Mau Sukses? Benarin Cara Hidupnya

Bagiku, kehidupan itu banyak-banyak berbagi. Enggak punya harta, ya berbagi ilmu. Belum sanggup berbagi ilmu, ya berbagi tenaga. Tak cukup punya tenaga yang kuat, ya berbagi waktu. Karena dengan berbagi kita justru menjadi orang yang paling kaya. Bahkan masih banyak di luar sana orang yang tak butuh harta mu, tapi hanya butuh kehadiran mu untuk mendengarkan segudang curhatannya.

“Bersegeralah bersedekah, sebab bala bencana tidak pernah bisa mendahului sedekah” (HR. Imam Baihaqi).

Konsep berbagi dalam Islam tidak akan terlepas dari kata “sedekah.” Sedekah merupakan investasi masa depan, tidak hanya di kehidupan di dunia, melainkan juga di akhirat. Jadi, wajar saja kalau amalannya bersifat jariyah, dimana manfaatnya turun temurun, abadi sepanjang masa.

“Kalau ke orang-orang yang pemula dalam berbisnis, jangan ngajarin bagaimana sistem manajemen dan keungan berbisnis. Tapi, ajarin dulu bagaimana caranya hidup yang benar,” celetuk sahabatku, Aida Naira yang aku kenal sejak 2012 akhir kemarin.

Aida Naira

Aida Naira

Baginya, kehidupan adalah keluarga. Bagaimana seorang janin terasup gizi yang baik. Seorang anak tumbuh dalam keluarga yang ideal, baik hubungan orang tua yang harmonis, maupun pendidikan yang memadai. “Yang penting seorang anak bisa produktif, gimana si orang tua benar menumbuhkembangkan anaknya sesuai fase. Bukan sekedar masalah gizi aja, tapi mental juga. Tapi, kalau gizinya tak benar pun, maka perkembangan otaknya pun tak sempurna. Ini secara tak langsung pun mempengaruhi perkembangan mental anak,” tambahnya mengawali diskusi hangat kami malam tadi.

Artikel Aida Naira di Majalah

Artikel Aida Naira di Majalah

Berbeda dengan Poppy Ayu Afsari. Baginya, kehidupan itu tentang sebuah kesuksesan. “Kalau Poppy kak, kita hidup itu kudu kaya. Kalau udah kaya kan enak nih, bisa berbagi. Bukan dengan saat ini kita enggak berbagi ya, tapi dengan kekayaan yang berlimpah itu, maka semakin sempurnalah berbaginya. Makin banyak yang nerima manfaat harta kita,” tuturnya sepaket dengan medok wong Jowo-nya.

Poppy Ayu Afsari

Poppy Ayu Afsari

Poppy meyakini bahwa kesuksesan itu, disaat ilmu yang dia dapatkan selama berproses dalam berbisnis bisa dia bagi dengan banyak orang. Ini semaca konsep snow ball dalam ilmu komunikasi, dan konsep amal jariyah dalam Islam.

“Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Al – Hasyr : 9).

Jelas bahwa Al – Qur’an menerangkan kalau berbagi itu adalah bentuk terhindarnya diri dari kekikiran, salah satunya dengan cara berbagi ilmu. Orang pelit ilmu, itu masuk dalam kategori kekikiran. Justru dengan berbagi akan membuat kita beruntung. Kenapa?

Merubah Hampa Menjadi Ada

Yakinlah pada apapun yang kita bagikan akan membuat telur berubah menjadi ayam. Membuat ulat bermetamorfosa menjadi kupu-kupu. Membuat gelas kosong menjadi berisi. Yah, merubah sesuatu lebih bernilai dan memiliki arti.

“Adakah sama orang-orang  yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran” (QS. Az – Zumar : 9).

Meretas Kemiskinan

Dengan kita pandai berbagi ilmu, berarti kita sudah menyumbang kontribusi dalam menyelesaikan masalah kemiskinan. Kemiskinan itu terjadi, berawal dari malas. Siapa pun orang yang mempunyai sifat malas, adalah mereka yang tak memiliki ilmu. Berarti mereka itulah orang-orang yang tak mau belajar.

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu  dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. Al – Mujadalah : 11).

Mewariskan Generasi

Kita sudah tahu bahwa berbagi ilmu sifatnya amal jariyah. Sesuatu yang tidak pernah terputus amalannya, hingga alpha menjemput. Kalau kita pernah mendengar kalau seorang ibu merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya, maka ayah adalah kepala sekolahnya. Begitulah peranan ilmu jika dibagikan.

“Tidaklah seorang yang bersedakah dengan baik kecuali Allah memelihara kelangsungan warisannya” (HR. Ahmad).

Lalu, apa alasan kita untuk tidak berbagi atas ilmu yang dipunya? Hasil diskusi kami malam ini, kami sepakat kalau ilmu itu yang menyelamatkan hidup kami saat ini. Bukan tentang hasil yang kami dapat, melainkan proses yang kami lalui. Takkan ada hasil dikarenakan sebuah proses. Proses inilah yang harus dibagikan, bukan untuk dikasihani, tapi agar lebih banyak lagi orang yang terinspirasi bahwa kekurangan, kegagalan, dan keterbatasan bukan menjadi hambatan kita untuk berkarya. Maka, bagikan ilmu mu, jadikan dia manfaat yang tak terputus.

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Ahmad)

Adik ku yang berambut panjang ini menegaskan “Bagi Poppy kak, bisnis ini sukses disaat Poppy sudah mampu membagikan ilmu bisnis ala Poppy ke banyak orang.” Berbeda dengan Aida, sahabatku yang berbalut hijab ini. Baginya, sukses itu ketika berhasil membangun sebuah keluarga yang ideal, dimana anak-anak mapan dengan ilmu dan pasangan yang memiliki pengaruh. “Dengan kek gitu, berarti aku sempurna menjadi perempuan yang juga memiliki pengaruh,” tuturnya sebagai prinsip hidup yang dia yakini untuk mengungkit semangatnya kembali ketika merasa gagal.

Sedangkan bagiku, kesuksesan itu adalah disaat aku mampu menyukseskan banyak orang. Ya, semacam tabungan kebaikan. Kalau para motivator menyebutnya tabungan EPOS (energi positif), dimana ketika kita berbuat baik pada seseorang, maka kebaikan itu akan berbalas dari orang dan tempat yang berbeda.

Mau Sukses? Benarin Cara Hidupnya

“Nak, adik-adik mu itu banyak yang kau buat sukses. Sampai orang tuh pergi-pergi ke luar kota dank e luar negeri segala. Fitri juga sering cerita tentang teman-temanmu yang sudah berhasil usahanya. Orang kau tolong, tapi Fitri gini-gini aja,” kritik Papaku.

Artikel Nasution Rizky di Media Online

Artikel Nasution Rizky di Media Online

Tidaklah salah apa yang dikatakan si Papa, itu hanyalah bentuk kekhawatirannya. Beliau khawatir kalau aku bakal dimanfaatkan banyak orang. Tapi, aku berfikir berkebalikan. Aku yakin dengan menabung EPOS, maka suatu saat aku akan menikmati pundi-pundi kekayaanku dalam bentuk yang beragam. Bisa dalam nikmat harta, nikmat kesehatan, nikmat kesabaran, nikmat silaturrahmi, dan nikmat ketenangan.

“Fabiayyi alaa irabbkuma tukadzdziban : Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar – Rahman : 55)

Perbincangan kami tadi malam benar-benar random. Tapi, banyak hal yang membuatku belajar tentang makna sukses dari curhatan jambu-jambu kami. Meskipun kami memiliki prinsip yang berbeda dalam hidup, hanya saja kesemuanya itu memiliki satu konsep yang sama yakni, berbagi akan meng-kaya-kan kita. Baik kaya harta, iman, ilmu, maupun amalan. Semua kembali pada bagaimana cara kita menjalani kehidupan yang dianggap benar, baik bagi Sang Pencipta maupun lingkungan kita.

Artikel Poppy Ayu Afsari di Surat Kabar

Artikel Poppy Ayu Afsari di Surat Kabar

MAU SUKSES?

Ini dia 5 cara hidup sukses ala kami yang bisa diterapkan :

1. Budayakan Membaca

Buku adalah jendela dunia. Ini adalah pepatah yang menggambarkan begitu kayanya ilmu seseorang dengan membaca. “Aku sering bilang sama Poppy. Dek, kalau kamu mengalami hambatan dalam bisnis, banyakin dek bacanya. Dari kamu banyak baca, kamu banyak tahu, maka kamu tahu langkah tepat apa yang harus kau ambil agar semangat lagi berbisnis. Toh sekarang bacaan tidak hanya dari buku. Sudah ada google, sudah ada youtube, dan social media lainnya. Semua dalam genggaman. Teknologi menjadikan semuanya mudah. Manfaatkan!” motivasi versi Aida.

Iqra’ Bismi Rabbikal Ladzi  Khalaq

 

2. Membenahi Niat

“Selama niat awalnya baik, maka orang-orang yang memang baik akan mendekat dan memudahkan jalan kita mencapai impian yang sudah kita mimpikan,” pendapatku dari beberapa pengalaman yang sudah aku jalani. Bahkan Islam pun mengatakan bahwa sebuah niat baik saja sudah terhitung satu pahala, berbeda dengan niat buruk. Berniat pun kita, belum terhitung dosa. Begitulah nikmatnya kebesaran di balik sebuah niat baik.

Innamal A’malu Binniyat

 

3. Ayo Dimulai!

Kamu punya mimpi? Kamu punya kekuatan? Kamu punya rekanan? Kalau tidak dimulai ya takkan terealisasikan apa yang menjadi niat. Maka, mulailah dan berproseslah dalam resiko.

4. Di-istiqomah-kan

“Poppy pernah gagal kak. Kalau enggak nyoba saran kak Aida untuk banyak baca. Mungkin Poppy udah jadi satu dari sekian banyak orang yang gagal dalam bisnis,” kata gadis manis yang aku kenal di awal 2013 ini. Memang untuk memulai sesuatu itu lebih mudah dibandingkan mempertahankannya. “Ya kalau belum bisa growth, setidaknya kalian mampu bertahan. Itu juga tergolong kategori sukses dalam suatu bisnis,” timpalku pada mereka. Jadi, kalau mau sukses ya ibadahnya digetolkan. Ayo istiqomah sob!

5. Ingat Sedekah!

Rezeki adalah amanah. Mati akan tiba sudah. Sedekah, ada hak mereka #NR

Ya, kesuksesan dan kejayaan yang kita dapatkan itu semata-mata titipan-Nya. Kita dikayakan, kita dijayakan, kita disejahterakan. Itu pertanda kita harus lihai mensejahterakan banyak orang agar suksesnya jama’ah. Karena kebaikan itu sifatnya “menular.” Ketika kita berhasil mensejahterakan satu orang, maka ketika orang yang kita tolong ini sukses, dia juga akan melakukan hal yang sama kepada orang lain. Begitulah sedekah, snow ball method.

Foto Bareng di Sela-sela Curhat

Foto Bareng di Sela-sela Curhat

Demikianlah artikel Mau Sukses? Benarin Cara Hidupnya aku sajikan. Semoga menjadi inspirasi bagi para pembaca dalam menjalani kehidupan baru di bulan Syawal 1437 H. Still inspiring!

3 Comments
  1. Akbar Maulana
  2. Bisnis Tak Harus Modal Besar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *