Medan Bukan Persinggahan, Tapi Tujuan

Teringat cerita pertengahan tahun silam bareng penggagas Medan Heritage satunya, Irvan Deriza. Dia membahas kalau anak muda Medan ini sudah terlalu apatis memandang kotanya. Pemerintahan lokal pun mulai acuh tak acuh terhadap aspirasi warga Medan.

Medan Bukan Persinggahan, Tapi Tujuan ; Ilustration by : NAZ

Medan Bukan Persinggahan, Tapi Tujuan ; Ilustration by : NAZ

Berita simpang siur, biasanya sih berita miring dan selalu saja diaspirasikan warga melalui media sosial. Sebab, demo bukan lagi solusi. Hari ini advokasi adalah cara yang lebih jitu untuk menyuarakan jeritan hati. Irvan ingin melakukan itu, “Ya setidaknya kita enggak perlu recok kali turun ke jalan kak. Pakai cara elegan saja untuk komplain. Aku sudah buat akun @seharidimedan dengan tagar #SehariDiMedan. Kita mainkan ini di media sosial,” ungkapnya.

Keberadaan pergerakan massif yang dilakukan di media sosial ini, harapannya untuk membentuk wacana berpikir warga agar mereka teredukasi tentang potensi wisata apa saja yang bisa dikunjungi dan dikembangkan sebagai destinasi wisata di Medan.

Kami sepakat bahwa heritage itu tidak sekedar warisan pusaka yang terpelihara saja, namun yang terbengkalai pun wajib dimasukan sebagai destinasi wisata. Alasannya, agar warga Medan mengenal dan mengetahui kalau masih ada situs sejarah yang memiliki cerita luar biasa, meskipun kondisinya jauh dari kata layak kunjung.

Jika pola pikir ini mampu menggiring wacana berpikir warga bahwa sejarah bukan sekedar objek, melainkan juga subjek, maka tidak menutup kemungkinan situs sejarah yang mungkin hampir tinggal kenangan, menjadi situs yang seksi untuk dikunjungi dan diceritakan keseksian sejarahnya. Sekalipun pada akhirnya nanti situs itu dirubuhkan, setidaknya kita sebagai warga sempat menjadi saksi sejarah tersebut, dimana nantinya dapat menceritakan kembali kisah dari kemegahan sebuah sejarah.

 

Apakah Medan Kota Wisata Kuliner?

Medan kota kuliner. Sebuah jargon yang memperkuat turis lokal datang ke Medan. Tapi, jika kita cerdas mengamati dan menganalisis akan sebuah potensi kota. Maka, wisata kuliner hanya sebagian kecil dari sebuah alasan untuk datang ke Medan. Karena ada hal yang lebih dari itu, yang bisa dijadikan alasan kenapa kita turis harus berkunjung ke Medan.

Pastilah kita sebagai warga Medan sering ditanya tentang suku asli kota ini. Tidak sedikit dari kita pun bingung menjawab pertanyaan ini. Sebab, begitu banyak suku yang ada di sini. Maka dari itu, Medan sering dijulukkin sebagai kota multietnis.

Jika kita runut lagi ke belakang tentang sejarah terbentuknya kota Medan, pada tahu enggak? Aku rasa banyak di antara kelen yang belum tahu. Berhubung aku baik, ku kasih tahulah kelen. Medan itu dulunya sebuah perkampungan, akhirnya terbentuk menjadi kota dikarenakan adanya industri perkebunan.

Keberadaan Tembakau Deli pada masa itu sebagai komoditi termahal, memicu Belanda membangun industri perkebunan di kawasan Medan sekitarnya. Apakah Medan dijajah? Tentu tidak. Belanda masuk ke Medan tidak menerapkan kerja paksa dan kerja rodi layaknya di pulau Jawa. Politik industri adalah cara mereka menguasai kawasan Medan dan sekitarnya.

Kawasan perkebunan yang terpusat di kecamatan Deli Serdang, yang mana kawasan ini mengelilingi kota Medan. Karena laju perdagangan komoditi ini, sudah pasti membutuhkan perkantoran dan pusat perekonomian di sebuah kota. Maka dari itu, kota Medan dibentuk dengan pusat perekonomiannya yang tersentralisasi di kawasan Lapangan Merdeka dan sekitarnya. Disanalah embrionya kota Medan.

Museum Perkebunan, Medan - Sumut

Museum Perkebunan, Medan – Sumut

Mengulik dua potensi tadi, multietnis dan keberadaan Tembakau Deli. Aku jadi pengen nanyak ke kelen, apakah Medan itu kota Kuliner? Tidak! Menurutku dan beberapa kawan di Medan Heritage, kami sepakat kalau Medan itu sebenarnya kota Sejarah, bukan kuliner.

Alasan ini yang memicu Irvan menggalakkan tagar #SehariDiMedan, karena kami, Medan Heritage, akan berfokus pada destinasi wisata sejarah sebagai poin penting pariwisata di kota Medan. Apakah kami berharap lebih dengan pemerintah kota? Tentu tidak! Lama sudah kami menanggalkan konsep NATO, no action talk only.

Kembali pada niat awal kami menggagas Medan Heritage ini, sebuah pergerakan yang ingin mengajak lebih banyak anak muda untuk peduli dan mencintai kearifan lokal kotanya. Oleh karena itu, metode-metode advokasi merupakan cara tepat untuk mengkampanyekan isu heritage ini.

Lah kok gitu? Itu sama sajalah dengan menjilat pemerintah? No! zaman sudah berkembang, isu heritage merupakan isu dunia. Dalam melestarikannya kita butuh kerja sama banyak pihak, salah satunya pemerintah. Landasan ini yang harus kita pegang, agar pergerakkan yang massif ini bisa menjadi sebuah perubahan bagi kota Medan tercinta ini.

Walaupun perubahan yang dihasilkan masih sederhana, setidaknya kita telah berhasil membentuk pola pikir warga, khususnya anak muda, berpikir bahwa potensi Medan itu terletak pada sejarah di balik terbentuknya sebuah kota. Hal ini juga yang menyebabkan kenapa Medan menjadi kota yang multietnis, karena keberadaan industri Temabakau Deli, sehingga pemerintahan Belanda mendirikan sebuah kota dan dari sana peradaban baru dimulai, hingga kini.

Bukti Medan Sebagai Destinasi Wisata Sejarah

Kek ginilah anak Medan, tak pernah puas dengan omongan. Mereka baru percaya kalau ada buktinya. Layaknya durian, orang tak percaya isinya lembut dagingnya, sebab kulitnya itu berduri. Nah, sekarang aku ceritakanlah sama kelen, kenapa kami, Medan Heritage bisa mengusungkan konsep baru tentang wisata di kota Medan.

Medan Heritage yang sudah bergerak sejak 31 Agustus 2013, perlahan kami belajar tentang sejarah kota, karena pada dasarnya kami tidak ada tamatan ilmu sejarah apalagi antropologi. Kami berasal dari berbagai disiplin ilmu, bersatu dengan tekad yang sama, ingin menjadikan kota Medan menjadi wisata layak huni, baik bagi warganya ataupun pendatangnya.

Turis Internasional, India & Filipina

Turis Internasional, India & Filipina

Seperti inilah woi, macam kelen ke Bandung dan Jogja, pasti ada kangen-kangennya gitu kan kalo sudah keluar dari kotanya? Berasa pengen datang lagi gitu kelen kan ke kota mereka? Nah, menciptakan rasa kangen di hati pengunjung inilah yang menjadi poin pentingnya.

Kalau kita ulas sedikit, kangen itu ada karena beberapa hal. Layaknya sepasang insan yang kasmaran, mereka cinta kenapa? Biasanya karena ada rasa suka, sama tujuan, satu minat, saling kagum, dan nyaman kan. Kek gitu jugalah menerapkan konsep pariwisata ini.

Dimulai dari apa yang membuat orang suka berkunjung ke sebuah kota. Terus mulailah mensinergikan antara tujuan pemerintahan kota, warganya, dan para pengunjungnya. Dari sana akan terlihat potensi apa saja yang bisa dikembangkan dan diterapkan ke dalam rancangan kerja Dinas Pariwisata. Selanjutnya, melakukan evaluasi, baik dari segi objek hingga subjek pariwisata.

Kalau ini bisa dilakukan secara berkala dan terus berbenah, maka rasa nyaman itu akan tercipta di hati setiap pengunjung yang mampir ke Medan. Maka tidak menutup kemungkinan, yang semulanya Medan hanya sebagai kota persinggahan, lambat laun bisa menjadi kota tujuan.

Turis Internasional, Belanda

Turis Internasional, Belanda

Ini yang pelan-pelan kami bangun dalam pergerakan Medan Heritage. Berawal di tahun 2014, Medan Heritage sudah menawarkan jasa destinasi wisata lokal. Tidak hanya turis lokal, bahkan hingga turis internasional pun kami jabani.

Tidak seperti bisnis travel kebanyakan. Medan Heritage bukanlah travel tour, melainkan sebuah wadah untuk mencari tahu dan memperkenalkan bahwa sejarah kota Medan ini keren kali lho! Itu yang menjadi landasan kami untuk menawarkan jasa ini, sehingga setiap turis yang menggunakan jasa kami, pasti kami tanya dahulu apa yang menjadi kebutuhan mereka berkunjung ke Medan.

Beragam jawaban mereka. Ada yang untuk tujuan penelitian, mencari silsilah keluarganya, kebutuhan tulisan, karena kebetulan singgah, dan ada juga yang sekedar ingin jalan-jalan saja. Berangkat dari memenuhi kebutuhan inilah kami mengemas jasa wisata ke mereka. Ya, Medan Heritage berusaha menjadi one stop solution bagi kebutuhan turis berkunjung ke kota ini.

Semua respon turis lokal dan internasional yang pernah kami pandu, mereka mengatakan kepuasan mereka atas kunjungannya ke Medan. Mereka baru sadar kalau Medan memiliki sejarah yang begitu luar biasa untuk ditulis dan diceritakan kembali ke khalayak luas. Meskipun mereka juga mengakui, masih begitu banyak situs sejarah yang kalau ini dirawat dan difungsikan kembali, justru menjadi nilai jual tinggi di sektor pariwisata.

Kek gitulah Medan dan ceritanya. Kek yang kelen tahulah, kalau kita becakap tentang heritage, orang Medan pasti terpola dan mengarah ke situs sejarah, bangunan tua. Enggak percaya kelen? Berikut respon  beberapa kawan ketika aku bertanya, “kalau awak bilang heritage. Apa yang terlintas di benak kawan-kawan sekalian tentang kota medan ini?”

“Malam kak Ky.. Hemmm, kalau yang ada di pikiran Ary sih heritage itu ya ‘tua’. Iya tua karena apapun itu yang disebut heritage berarti sudah antic, unik, dan menarik. Ya mau itu benda ataupun bangunan, setiap yang sudah antic itu pasti ada nilai lebihnya yang menarik untuk kita lihatdan pelajari masa lalunya,” ujar Ary, pemilik akun instagram @UwakLen.

Heritage adalah saksi baru peradaban sebuah kota. Heritage bisa jadi bahan pertimbangan bagaimana membangun sebuah kota. Selain itu heritage juga hal yang penting karena sebagai identitas sebuah kota. Heritage enggak boleh hilang apalagi punah (tidak sama seklai) selain kehilangan identitas, generasi selanjutnya juga enggak akan tahu apa heritage kotanya sendiri,” papar Gita, penyiar di salah satu radio swasta di kota Medan.

Heritage itu peninggalan. Peninggalan yang ada di Medan : bangunan-bangunan tua, budaya, dan tingkah laku,” kata Raja, berprofesi sebagai master of ceremony.

Ini alasan Medan Heritage masih terfokus pada isu keberadaan bangunan tua. Apalagi sekarang makin-makin ya kan keberadaannya, makin miris maksudnya. Jadi keknya, sebelum makin banyak bangunan tua yang dirubuhkan demi kepentingan pembangunan, katanya. Aku dan kawan-kawan Medan Heritage terus bergerak memperkenalkan apa saja dan dimana saja site heritage kota Medan.

Karena Medan itu unik, kek yang kelen tahulah, kota lain punya yak an kawasan kota tuanya? Bahkan tersentralisasi. Nah, Medan dimana coba? Orang bilang sih di Kesawan, Jalan Ahmad Yani. Itu mah bagi awak bukan kawasan heritage. Seharusnya yang dikatakan kawasan itu macam komplek, dia lokasinya khusus dan eksklusif. Contohnya seperti Kota Tua Fatahila Jakarta, Braga Bandung, Kawasan Keraton Jogja.

Nah kek gitu baru disebut kawasan kota tua. Dia khusus dan tersentralisasi. Kalau kota Medan, masih terpisah-pisah dan bercampur dengan bangunan-bangunan modern. Masih sanggup kelen bilang Kesawan itu kawasan kota tuanya Medan? Aku sih no! Jangan kita biarkan Medan menjadi hutan beton, taman besi. Kita hanya menjadi penonton, tapi para penguasa beraksi.

Yuklah woi, kita gerak bersama memperkenalkan dan menyuarakan keberadaan heritage di kota Medan. Sama-sama kita suarakan di media sosial, dengan mengunggah informasi positif meskipun kondisinya tak layak, dan ingat untuk mengusulkan solusi yaaaa.. supaya kedepannya Medan Bukan Persinggahan, Tapi Tujuan. Save Our Heritage!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *