Ingin Jadikan Heritage Lokasi Hangout

Ingin Jadikan Heritage Lokasi Hangout. Sudah seharusnya Kota Medan memiliki Lokasi Hangout selain Mall. Kenapa? Karena selain dapat memelihara Heritage Kota Medan, Pemerintah Kota (Pemko) juga bisa meningkatkan pendapatan daerah melalui Wisata Heritage tersebut. Sudah saatnya Medan mengenalkan sejarah kotanya ke khalayak ramai. Sadarkah kamu kalau sudah banyak turis mulai berdatangan ke Kota Medan? Tentunya, sebab salah satu rekam jejak sejarah negara Eropa, Cina, serta India juga bermula di Kota Medan ini. Jadi, tidaklah heran kalau Kota Medan menjadi salah satu pilihan destinasi mereka.

Hal ini tampak dari beberapa lokasi yang menjadi kawasan hasil kunjungan mereka untuk menetap dan membentuk suatu kawasan industri di Kota Medan, contohnya kawasan Kesawan yang sangat kental dengan bangunan tua bergaya arsitektur Eropa dan Cina. Bangunan ini tampak dari situs Tjong A Fie Massion, Gedung AVROS (BPS.PKS) dan PT London Sumatera. Selain itu, pada Jalan Perniagaan yang lebih dikenal dengan sebutan Pajak Ikan Lama, juga terdapat nuansa kebangsaan India. Ini bisa dilihat dari dominannya masyarakat India yang berniaga di sana, dan itu sudah terjadi sejak dahulu.

Tepat di Kamis pagi tanggal 14 Agustus 2014, saya duduk di ruang tengah rumah sedang membersihkan beberapa properti rumah dan handphone berdering, penanda ada pesan yang masuk ke inbox handphone saya. Pesan singkat itu berisi bahwa liputan saya sore kemarin telah naik cetak. Sejenak meninggalkan pekerjaan rumah dan saya langsung bergegas membeli koran tersebut.

Ingin Jadikan Heritage Lokasi Hangout

Ingin Jadikan Heritage Lokasi Hangout

Berikut sekilas pemberitaan yang diterbitkan Koran Sindo Medan, 14 Agustus 2014, mengenai keinginan saya yang bermimpi bahwa suatu saat Kota Medan memiliki Lokasi Hangout selain Mall. Disamping agar anak muda di Kota Medan semakin mengenal sejarah kotanya, juga memiliki kesadaran untuk mencintai dan memelihara Heritage Kota Medan.

Ketika anak muda sibuk hangout ke Mall, Rizky Syahfitri Nasution justru tidak begitu tertarik ikut-ikutan. Gadis 26 tahun ini malah membentuk Medan Heritage Tour pada 31 Agustus 2013, bersama seorang temannya, Irvan Deriza, yang merupakan salah satu mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Komunitas ini bertujuan mengenalkan berbagai heritage (warisan sejarah) di Sumatera Utara (Sumut) dan Medan kepada kalangan anak muda.

Keinginan itu tercetus ketika dia menjadi relawan di Badan Warisan Sumatera (BWS). Waktu itu dia diajak kakaknya ke kantor yang fokus mempertahankan berbagai warisan sejarah di Sumatera. Dari sana, dia mulai mencar tahu segala seluk-beluk mengenai berbagai heritage yang ada di daerah ini. Tapi ternyata dia tak puas sampai di situ saja.

Dia malah menginginkan pemahamannya tersebut tertular kepada orang lain. Keinginan itu semakin kuat setelah dia melakukan survei kecil-kecilan dan ternyata masih sangat sedikit masyarakat, khususnya kalangan muda, yang mengetahui tentang heritage.

“Saya pernah bertanya ke sekitar 20 orang mengenai heritage, hampir semuanya menjawab bangunan tua. Itu menunjukkan pemahaman masyarakat masih sangat minim karena heritage tidak hanya berkaitan dengan bangunan tua, tetapi berbagai peninggalan sejarah baik tampak maupun tidak tampak,” katanya kepada Koran Sindo Medan, kemarin.

Dengan minimnya pemahaman itu, mahasiswi Magister Sains Psikologi Universitas Sumatera Utara (USU) menilai tak heran isu pelestarian warisan tidak menarik bagi masyarakat. Karena itu, dia ingin mengubah paradigma tersebut dengan terus mengenalkan berbagai warisan yang ada. Adapun cara yang dipilih adalah dengan cara tour.

“Kenapa memilih cari tour? Supaya lebih menarik. Sebab, sejarah itu berat, jadi harus disampaikan dengan ringan dan semenarik mungkin. Selain itu, tour juga berarti berpindah-pindah, jadi bukan hanya satu heritage tetapi juga banyak lainnya yang dikenalkan kepada masyarakat,” ungkap warga Jalan Kutilang, Sei Sikambing, Medan ini.

Dengan cara ini, dia berharap ada perubahan paradigma masyarakat dan menjadikan segala sesuatu berkaitan dengan heritage, menarik. Bahkan, mungkin bisa memindahkan tempat hangout dari pusat perbelanjaan ke salah satu lokasi peninggalan sejarah. ‘Seperti di kawasan Kesawan, banyak peninggalan bangunan tua yang bisa kita ketahui. Kalau anak muda banyak main ke kesawan itu saat libur, tentu lama-kelamaan akan timbul keinginan mencari tahu dan akhirnya mencintai sehingga mau melestarikan,” ucapnya.

Pentingnya menjaga heritage karena menunjukkan identitas suatu daerah

Bahkan, Ibu Kota Negara saja memiliki Kota Tua, satu kawasan dengan berbagai bangunan tua yang menjadi salah satu tempat untuk mengisi waktu libur ketika akhir pekan. Begitu juga dengan Bandung dan Yogyakarta yang mempertahankan berbagai peninggalan sejarahnya entah itu bangunan tua, tarian, alat musik, dan lainnya yang mampu menarik wisatawan datang ke daerah itu tiap tahun.

“Kenapa Medan tidak bisa seperti itu? Ketika Jakarta sebagai kota metropolitan saja punya kawasan heritage dengan Kota Tua. Padahal, kota ini memiliki banyak peninggalan sejarah khususnya bangunan tua di Jalan Kesawan, sepanjang Jalan Ahmad Yani dan beberapa lainnya,” kata anak keenam dari enam bersaudara ini.

Pada peringatan satu tahun Medan Heritage Tour nanti, dia bersama teman-temannya berencana menggelar beberapa kegiatan, seperti berkunjung ke berbagai situs sejarah dan menggelar perlombaan yang tentunya diadakan tidak jauh-jauh dari peristiwa sejarah supaya masyarakat, khususnya anak muda lebih dekat dengan sejarah kota ini.

Semoga pemaparan saya yang diterbitkan Koran Sindo Medan mengenai Ingin Jadikan Heritage Lokasi Hangout dapat menginspirasi para pengusaha ataupun Pemko Medan untuk menjadikan heritage sebagai pilihan hiburan lain bagi masyarakat Kota Medan, khususnya anak muda.

2 Comments
  1. Wahyu Blahe
  2. ary

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *