Kerajinan Tangan : Media Pendidikan Karakter Bagi Anak Jalanan

Anjal, sebuah singkatan dari Anak Jalanan. Mungkin istilah ini sudah familiar di telinga kita. Tidak sedikit diantara kita yang mendeskripsikan kalau anak jalanan itu kotor, bau, nakal, malas, dan tidak teratur. Padahal jika kita menilik lebih dalam, ada banyak anak muda yang berawal dari jalanan dan saat ini justru mereka bisa mengenyam pekerjaan yang layak.

Tahukah kawan? Anak jalanan adalah anak yang berusia 15-18 tahun, yang mana menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencari nafkah di jalanan dan berkeliaran di jalanan maupun di tempat-tempat umum (Panduan Pendataan PMK & PSKS, 2007).

Sangat disayangkan, seharusnya anak se usia mereka lebih patut mengenyam bangku sekolah. Menghabiskan masa mudanya dengan berkreatifitas. Tapi kenyataannya, di Medan bahkan masih banyak anak-anak di bawah usia 15 tahun sudah harus turun ke jalan untuk mencari nafkah dengan cara mengamen.

Bukankah usia kanak-kanak itu justru dihabiskan dengan bermain? Seharusnya iya, tapi mereka justru menghabiskan waktunya di jalanan hanya karena alasan ekonomi keluarga. Ya, permasalahan ekonomi acapkali berkaitan dengan permasalahan sosial anak. Kalau sudah begini, siapa yang harus disalahkan?

Berbeda dengan pandangan para ahli sosial. Mereka memandang permasalahan sosial justru dampak dari perkembangan suatu kota. Dimana pembangunan di segala aspek gencar terjadi, namun tanpa mempertimbangkan apakah masyarakat mampu bersaing dalam perkembangan itu. Ya, inilah fenomena kota yang kerap terjadi, sehingga mengakibatkan yang kaya semakin kaya raya, dan yang miskin semakin tertindas.

Jadi, janganlah heran jika sampai detik ini kita masih menikmati pemandangan di setiap simpang jalan Kota Medan, ada banyak anak muda bahkan anak kecil yang menggenjrang-genjreng gitar sambil bernyanyi dengan nada sumbang hanya untuk mengais rezeki.

“Dulu kami masih ngamen kak. Jadinya enggak pernah mikir sekolah. Tapi, sekarang kami malah lebih suka sekolah. Biar pintar, punya cita-cita dan bisa naek mobil jadi orang kaya,” ungkap Wahyu, seorang anak binaan lembaga Kelompok Kerja Sosial Perkotaan (KKSP) yang aku temui saat berkunjung di Rumah Belajar Jl. Bridgen Katamso, sore tadi.

Kelompok Kerja Sosial Perkotaan (KKSP) adalah Lembaga Swadaya Masyarakat yang didirikan pada tahun 1987 dan berstatus hukum, yang mana sudah terdaftar di Dinas Sosial dan Pengadilan Negeri Medan. Adapun visinya yakni, dapat mengambil bagian dalam mewujudkan anak-anak yang kreatif, sehat, dan terampil serta mandiri dalam persiapan menuju kedewasaan dan meningkatkan partisipasi masyarakat untuk memberikan perlindungan, pendidikan dan layanan lainnya bagi anak-anak.

Salah satu misinya KKSP dalam mencapai visi mereka yakni, memperjuangkan keadilan dengan mengembangkan model pendidikan, pelayanan, kesehatan dan kesejahteraan sosial dan memberikan perlindungan bagi anak-anak.

Melalui misi tersebutlah Nasriati Muthalib yang merupakan salah satu Fasilitator Lapangan, membentuk suatu gerakan yang disebut Gerakan Inklusi Sosial Anak Jalanan. Nas mengaku bahwa gerakan ini merupakan agenda nasional inklusi yakni, #IDInklusif. Gerakan ini didasari oleh keresahan permasalahan anak jalanan yang tak kunjung selesai. “Masih saja banyak anak di persimpangan jalan. Masih banyak stigma negatif orang terhadap anak jalanan. Bahkan diskriminasi selalu saja terjadi,” ungkap gadis supel berkerudung panjang, yang akrab dipanggil Nas.

Nasriati Muthalib : Fasilitator Lapangan di Rumah Belajar KKSP

Nasriati Muthalib : Fasilitator Lapangan di Rumah Belajar KKSP

Melalui Gerakan Inklusi Sosial Anak Jalanan ini, diharapkan anak-anak tidak lagi termarjinalkan, jauh dari perdagangan, bebas dari stigma negatif, dan membuka wacana berfikir para anak bahwa dunia itu tidak sebatas di simpang lampu merah saja. Harapannya, dengan adanya gerakan ini mampu membentuk karakter anak dimana mereka bisa menghargai diri sendiri, percaya diri, dan berprestasi.

Pada pertemuan rapat Gerakan Inklusi Sosial Anak Jalanan chapter 3, Medan Heritage Tour berkesempatan gabung dan berbagi pandangan serta solusi dalam program pendidikan anjal, dengan tujuan untuk merubah karakter anak jalanan dari perilaku negatif menjadi positif. Akhirnya, aku dan teman-teman Medan Heritage Tour mengusung tema “Mengkreasikan Imajinasi, Ceriakan Kreatifitasmu.”

Rapat Gerakan Inklusi Sosial Anak Chapter 3

Rapat Gerakan Inklusi Sosial Anak Jalanan Chapter 3

Maksud dari pembelajaran ini adalah ingin membangkitkan imajinasi adik-adik Rumah Belajar KKSP agar terbentuk karakter yang kreatif dan inovatif dalam mengkreasikan ide mereka. Pembelajaran ini distimulus melalui aktifitas kreatif yakni, kerajinan tangan. Kegiatan yang dikreasikan menggunakan benang katun warna-warni. Dimana anak-anak diajak mengkait dan menjulur benang tersebut hingga membentuk suatu simpulan indah berupa gelang.

Pembelajaran ini bertujuan agar anak-anak memiliki imajinasi yang positif dan mampu menghasilkan pendapatan dari kreatifitas yang telah mereka pelajari. Dengan begitu, terciptalah minat baru dalam diri mereka yang mana akan merubah pola fikirnya bahwa kerajinan tangan adalah suatu kegiatan yang menyenangkan dan bisa menghasilkan. Ya singkat kata, secara sederhana mengajarkan mereka untuk berwirausaha.

KEGIATAN DI RUMBEL KKSP JL. BRIDGEN KATAMSO, 17 FEBRUARI 2016

Sesi Perkenalan Bareng Adik-adik Rumah Belajar KKSP

Sesi Perkenalan Bareng Adik-adik Rumah Belajar KKSP

Sesi Pembagian Alat Pengrajin

Sesi Pembagian Alat Pengrajin

 

“Senang dong pastinyaaaaa… Kesannya, kreatifitas mengasah kesabaran. Haha.. enggak semua anak sabar melakukannya,” ungkap Rani Kranoo, gadis berbaju cokelat dan berkacamata ini merupakan mentor kerajinan tangan adik-adik Rumah Belajar KKSP siang itu.

Selepas belajar kerajinan tangan, adik-adik Rumah Belajar KKSP menikmati santapan kue dan susu yang dihadiahkan kakak-kakak dari Medan Heritage Tour. Tampak begitu bahagianya wajah mereka di sore sejuk yang berhujan, kala itu. “Adik-adiiiikkk… siapa yang selesai tadi gelang tangannya. Kakak mau kasih hadiah untuk kalian. Siapa mau?” tanya ku pada mereka. Dengan spontan mereka angkat sebelah tangannya sembari menunjukkan hasil karya kerajinan mereka.

Santap Sore Bareng Adik-Adik Rumah Belajar KKSP

Santap Sore Bareng Adik-Adik Rumah Belajar KKSP

Berbagi Bingkisan Atas Apresiasi Karya Adik-adik

Berbagi Bingkisan Atas Apresiasi Karya Adik-adik

Foto Bareng Adik-adik Rumah Belajar KKSP

Foto Bareng Adik-adik Rumah Belajar KKSP

“Senang kali kami kak. Mudah kali rupanya buat gelang ya kak. Bisa kami pakai nanti. Terus besok kami tunjukkanlah sama kawan sekolah kami,” ungkap Zaskia, si gadis pemilik rambut panjang dan merupakan anak yang paling besar diantar anak lainnya.

Mendengar ungkapan itu, rasanya peluh kami terbayar lunas bahkan surplus dari apa yang kami lakukan di hari itu. Aaahh.. rasanya aku dan teman-teman belum berbuat banyak, tapi mereka menghargainya dengan sangat sempurna. Terima kasih Nas, yang sudah memberikan kami ruang dan waktu untuk berbagi.

Hasil Karya Adik-adik Rumah Belajar KKSP

Hasil Karya Adik-adik Rumah Belajar KKSP

“Kak, kapan kemari lagi? Besok datang lagi ya kak. Kami suka kali buat kek gini,” teriak Ririn dengan penuh harap aku dan teman-teman Medan Heritage bisa kembali lagi. Ya, celotehan itu akan terus terngiang di memori ku. Semoga aku bisa kembali lagi dan berbuat lebih banyak lagi. Mereka adik-adik yang luar biasa dan Nas, kakak asuh mereka yang hebat. Salut untuk mu, Nas!

Mungkin permasalahan anak jalanan akan terus ada, jika kita terus berfikir itu ada. Tapi, akan berbeda jika kita memilih untuk bergerak dan bertindak, meskipun sesederhana merajut gelang. Sebab, satu perhatian yang kita taruh pada mimpi mereka, maka saat itu juga mereka berani untuk bercita-cita #NR

Demikian artikel Kerajinan Tangan : Media Pendidikan Karakter Bagi Anak Jalanan. Semoga dapat menginspirasi para pembaca untuk bergerak bersama dan bertindak lebih bagi majunya pendidikan karakter anak jalanan, khususnya adik-adik di Rumah Belajar KKSP. Salam Sinergi!

2 Comments
  1. Nasriati Muthalib

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *