Menumbuhkan Kecerdasan Emosional Anak

Di era globalisasi ini sangat banyak problematika yang ditampilkan oleh seorang anak. Hal ini banyak mengundang keluhan dari kalangan para orang tua, khususnya ibu yang senantiasa mendampingi tumbuh kembang anak mereka selama di rumah.

Berbicara tentang pola asuh bukan sekedar berbicara tentang bagaimana orang tua mengajarkan apa yang baik dan bagaimana berperilaku benar dalam suatu interaksi sosial. Namun, makna dari pola asuh sangatlah luas. Pada kamus besar dikatakan bahwa pola asuh adalah suatu sistem dalam menjaga, merawat, mendidik, dan membimbing anak kecil. Sedangkan pola asuh secara definisi beberapa teori yakni, suatu sistem pengasuhan yang berlandaskan kepemimpinan, bimbingan yang diterapkan pada anak berkaitan dengan kepentingan hidupnya.

Menumbuhkan Kecerdasan Emosional AnakTahukah ibu? Pola asuh memiliki peranan penting dalam menumbuhkembangkan kecerdasan emosional anak. Kemampuan orang tua dalam mengasuh anak-anak mereka dalam mengenalkan jenis-jenis emosi dan mengajarkan cara mengelola emosi dengan tepat merupakan modal awal orang tua untuk membentuk karakter anak yang percaya diri dan bertanggung jawab.

Pasti para pembaca bertanya-tanya, sebenarnya apa sih kecerdasan emosi itu dan bagaimana sih cara mengelola dan menerapkannya pada anak? Yuk, simak artikel ini lebih lanjut dan saya akan paparkan kepada kamu, para calon ibu dan ayah.

Menumbuhkan Kecerdasan Emosional Anak (Emotional Intelligence)

Pengertian Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence)

Kecerdasan emosi (emotional intelligence) adalah kemampuan dan keterampilan seseorang dalam menerima, menilai, mengelola serta mengontrol emosi dirinya dan emosi orang lain, bahkan kelompok. Mampu membedakan dan mengelola emosi dalam mengarahkan pemikiran dan perilakunya sehari-hari.

 

Faktor Yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence)

Dalam kecerdasan emosional, ada dua faktor yang mempengaruhi emosi seorang anak yakni, faktor internal yang datangnya dari dalam diri si anak dan faktor eksternal yang berasal dari luar diri (lingkungan) si anak.

Faktor Internal : bersumber dari dua aspek yakni, jasmani dan psikologis. Jasmani diantaranya fisik dan kesehatan, jika kedua ini terganggu maka akan mempengaruhi emosi si anak. Psikologis, yakni mencakup pengalaman, perasaan dan kemampuan kognitif si anak. 

Faktor Eksternal : faktor ini dipengaruhi oleh lingkungan, diantaranya lingkungan keluarga, sosial, dan sekolah.

 

Lima Kategori Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence) :

Menumbuhkan Kecerdasan Emosional Anak

 

Setiap orang akan berbeda kemampuannya dalam menerapkan setiap kategori tersebut. Akan tetapi, dengan kamu mengenali emosi diri sendiri maka akan memudahkan untuk mengelola emosi anak. Layaknya hukum para pendidik, “Jika kamu ingin berbagi pendidikan, maka kamu harus tahu ilmu apa yang akan kamu bagi.” Begitulah konsep yang bisa diterapkan dalam menumbuhkan kecerdasan emosional pada anak.

Nah, jika kamu sudah tahu kecerdasan emosional secara definisi dan kategori, maka pada pembahasan selanjutnya saya akan membahas tentang bagaimana cara menumbuhkan kecerdasan emosional anak.

 

Menumbuhkan Kecerdasan Emosional Anak

“Mengenal emosi dengan tepat, menjabarkan dengan tepat, mengelolanya dengan tepat, sehingga output-nya juga baik,” begitulah ungkapan perempuan berhijab pemilik nama lengkap Widya Damayanthi, selaku Resouceful Parenting Indonesia dalam salah satu program TV pada tanggal 15 Mei 2015 lalu.

Menumbuhkan Kecerdasan Emosional Anak (Emotional Intelligence)

 

Beliau juga mengatakan bahwa kecerdasan emosi bisa ditingkatkan dengan cara mengasah kemampuan anak dalam memahami emosinya. “Ini bisa dilakukan sepanjang hidup manusia,” tegasnya. Jadi, pada dasarnya tingkat emosi anak masih bisa dikontrol dan dirubah, jika orang tua menggunakan pola asuh secara tepat dalam membentuk karakter anak mereka.

Seperti yang sudah saya paparkan di paragraf sebelumnya terkait lima kategori kecerdasan emosional, maka kelima kategori ini bisa dijadikan acuan untuk menumbuhkan kecerdasan emosional anak. Berikut penjelasannya :

Pertama, kenali emosi anak. Cara mengembangkan kecerdasaan emosional anak yakni berawal dari emosi orang tuanya. Di sini orang tua harus mengenali bagaimana emosi si anak, yakni dengan mengenali perasaan si anak sewaktu perasaan itu terjadi karena hal ini sebagai dasar dari kecerdesan emosional anak. Kemampuan memantau perasaan anak dari waktu ke waktu adalah hal yang sangat penting dalam pemahaman anak mengelola emosinya.

Kedua, mengelola emosi anak. Setelah mengenali, orang tua juga harus bisa mengelola emosi. Artinya, bagaimana menangani emosi anak agar terungkap dengan tepat. Kemampuan orang tua dalam menghibur anak dan membantu melepas kecemasan anak., kemurungan, ketersinggungan atau bahkan akibat-akibat yang muncul dari kegagalan.

Ketiga, memotivasi anak. Memotivasi anak dengan cara menata perasaan sebagai alat untuk mencapai tujuan dalam hal pemberian kasih sayang, perhatian untuk memotivasi anak dalam mengelola dan mengembangkan kreatifitas anak.

Keempat, memahami emosi anak. bagaiamana orang tua memahami emosi anak, artinya bagaimana orang tua empati dalam merasakan apa sih yang dirasakan oleh anak saat ini, sehingga orang tua menggunakan metode tepat dalam menyikapi emosi anaknya.

Kelima, membina hubungan dengan anak. Setelah orang tua mampu mengindentifikasi, lalu mampu mengenali dan mampu mengelola perasaan anak, maka kebutuhan lain dalam meningkatkan kecerdasan emosional anak adalah membina hubungan baik dengan anak. Orang tua bisa mencontohkannya dengan berprilaku baik dengan orang lain secara emosional.

Keenam, membangun komunikasi dengan anak. Berkomunikasi dengan hati adalah metode paling tepat dalam menumbuhkan kecerdasan emosional anak.  Artinya, berikan waktu kepada anak untuk dapat mengungkapkan apa yang menjadi keinginannya dan apa yang sedang ia rasakan.

Setelah kamu mengetahui cara menumbuhkan kecerdasan emosional anak, selanjutnya saya akan memaparkan beberapa kasus yang sering dihadapi orang tua pada masa kini, dimana gadget dapat menimbulkan agresifitas anak dalam merespon emosinya.

emosi

KASUS :

Anak berusia 12 tahun, berinisial AB. AB sedang memainkan gadget yang berisikan games, datang temannya bernama BC, ingin meminjam ataupun berbagi tontonan. Akan tetapi, AB menolak BC dan menyuruhnya menjauh. Kemudian, orang tua AB datang dan berkata pada AB untuk sharing dengan temannya. Namun, AB bersikeras menolak dan merengek tidak mau berbagi dengan BC. Orang tua AB memutuskan untuk menghukum AB dengan mengambil gadget-nya dan AB pun menangis dan meronta-ronta akan kejadian ini.

ULASAN :

Dalam mendidik anak apalagi pada kasus anak yang selalu merengek akibat keinginannya tidak terpenuhi. Hal ini tidak dianjurkan orang tua untuk mendidik dengan emosi “marah”. Namun, orang tua disarankan untuk membicarakannya pada anak dengan cara tenang dan lemah lembut. Marah bukanlah solusi bagi komunikasi orang tua dan anak. Justru hal ini dapat menimbulkan kekesalan pada anak yang menyebabkan mereka melakukan penolakkan atas perilaku yang benar.

Lakukan dengan cara lemah lembut agar secara emosional anak mudah untuk menerima peraturan atau didikan yang dimaksud. Disamping itu juga, beri tahu kepada anak apa saja yang menjadi dampak positif ketika anak mau berbagi dengan teman-temannya. Mungkin bisa seperti, permainan jadi lebih seru, anak jadi ada teman bermain, atau bisa juga dengan mengatakan bahwa berbagi itu bisa membahagiakan orang lain dan itu bagian dari ibadah.

Usia 12 tahun adalah usia transisi, dan biasanya anak pada usia ini cenderung tidak setuju dengan pola asuh orang tua yang “menyita” mainan. Sebaiknya, orang tua melakukan diskusi dengan cara memberi policy pada anak dan menjelaskan bahwa larangan tersebut bukan untuk menghukum sepihak melainkan konsekuensi yang didapat anak jika tidak berperilaku baik.  Contoh, boleh main games dua kali dalam seminggu, tapi pada saat anak liburan sekolah. Dengan memberikan batasan seperti ini, maka dengan sendirinya orang tua mengurangi tingkat candu games pada anak, sebab emosi yang ditampilkan anak bisa saja bukan karena sifat bawaan (genetic), melainkan karena faktor eksternalnya.

Kosekuensi diberikan bertujuan agar anak memiliki pemahaman bahwa untuk mendapatkan sesuatu itu ada aturannya dan ini mampu membentuk karakter anak secara emosional. Jika komitmen ini diberikan maka resiko orang tua dalam menghadapi emosinal anak juga lebih rendah. Selain itu, orang tua juga harus mencari tahu terlebih dahulu sejak kapan perilaku tersebut muncul. Apakah terjadi di usia saat ini atau justru sudah ada dari sejak lahir. Jika baru, maka orang tua harus mendiskusikannya pada anak kenapa ia bersikap demikian dan coba untuk berbagi solusi yang tepat pada anak.

Dalam menerapkan pengembangan kecerdasan emosional anak, orang tua harus menyesuaikan stimulus yang diberikan dengan peraturan-peraturan yang mereka tetapkan. Salah satu metode yang bisa digunakan sebagai stimulus yakni, metode “bercerita.” Pada dasarnya seorang anak senang mendengar suatu cerita atau film. Di sini orang tua bisa menggunakan metoda “bercerita” dalam mengajarkan hal-hal baik pada anak dan juga dalam mengenali perasaan atau emosi mereka.

“Jadi orang tua tidak hanya sekedar mengajarkan melainkan juga mampu memberi contoh bahwa orang tua pun mampu berhubungan baik dengan orang lain dan tentunya dengan memiliki kecerdasan emosional yang baik pula. Hal ini dilakukan karena anak itu sangat mudah mencontoh, maka berilah contoh yang baik jika menginginkan perilaku anak menjadi baik,” tambah Ibu Widya menegaskan penjelasan saya di atas.

Menumbuhkan Kecerdasan Emosional Anak

Adapun manfaat yang didapatkan jika orang tua mampu menumbuhkan kecerdasa emosional anak, yakni :

  • Kecerdasan emosional anak akan terlatih.
  • Anak mampu menguasai gejolak emosinya.
  • Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
  • Bisa menjalin hubungan baik dengan orang lain.
  • Mampu mengatasi stress diri.
  • Mampu memotivasi diri untuk maju.

Para ahli juga mengatakan bahwa seorang anak yang memiliki kecerdasan emosi yang baik akan lebih cenderung memiliki rasa empati dalam berinteraksi sosial. Sebab, anak tersebut akan lebih peka secara emosi dan mampu beradaptasi secara baik terhadap lingkungan sekitarnya. Jadi, sangatlah wajar seorang anak dengan kecerdasan emosional yang baik memiliki banyak teman dan selalu dirindukan kehadirannya oleh lingkungannya.

Tips

Nah, masihkah kamu mengabaikan kekuatan dari kecerdasan emosi sebagai salah satu aspek penting dalam pola asuh anak? Hmm, saya rasa tidak, sebab banyak penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosional 80% memiliki peranan keberhasilan seseorang kedepannya. Baiklah, artikel ini akan saya tutup dengan beberapa tips dalam menumbuhkan kecerdasan emosional anak. Berikut tips-nya :

  • Ajarkan anak mengelola dan merasakan perasaannya sendiri, seperti membedakan perasaan sedih, marah, atau gembira.
  • Bimbing mereka menyalurkan emosinya secara tepat.
  • Berikan stimulus yang tepat dengan memberikan pilihan aktifitas yang beragam, membacakan cerita dan memberikan berbagai contoh yang positif, agar anak dapat membedakan jenis-jenis emosi.
  • Mangajarkan asertifitas : ajarkan anak untuk berterus terang, mengungkapkan ketidaksetujuaannya yang mana menjadi sumber perasaan negatif yang dialaminya. Dengan mengajarkan hal ini berarti sudah membentuk anak untuk tidak mengekspresikan emosi secara agresif.
  • Berikan waktu dan dukungan. Berikan hal ini saat anak ingin mengungkapkan perasaannya dan menceritakan masalah-masalah yang dialaminya.  Bercerita bisa jadi cara efektif untuk melepaskan emosi. Anak akan merasa lebih nyaman bercerita dan melepaskannya.
  • Meningkatkan kemampuan anak untuk memahami perasaan orang lain dan bagaimana bereaksi terhadap perasaan orang lain secara tepat, yakni dengan memberikan kasih sayang yang cukup. Dengan menerapkan keduanya, ini akan memudahkan anak untuk lebih sensitive terhadap perasaan orang lain.
  • Role model, yakni anak akan melihat bagaimana anda mengelola emsoi. Maka, jadilah role model yang baik bagi anak.

Sekian artikel tentang Menumbuhkan Kecerdasan Emosional Anak, semoga menjadi bacaan yang bermanfaat bagi para pembaca dan bisa dikembangkan dalam terapan ilmu lainnya.

One Response
  1. Bunda Husna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *