KMK Sumut : Solusi Bonus Demografi

Sebuah bangsa yang kuat harus mempunyai perencanaan, termasuk membangun sumber daya manusia berkualitas yang akan menjadi daya saing sebuah bangsa. Sejatinya, perubahan tidak bisa dilakukan dalam sekejap, maka dari itu pembenahan kualitas manusia harus dimulai dari sekarang (Prijo Sidipratomo, Ketua Ikatan Dokter Indonesia).

Inilah yang menyebabkan kenapa bonus demografi itu menjadi penting. Apa itu bonus demografi? Mungkin hal ini masih asing di telinga kita. Faktanya, Indonesia saat ini sedang diserang demam bonus demografi. Jika ini tidak segera ditindaklanjuti, maka bisa menjadi bencana bagi Indoensia. Utamanya, pada isu kependudukan.

Bonus demografi adalah dimana penduduk dengan umur produktif sangat besar sementara usia muda semakin kecil dan usia lanjut belum banyak. Diprediksikan di tahun 2020 -2030 Indonesia akan mengalami bonus demografi. Jika kita berkaca pada negara Cina, mereka sudah lebih dahulu mengalami bencana ini dan telah berhasil keluar dari permasalahaan kependudukan.

Photo by : Wicaksono Lugas Dwicahyo

Photo by : Wicaksono Lugas Dwicahyo

Merunut dari paparan Surya Chandra, anggota DPR Komisi IX, dalam seminar Kependudukan Indonesia di Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia bahwa jumlah usia angkatan kerja (15 – 64 tahun) pada 2020 – 2030 akan mencapai 70%, sedangkan sisanya 30% adalah penduduk yang tidak produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun). Jika kita lihat dari totalnya, maka penduduk usia produktif mencapai sekitar 180 juta, sedangkan non – produktif hanya 60 juta.

Bisa kita bayangkan jika yang 60 juta ini memiliki angka kelahiran lebih besar daripada 180 juta jiwa, mungkin akan semakin banyak masyarakat Indonesia yang tidak produktif. Apakah kita akan tinggal diam? Atau bertindak? Sudah sepatutnya kita bertindak segera sebelum mencapai angka prediksi tersebut.

Apa Saja Dampak Dari Bonus Demografi?

Bonus demografi nantinya akan berdampak pada aspek sosial – ekonomi. Salah satunya yakni, terjadinya angka ketergantungan penduduk, seperti tingkat penduduk produktif yang menanggung penduduk non – produktif (usia tua dan anak-anak) akan sangat rendah, diperkirakan mencapai 44 per 100 penduduk produktif.

Berbanding lurus dengan laporan PBB yang memaparkan bahwa dibandingkan dengan negara Asia lainnya, angka ketergantungan penduduk Indoensia akan terus turun sampai 2020.

Di satu sisi ini bisa menjadi berkah. Dilihat dari melimpahnya jumlah penduduk usia kerja akan menguntungkan dari sisi pembangunan. Hal ini dapat memacu pertumbuhan ekonomi ke tingkat lebih tinggi. Dampaknya yakni, meningkatnya kesejahteraan manusia secara keseluruhan.

Photo by : Wicaksono Lugas Dwicahyo

Photo by : Wicaksono Lugas Dwicahyo

Tapi di sisi lain, ini bisa menjadi bencana, jika bonus ini tidak dipersiapkan kedatangannya. Dampak negatif yang paling nyata adalah ketersediaan lapangan pekerjaan. Pertanyaannya, apakah negara kita mampu menyediakan lapangan pekerjaan untuk menampung 70% penduduk usia kerja di tahun 2020 -2030 mendatang?

Jika pun pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan tersebut, maka pertanyaan selanjutnya adalah apakah sumber daya manusia yang melimpah ini sudah siap bersaing di dunia kerja dan pasar internasional? Jika belum, maka bonus demografi akan mendatangkan bencana.

Fakta Hari Ini

Saat ini indeks pembangunan manusia atau lebih dikenal dengan istilah, Human Development Index (HDI), Indonesia masih rendah. Jika dari 182 negara di dunia, Indonesia berada di urutan 111. Sedangkan di ASEAN, HDI Indonesia berada di rangking 6 dari 10 negara. Posisi masih di bawah negara Filipina, Thailand, Malaysia, Brunei dan Singapura.

Fakta ini terjadi dikarenakan kemampuan bersaing warga Indonesia di dunia kerja masih sangat rendah, baik di dalam maupun luar negeri. Begitu pula dengan tenaga kerja luar negeri, mereka kebanyakan adalah berprofesi sebagai pembantu rumah tangga. Itu pun masih banyak yang menjadi korban kekerasan dan ditindas. Sedangkan untuk tingkat dalam negeri pun, sumber daya manusia Indonesia masih kalah dengan tenaga kerja luar negeri. Hal ini tampak dari banyaknya warga asing yang menempati posisi strategis di perusahaan Indoenesia.

Bagaimana Meretas Bencana Bonus Demografi?

Langkah awal yang dilakukan yakni, membangun sumber daya manusia Indonesia, jauh sebelum bonus demografi datang. Bukan malah yang seharusnya bisa membawa berkah, justru malah mendatangkan bencana bagi bangsa Indonesia, dengan masalah mendasarnya yakni, kualitas manusia.

Photo by : Wicaksono Lugas Dwicahyo

Photo by : Wicaksono Lugas Dwicahyo

Jika Indonesia hanya berfokus pada pembangunan fisik dan menganggap pembangunan kependudukan adalah hal yang tidak begitu penting (underlined factor), maka bersiaplah kita menyambut bonus demografi sebagai bencana. Padahal jika kita lebih jeli memandang, pembangunan sumber daya manusia bisa menjadi investasi jangka panjang yang menjadi senjata utama bagi kemajuan suatu bangsa.

Maka dari itu, pemerintah harus menajdi agent of development, dengan cara memperbaiki mutu modal manusia, baik itu dari aspek pendidikan, kesehatan, kemampuan komunikasi, serta penguasaan teknologi. Solusi lainnya bisa dengan memberikan keterampilan pada tenaga kerja produktif agar tidak lagi bergantung pada lapangan pekerjaan, melainkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi yang non – produktif. Dan juga pemerintah harus mampu menjaga ketersediaan lapangan kerja dan menjaga aset-aset negara agar tidak dikuasai pihak asing, sebab itu akan merugikan dari segi peluang kerja.

Sedangkan dari masyarakat, kita harus menjadi pendukung utama pembangunan mutu manusia. Dengan cara apa? Yakni dengan menyadari pentingnya arti pendidikan, kesehatan, dan aspek-aspek yang dapat mengembangkan kualitas manusia itu sendiri.

Apa Itu KMK Dan Kaitannya Dalam Bonus Demografi?

Berkiblat pada penduduk harus menjadi titik sentral kegiatan pembangunan (People Centered Development), dalam hal ini anak muda sebagai subjek. Ada tiga aspek pembangunan berkelanjutan yang diinisiasi, diantaranya (1) pertumbuhan ekonomi dan pembangunan sosial yang seimbang, (2) pengendalian pertumbuhan penduduk dan pengelolaan lingkungan hidup, (3) pengelolaan secara bersama-sama dan terintegritas.

Faktanya, saat ini Indonesia masih dihadapkan pada permasalahaan kependudukan. Berangkat dari hal tersebut, tepat tanggal 4 Agustus 2003 di Jakarta. Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat, United Nations Fund for Population Activities (UNFPA), dan Yayasan Damandiri berkolaborasi menyelenggarakan seminar “Pembangunan Kependudukan : Agenda Yang Terlupakan,” dalam rangka memperingati Hari Kependudukan Dunia. Yang kemudian berlanjut menghasilkan pembentukan Koalisi Indonesia untuk Kependudukan dan Pembangunan, disingkat dengan Koalisi Kependudukan.

Adapun tujuan pembentukannya untuk menampung aspirasi setiap individu yang peduli terhadap masalah kependudukan dan pembangunan di Indonesia. Dimana selanjutnya melakukan KIE (komunikasi, informasi, dan edukasi), serta advokasi kepada para penyusun kebijakan, penanggung jawab dan masyarakat umum guna meningkatkan kualitas penduduk. Dan saat ini Koalisi Kependudukan telah merata di seluruh wilayah Indonesia.

Photo by : Wicaksono Lugas Dwicahyo

Photo by : Wicaksono Lugas Dwicahyo

Namun, seiring perkembangannya. Koalisi Kependudukan menyadari bahwa generasi muda menyumbang peranan juga dalam merealisasikan terwujudnya bonus demografi yang produktif. Oleh karena itu, pada 1 Februari 2015 di Jakarta, Koalisi Kependudukan menyelenggarakan sebuah Orientasi Kependudukan Bagi Generasi Muda. Kegiatan ini menghasilkan terbentuknya Koalisi Muda Kependudukan (KMK).

Maka dari itu, KMK merupakan badan semi otonom dari Koalisi Kependudukan. KMK memiliki kekuatan penuh untuk merancang dan melaksanakan program-program kependudukan yang menyasar kalangan anak muda. Saat ini, KMK telah menyebar di 7 provinsi dan 35 kota/kabupaten di seluruh Indonesia.

Dengan adanya KMK diharapkan generasi muda mampu berkontribusi untuk menciptakan anak muda yang berkualitas dan memiliki skill, meskipun mereka tidak bersekolah. Dengan begitu, KMK mampu menyokong kinerja Koalisi Kependudukan dalam mempersiapkan datangnya bonus demografi.

Selengkapnya :  http://kmk.or.id/index.html

Bagaimana Terlibat Dalam KMK Sumut?

Jika kamu adalah anak muda yang energik dan peduli akan isu bonus demografi, segera daftarkan diri kamu dengan kriteria berikut ini :

  • Sehat jasmani dan rohani
  • Anggota aktif organisasi (dibuktikan dengan surat pengantar organisasi)
  • Memiliki jiwa kepemimpinan
  • Tertarik pada isu pembangunan kependudukan dan bonus demografi
  • Memiliki minat dan kompetensi dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengembangan sesuai latar belakang ilmu masing-masing.

KMK Sumut : Solusi Bonus Demografi

Adapun recruitment KMK Sumut 2016 ini berkerjasama dengan Koalisi Kependudukan dan berkerjasama dengan BKKBN Sumut dalam mengembangkan program Kependudukan. Anggota KMK Sumut yang terpilih nantinya akan menjadi pengurus aktif dan bekerjasama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan BKKBN dalam salah satu dari 8 komisi KMK, diantaranya :

  1. Organisasi dan Kelembagaan
  2. Penelitian dan Pengembangan Kependudukan
  3. Pengembangan Kapasitas, Ekonomi Kreatif dan Wirausaha
  4. Kemitraan dan Komunitas
  5. Advokasi dan KIE
  6. Psikologi dan Kesehatan Mental
  7. Perencanaan Berkeluarga dan Pemberdayaan Perempuan
  8. Lingkungan dan Energi yang Berkelanjutan

Persyaratan pendaftaran untuk mengikuti kedelapan program ini dan menjadi bagian dari kepengurusan KMK yakni, sebagai berikut :

  • Essay tentang isu pembangunan (+500 kata) yang mengacu pada salah satu dari delapan komisi KMK di atas
  • Pas foto 3×4, 1 lembar
  • Curriculum Vitae

Surat dan berkas recruitment ditujukan ke Bidang Pengendalian Penduduk Perwakilan BKKBN Sumut, melalui email : kmksumut@gmail.com. Kelengkapan berkas calon anggota diterima paling lambat pada tanggal 10 September 2016. Proses seleksi calon anggota dan pengisi jabatan ketua komisi KMK dilaksanakan pada :

Hari, Tanggal : Selasa, 20 September 2016

Tempat : Kantor Perwakilan BKKBN Sumut, Jl. Gunung Krakatau No. 110 Medan

Qintari Anindhita

Qintari Aninditha

Bonus demografi ibarat pedang bermata dua. Satu sisi adalah berkah jika berhasil mengambilnya. Satu sisi yang lain adalah bencana seandainya kualitas SDM tidak dipersiapkan (Qintari Aninditha).

KMK Sumut : Solusi Bonus Demografi. Sekarang saatnya kamu mengambil andil dalam program ini! Mari bersama kita wujudkan pembangunan kependudukan Indonesia.

4 Comments
  1. aizeindra
  2. Joko Almady

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *