencegah makanan agar tidak menjadi tengik yang disebabkan oleh perubahan kimiawi dalam makanan tersebut.

BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) menegaskan bahwa ada bahan pengawet legal yang dalam kadar tertentu aman untuk digunakan. Biasanya digunakan sebagai bahan tambahan dalam makanan, namun jika dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama akan bisa menggangu kesehatan tubuh kita. Contohnya seperti : Benzoat, propionat, nitrit, nitrat, sorbat dan sulfit.

Berikut beberapa bahan pengawet yang dilarang dan berbahaya bagi kesehatan tubuh manusia, diantaranya :

  1. Asam Borat, atau yang sering disebut dengan borak. Borak dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Borak merupakan bahan antiseptik lantai dan bahan untuk las.
  2. Asam Salsiat,yang biasa digunakan untuk pengawet teh botol.
  3. Kloramfenikol, merupakan salah satu antibiotik yang disalahgunakan sebagai pengawet udang segar. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional akan berdampak terjadinya resistensi pada pengobatan.
  4. Formalin, sebenarnya digunakan sebagai pengawet mayat tetapi disalahgunakan sebagai pengawet makanan.

Bagi para ibu yang tidak sempat menyajikan bontot untuk anaknya, waspada! Karena belum tentu jajanan yang disediakan pihak kantin di sekolah mereka juga mengandung makanan yang bernilai gizi baik. Sebab, saat ini banyak terdapat makanan yang berwarna terang dan mengandung penyedap di lingkungan sekolah mereka. Sekalipun kantinnya terlihat bersih, namun belum tentu makanan yang disajikan sehat.

 

Bagaimana makanan yang sehat itu?

Makanan yang sehat adalah makanan yang mengandung gizi seimbang kaya akan serat dan zat yang dibutuhkan oleh perkembangan tubuh. Jika dilihat dari kandungannya, makanan yang sehat adalah makanan yang mengandung protein, mineral, vitamin, dan lemak tidak jenuh. Hal ini biasa dikenal dengan istilah “empat sehat, lima sempurna.”

Empat Sehat, Lima Sempurna

Empat Sehat, Lima Sempurna

Kandungan karbohidrat bisa didapat dari nasi, gandumg, singkong, dan lainnya. Kalau kandungan protein bisa didapat dari daging, ikan, telur, tahu, tempe, dan lainnya. Jika menginginkan kandungan mineral, bisa didapat dari sayur-mayur. Sedangkan vitamin bisa didapat dari buah-buahan. Dan jangan lupa untuk kandungan lemak tidak jenuh bisa didapat dari susu.

Sebenarnya ibu sebagai seorang wanita karir tidak akan kesulitan dalam menyajikan makanan sehat bagi putra-putri ibu. Kenapa? Karena jika anda mengetahui apa itu makanan “empat sehat, lima sempurna,” maka memudahkan anda untuk melakukan pemilihan menu sederhana dalam penyajian bontot bagi putra-putri anda.

Namun, sekalipun anda sudah membekali anak anda dengan bontot dan dia masih jajan juga disekolahan. Maka, ada tips yang harus anda lakukan agar anak-anak anda bisa terhindar dari makanan yang tidak sehat yakni, dengan cara mengedukasi mereka untuk menghindari makanan yang berwarna terang. Sebab, makanan yang berwarna terang identik dengan penyedap rasa ataupun mengandung bahan pengawet. Selain itu juga, edukasi mereka tentang keuntungan-keuntungan mengkonsumsi makanan sehat.

 

Bagaimana sih mengajarkan anak pola hidup sehat?

Mengkonsumsi makanan sehat adalah salah satu dari pola hidup sehat. Dalam menularkan pola hidup sehat ke anak-anak tidaklah mudah, namun tetap bisa diterapkan. Ibu Intan selaku Manager Project di Tupperware mengatakan bahwa cara mengatasinya yakni, diawali dengan merubah pola hidup sehat anak dan orang tua terlebih dahulu.

Kedua, melakukan pelatihan ke staff guru dan juga anak murid berupa sosialisasi kesehatan bahwa makanan rumah lebih sehat. Agar memudahkan dalam penyampaian dan bisa dengan cepat diterima anak-anak, gunakan metode yang disukai anak-anak. Contohnya, metode video dan boneka tangan.

Ketiga, ajarkan tentang pentingnya membawa bekal yakni, disamping lebih sehat, juga tidak perlu keliling mencari makanan, hemat uang jajan, dan yang pasti gampang mendapatkan makanan saat musim hujan tiba. Apa jadinya jika musim hujan tiba, dan anak-anak tidak bisa ke kantin yang kebetulan berada di luar areal sekolah? Bisa jadi anak anda tidak makan selama di sekolah.

“Jangan mengajari pola hidup sehat tapi tidak ada sarana, missal seperti pengadaan wastafel, kotak bontot, termos, dan lain-lain. Cara mengajarinya pun dengan tidak marah dan bentak. Anak perlu suasana, agar gampang nafsu makan. Ajarkan cara makan yang menyenangkan, tanya apa yang dia inginkan dan ajak dia terlibat. Orang tua harus penuh wawasan,” tutur Bunda Romi, salah seorang Psikolog yang saya ambil kutipannya pada saat seminar Tupperware di Santika Hotel, Medan.

Berbeda dengan Ibu Theresia dari Kementrian Kesehatan yang menyatakan bahwa mengenalkan kesehatan harus dari sejak dini. Baik itu mengenai jajanan, cuci tangan sebelum makan dan cara mencuci tangan yang baik. Jika hal ini tidak diajarkan, maka anak akan rawan terkena penyakit. “Semakin mudah memperkenalkan anak sejak dini tentang hidup sehat, maka akan melekat hingga dewasa,” ulasnya.

Nah, apakah ibu-ibu masih malas untuk menyediakan bontot bagi anak-anak anda? Lebih baik tidak, karena makanan yang sehat berawal dari ibu yang peduli untuk mengajarkan pola hidup sehat pada anaknya. Dan perlu diingat bahwa bontot yang anda sajikan bukan merupakan makanan instan atau siap saji dan pastikan makanannya tidak berwarna terang, kaya protein, serta bergizi. Semoga menginspirasi ya ibu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *