KUBIKER : Astra Safety Road

Setiap orang memiliki mimpi. Ada yang berlari mengejarnya, ada yang menerjangnya dengan lompatan. Bagaimana dengan mereka yang hanya berjalan perlahan? Inilah tentang sebuah mimpi yang tak bisa kita mengerti, namun bagaimana cara menyatukan mimpi-mimpi itu menjadi tujuan yang satu.

Ya, begitulah kotaku, Medan. Katanya kota terbesar ketiga di Indonesia, yang pelabuhannya berbatasan dengan Selat Malaka. Kini menuju kota metropolitan. Namun, jika ditanya pada beberapa anak mudanya, beginilah komentar mereka :

Satu Opini untuk Medan?

KUBIKER : Astra Safety Road

KUBIKER : Astra Safety Road

KUBIKER : Astra Safety Road

KUBIKER : Astra Safety Road

Begitulah, ragam komentar yang muncul ketika aku bertanya tentang kondisi kota Medan. Ada yang positif, ada juga negatif. Memang sekilas kota ini tampak baik-baik saja. Tapi jika kita perhatikan seksama, banyak hal yang bisa dikomentari dari kota ini. Pertanyaannya, apakah kita harus terus mengeluh akan kondisi kota ini? Hanya kamu yang bisa menjawab itu. Mari kita ulas satu per satu melalui tulisanku ini.

Tertib Lalu Lintas dan Pariwisata, Apa Kaitannya?

Hal mendasar yang mempengaruhi laju perekonomian, salah satunya dikarenakan permasalahan lalu lintas. Ketika kita berbicara tentang lalu lintas, kaitannya sudah pasti dengan jalan raya. Bicara jalan raya berarti kita berbicara urat nadi kota Medan.

Jalan raya juga merupakan representatif budaya. Dari sana kita bisa melihat segala jenis perilaku manusia. Jalan raya itu ibarat sebuah cermin kehidupan masyarakat kota. Dengan kata lain, bagaimana aktifitas dan kondisi lalu lintasnya, seperti itulah karakter masyarakat kotanya.

Tiga Hari Inspiratif Bersama Astra

Tiga Hari Inspiratif Bersama Astra

Tahukah kamu? Ada 7 butir yang menjadi unsur dari Sapta Pesona yakni, keamanan, ketertiban, kebersihan, kesejukan, keindahan, keramahan, dan kenangan. Adapun tujuan dari program Sapta Pesona ini adalah untuk meningkatkan kesadaran, rasa bertanggung jawab segenap lapisan masyarakat, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat luas untuk mampu bertindak dan mewujudkan 7 butir tadi dalam kehidupan sehari-hari.

Pada poin kedua, ketertiban. Hal ini terkait pada kondisi lalu lintas di sebuah kota ataupun daerah wisata. Kondisi yang tertib merupakan sesuatu yang sangat didambakan oleh setiap orang termasuk wisatawan. Kondisi tersebut tersebut tercermin dari suasana yang teratur, rapi, dan lancar serta menunjukkan disiplin yang tinggi dalam semua segi kehidupan masyarakat, misalnya :

  1. Lalu lintas tertib, teratur dan lancar, alat angkutan dating dan berangkat tepat pada waktunya.
  2. Tidak Nampak orang yang berdesakan atau berebutan mendapatkan atau membeli sesuatu yang diperlukan.
  3. Bangunan dan lingkungan ditata teratur dan rapi.
  4. Pelayanan dilakukan secara baik dan tepat.
  5. Informasi yang benar dan tidak membingungkan.

Jika dikaitkan dengan beberapa komentar temanku tadi tentang Medan, 8 dari 17 orang mengeluhkan permasalahan kehidupan jalan raya. Kita saja sebagai masyarakat kota Medan sudah berpendapat demikian, bagaimana lagi dengan para wisatawan yang merupakan pendatang baru? Tidak menutup kemungkinan mereka juga akan merasa tidak nyaman berwisata dengan kondisi lalu lintas kota Medan yang masuk pada kategori tidak tertib.

Jika hal ini berlangsung terus-menerus, maka inilah yang akan menyebabkan tingkat kunjungan wisatawan ke kota Medan semakin tahun akan menunjukkan penurunan. Jelas bahwa kondisi lalu lintas merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi lajunya bisnis pariwisata di sebuah kota.

Masyarakat dan Lalu Lintas

Lemahnya kesadaran masyarakat terhadap peraturan berlalu-lintas dapat dilihat dari rendahnya tingkat kedisiplinan masyarakat dalam berkendara, sehingga melahirkan budaya tidak disiplin pada masyarakat. Kurang sadarnya masyarakat dalam hukum berlalu-lintas dapat dilihat dari banyaknya tingkat pelanggaran yang terjadi di jalan raya saat berkendara.

Astra Poskota News

Poskota News : Sosialisasi Astra Safety Road

Jika kita merujuk data pooling Dinas Perhubungan per 31 Agustus 2017, tampak bahwa kondisi lalu lintas pada kategori lumayan (13,6%), kurang rambu lalu lintas (27,1%), semrawut (52,1%) dan bagus (7,3%). Disimpulkan bahwa ada 215 dari 413 orang mengatakan kondisi lalu lintas kota Medan pada kategori semrawut.

Sedangkan data tahun 2013 oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara menunjukkan bahwa dari 27 wilayah di Sumatera Utara, kota Medan mendapat peringkat pertama tingkat kecelakaan tertinggi, yaitu ada 1.375 kasus.

Sedangkan Gubernur Sumatera Utara, Tengku Erry Nuradi menyebutkan bahwa Sumatera Utara sebagai peringkat keempat sebagai angka kecelakaan tertinggi di Indoensia setelah provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat (sumber : www.medan.tribunnews.com pada 1 Desember 2016).

Data lain yang diberitakan oleh Tabloid Imaji, Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Sandi Nugroho mengatakan untuk tingkat kecelakaan lalu lintas terjadi peningkatan dari tahun 2015 sebanyak 1.598 kasus menjadi 1.619 kasus di tahun 2016. Ini berarti ada peningkatan kasus kecelakaan di kota Medan sebanyak 21 kasus.

Ada beragam faktor yang menyebabkan angka kecelakaan meningkat salah satunya sarana angkutan umum yang belum memadai, baik dari segi pelayanan dan juga harga, sehingga membuat masyarakat lebih memilih untuk memiliki transpotasi pribadi daripada menggunakan transportasi umum.

Disamping harga kendaraan sekarang lebih mudah terjangkau dengan system kredit, juga lebih efesien waktu dan pengeluaran. Apalagi kendaraan sepeda motor yang lebih mudah menerabas laju kendaraan lain, dikarenakan bentuknya yang lebih mini. Akan tetapi, kepemilikan kendaraan pribadi tersebut tidak disertai dengan tingkat disiplin dalam berkendara.

Ada beberapa tipe perilaku ketidakdisiplinan masyarakat dalam berlalu-lintas, seperti mengendarai kendaraan melebihi batas kecepatan yang ditentukan, menerabas lampu lalu lintas, melewati marka pembatas jalan, tidak melengkapi alat keselamatan, seperti helmet, spion, lampu-lampu kendaraan, serta ketidaklengkapan surat-surat berkendaraan bermotor, tidak taat membayar pajak, menggunakan kendaraan tidak layak pakai.

Pelanggaran yang terjadi pun juga disebabkan oleh cara pengendara yang “menerabas antrian kendaraan, berkendara zigzag dengan kecepatan tinggi, beberapa kali menerabas lampu lalu lintas, dan melanggar rambu yang dilarang menikung” (Hendratno, 2009).

Permasalahan tersebut selalu saja dihadapi oleh para penegak hukum. Hal seperti itu sudah dianggap biasa dan telah menjadi budaya bagi masyarakat kota Medan. Jika kita merujuk pada data WHO, Indonesia berada di peringkat kelima angka kecelakaan lalu lintas tertinggi di dunia setelah China, India, Nigeria, dan Brazil.

Ini berarti para pengguna kendaraan di Indonesia dibandingkan dengan negara maju yang secara keseluruhan sudah mampu menciptakan budaya disiplin dalam tatanan kehidupan. Hal tersebut yang menjadi titik tolak pentingnya menciptakan budaya disiplin sebagai penunjang dalam meningkatkan kebermaknaan kehidupan sosial.

Ada hal yang paling mendasar sehingga membuat masyarakat mengesampingkan budaya disiplin tadi yakni, keberanian untuk melanggar karena adanya mentalitas bahwa setiap masalah dapat diselesaikan secara “damai” dengan Polantas, adanya budaya menarabas dan pudarnya budaya malu bahkan bagi sebagian orang menjadi kebanggaan tersendiri apabila dapat mengelabui Polantas atau melanggar rambu-rambu lalu lintas (Hedratno, 2009).

Itulah dua hal yang bisa menjadi acuan masalah untuk dijadikan sebuah landasan dalam kita merancang solusi bagi tingkat kecelakaan pengendara di kota Medan.

Solusi Membutuhkan Keterlibatan Masyarakat

Seperti yang diketahui, yang menghidupi jalan raya adalah penggunanya yakni, masyarakat kota itu sendiri. Memang di satu sisi peran Polantas sebagai pihak pengaman jalan raya merupakan andil utama dalam meretas permasalahan ini. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa tanpa ada peran aktif dari masyarakat, maka pembenahan rambu lalu lintas dan perbaikan infra struktur pun menjadi hal yang sia-sia.

Dalam ilmu psikologi, sebuah perilaku dapat berubah dikarenakan adanya kemauan dari dalam diri si individu itu sendiri. Perubahan itu akan menunjukkan signifikan, jika individu itu mau mengulang-ulang perilaku baik tersebut sehingga menjadi sebuah kebiasaan bagi dirinya. Itulah yang disebut dengan proses internalisasi budaya perilaku baik pada diri. Metode ini yang bisa digunakan sebagai landasan perancangan solusi bagi pengguna jalan.

Sindo News : Astra Safety Road

Sindo News : Astra Safety Road

Menurut Ali (1993) kepatuhan hukum atau ketaatan hukum adalah kesadaran hukum yang positif. Sementara itu ketidaktaatan hukum padahal yang bersangkutan memiliki kesadaran hukum, berarti kesadaran hukum yang dimiliki adalah kesadaran hukum yang negatif. Beliau juga mengatakan bahwa kesadaran hukum masyarakat tidak identik dengan kepatuhan atau ketaatan hukum masyarakat itu sendiri. Hal tersebut dikarenakan kesadaran hukum yang dimiliki oleh masyarakat belum menjamin masyarakat tersebut akan menaati suatu aturan hukum atau perundang-undangan.

Berkaitan dengan hal tersebut, Rahardjo (2006), medefinisikan sebab ketidakpedulian masyarakat terhadap hukum menjadi tiga, yaitu : (1) kurangnya sosialisasi dari pemerintah mengenai peraturan yang ada, baik peraturan lama ataupun yang telah disempurnakan (baru), (2) minimnya pengetahuan masyarakat akan hukum, juga merupakan salah satu penyebab pelanggaran hukum, (3) hukum yang saat ini dirasakan terlalu bersifat kaku sehingga masyarakat seolah-olah diperlukan sebagai robot yang didikte dalam melakukan berbagai kegiatan.

Atas dasar inilah kita bisa merancang Planned Behavior Program untuk mensosialisasikan akan pentingnya berkendara yang aman sesuai standar di jalan raya. Dimana nantinya program ini akan dilakukan oleh komunitas motor (bikers), seperti kita tahu, tidak bisa dipungkiri bahwa pandangan masyarakat tentang komunitas motor sangatlah negatif.

Ini dikarenakan begitu banyak kasus kriminalitas yang terjadi diakibatkan ulah dari komunitas motor, yang biasa dikenal dengan sebutan geng motor. Juaranews.com memberitakan bahwa permasalahan yang ditimbulkan oleh geng motor diantaranya kasus narkotika, miras, dan pencurian motor.

Menurut data Neta S. Pane, selaku Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), sepanjang tahun 2014 terdapat 38 kasus kekerasan yang dilakukan oleh geng motor, yang mengakibatkan 28 orang tewas dan 24 orang mengalami luka-luka (Harian Terbit, 2014).

Banyaknya perilaku kriminalitas tersebut tentu saja membuat masyarakat menjadi resah dan menganggap bahwa komunitas motor itu juga sama dengan geng motor. Pandangan ini yang seharusnya diubah pada pola pikir masyarakat. Tidak semua komunitas motor itu memiliki perilaku yang sama seperti aturan yang dibentuk oleh geng motor.

Selain itu, mengingat bahwa pengguna sepeda motor di jalanan kota Medan lebih banyak dibanding dengan jumlah pengguna mobil dan transportasi umum lainnya. Hal ini dikarenakan mudahnya melakukan transaksi pembelian unit sepeda motor dengan sistem kredit. Fakta ini diperkuat oleh data Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara tahun 2004 – 2013 bahwa pengguna mobil sebanyak 416.405 dan pengguna sepeda motor sebanyak 4.584.431.

Rancangan Internalisasi dan Sosialisasi

Berdasarkan pemaparan di atas, jelas bahwa keberadaan komunitas motor bisa menjadi awal mula solusi permasalahan lalu lintas. Selain mereka beranggotakan banyak, ini bisa menjadi tugas yang efektif dan efisien dalam implementasinya ke masyarakat.

Keberadaan komunitas motor tidak begitu meresahkan di kota Medan, bisa dilihat dari aktifitas mereka setiap malam Jumat di kawasan perkiran Masjid Raya Al-Mahsun, Medan. Mereka biasanya hanya melakukan aktifitas temu ramah, atau dengan kata lain kopi darat (kopdar).

Momentum ini bisa dijadikan sebagai strategi awal melakukan pendekatan kepada mereka dengan cara mengalihkan kegiatan hanya sekedar kopdar, menjadi kegiatan internalisasi dari pihak CSR Astra yang bekerja sama dengan pihak Polrestabes. Harapannya, melalui internalisasi ini, komunitas motor di kota Medan memiliki pemahaman sesuai standar dalam berkendara di jalan raya. Nantinya ini dapat meminimkan angka kasus kecelakaan di jalan raya dan juga sebagai bentuk penekanan angka kasus kriminalitas yang disebabkan oleh komunitas motor.

Adapun internalisasi ini berupa pendidikan berlalu-lintas, dimana yang ditekankan pada pendidikan ini yaitu upaya membangun karakter dan budaya berlalu-lintas yang aman, tertib, dan lancar. Dalam program ini, mengingat komunitas binaannya merupakan komunitas motor, maka metode yang digunakan ada tiga, diantaranya pendidikan nonformal, membentuk kepribadian, dan peranan petugas keamanan lalu lintas.

Pendidikan nonformal. Pendidikan yang diberikan merupakan pengetahuan tentang berkendaraan sesuai standar di jalan raya, mengenal rambu-rambu lalu lintas, dan mengutamakan keselamatan saat berkendara. Adapun dua keuntungan yang bisa didapatkan ketika membekali para anggota komunitas, (1) mereka bisa menjadi agen perubahan bagi dirinya dan keluarganya, dan (2) mereka bisa menerapkan pendidikan yang berkelanjutan saat melakukan community touring. Sebab, pendidikan nonformal ini merupakan sebuah praktek pemberdayaan.

Kegiatannya bisa berupa simulasi berlalu-lintas yang aman, tertib, dan lancar. Setiap anggota komunitas diberikan standar dalam berkendara dan mereka langsung mempraktekkan pendidikan berlalu-lintas yang sudah didapat sebelumnya. Praktek ini dipantau oleh salah satu anggota grup dan juga perwakilan dari petugas keamanan lalu lintas untuk melakukan observasi pada kegiatan simulasi tersebut. Anggota komunitas yang terbaik dalam proses simulasi, maka merekalah yang akan mendapatkan penghargaan dari pihak CSR Astra. Dengan begitu mereka turut mengkampanyekan tentang pentingnya berkendaraan sesuai standar keamanan. Karena perilaku baik dibarengi dengan penguatan positif (dalam hal ini penghargaan), akan menghasilkan perilaku yang berulang.

Faktor kepribadian. Faktor kepribadian banyak dikaitkan dengan perilaku pelanggaran dalam berlalu-lintas. Sebab, pelanggaran lebih dominan terjadi karena individu yang tidak mampu mengkontrol emosinya. Dalam hal ini yang menjadi fokus pembekalan adalah emotionally, activity, dan sociability factor. Dengan adanya pembekalan ini diharapkan para anggota komunitas memiliki perilaku positif dalam berkendaraan di jalan raya, sehingga perilaku itu bisa dijadikan role model bagi pengendara lain dan juga mampu merubah pandangan negatif masyarakat tentang keberadaan komunitas motor.

Bentuk kegiatan yang bisa ditawarkan untuk mengasah emotionally, activity, dan sociability factor anggota komunitas yakni, dengan melakukan kegiatan KUBIKER (Kumpul Biker). Kegiatan ini merupakan aktifitas anggota komunitas yang berkolaborasi dengan komunitas lainnya dalam rangka mensosialisasikan kampanye safety road. Harapannya, tidak hanya komunitas motor itu saja yang mendapatkan pendidikan nonformal tersebut, juga komunitas lainnya. Ini juga dapat membantu membentuk citra baik bagi komunitas motor yang telah tercemar akan isu geng motor.

Selain itu, dengan membiasakan anggota komunitas motor dengan kegiatan positif, ini akan membentuk karakter mereka baik dari segi emosi maupun sosial. Sebab, ada unsur berbagi dan bersosialisasi saat melakukan kegiatan KUBIKER ini.

Peranan Petugas Keamanan Lalu Lintas. Peran petugas keamanan lalu lintas merupakan faktor utama dalam mengkontrol kedisiplinan para pengendara di jalanan. Konsistensi para petugas kunci utama dalam membentuk perilaku disiplin para pengendara. Di sini pihak CSR Astra bisa menjadi mediator antara petugas keamanan lalu lintas dengan komunitas motor dalam berbagi peran untuk turut membantu petugas mengkontrol keamanan lalu lintas. Hal ini bisa dilakukan secara regular dengan konsep community touring atau dengan metode socialitation on the road. Selain itu juga bisa dengan corporate support kepada pihak komunitas. Dimana CSR Astra membuat perjanjian kerja sama berupa commitment behavior. Pihak CSR Astra memfasilitasi perlengkapan berkendara sesuai standar keamanan, dan pihak komunitas motor turut membantu dan menjadi role model bagi masyarakat luas, baik saat mereka touring ataupun saat berkegiatan pada acara komunitas, dengan cara terus mengkampanyekan safety road.

KUBIKER : Astra Safety Road

Setelah para komunitas motor sudah mendapatkan pembekalan tersebut, output dari internalisasi tersebut bisa dikolaborasikan dengan 2 dari 4 pilar program CSR Astra, diantaranya pendidikan dan kesehatan. Dimana nantinya para komunitas motor yang telah menjadi mitra akan turun ke sekolah-sekolah memberikan pengetahuan dasar tentang safety road dalam berkendara di jalan raya. Selain itu, juga bisa melakukan sosialisasi ke beberapa pangkalan ojek, betor (becak motor), dan angkot, untuk mengedukasi para supir agar menerapkan safety road saat berkendara.

Semoga ide KUBIKER : Astra Safety Road ini dapat menjadi Inspirasi 60 Tahun Astra dalam memberikan perubahan yang berkala bagi masyarakat kota Medan, khususnya bagi mereka yang aktif berlalu-lintas.

 

Contoh Pendidikan Nonformal Tentang Pedestrian yang Pernah Dilakukan di Medan & Bisa Diadaptasi untuk Program Astra Safety Road

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *