Pesona Aceh Hari Ini

Aceh, sebuah nama provinsi yang sudah sejak tahun 2007 ingin aku singgahi. Entah mengapa begitu kuat keinginan ini memanggil raga untuk segera berkunjung ke daerah mu. Walaupun awalnya aku enggak pernah tahu apa tujuan ku ke sana. Hanya saja ada seorang sahabat yang senantiasa memotivasi ku untuk ke kota yang sangat terkenal akan pantai pasir putihnya.

Pesona Aceh Hari Ini

“Dok, Dok, kita kudu sampai ke Aceh Dok. Keren neh destinasi Dok. Ini kudu masuk list petualangan kita,” ungkap sahabat ku Ronal, yang biasa kami panggil dengan sebutan Om Onal. Bukan, dia bukan om kandung ku tapi karena aku dan teman-teman kuliah sudah menganggap dia sebagai bapak kami sendiri yang doyan ngayomi, akhirnya kami memutuskan untuk memanggilnya dengan sebutan tersebut.

Aceh yang aku kenal hari ini adalah sebuah daerah yang sudah kembali bangkit dari keterpurukan yang telah diluluhlantakkan ombak tsunami di penghujung 2004 silam. Ya, siapa yang tak kenal dengan tragedi tsunami di 26 Desember 2004.

Mungkin sebagian dari kita sudah lupa dengan peristiwa pilu yang menarik perhatian belasan negara di dunia untuk turut berkontribusi akan kepedihan Aceh. Namun, aku tidak. Setiap tanggal 26 Desember, aku merasa ada jiwa yang memanggil nurani ku untuk tetap berdoa untuk Aceh, untuk bangsa ini agar tak lagi dilanda bencana yang tidak hanya membuat rusak fisik, melainkan kerusakan mental dan moralitas.

Aceh, nama yang semakin tak pernah bisa aku kubur dalam ingatan hari ini. Perjalanan yang aku mulai di 30 Desember 2015 kemarin merupakan awal aku semakin mencintai daerah ini dan membuat rasa rindu ini terus menebal setelah kepulangan dari sana.

Hijau, asri, cerah, sawah, gunung, segar, tenang, dan indah. Begitulah deskripsi perasaan ku saat berada dalam perjalanan dari Kota Medan menuju Banda Aceh. Aku yang rombongan bersama keluarga, ada papa, mama, kakak, abang, dan ponakan. Membuat perjalanan kami ramai dan semakin seru. Tidak ada rasa letih yang menyinggapi, sungguh!

Nasution's Family

Nasution’s Family

Gimana tidak, celoteh bocah yang terus tanpa henti memecahkan suasana membuat perjalanan jauh ini terasa dekat. Ditambah suasana pemandangan yang tak habisnya dihiasi dengan lukisan hamparan sawah dan pegunungan. Ya, serasa melihat lukisan ku sewaktu SD dulu, gunung, hutan, sawah, rumah gubuk, dan jalan lurus. Ehehe, iya.. ini seperti lukisan, karya yang tak kan bisa ku nafikkan keindahan dari goretan Sang Pencipta. Sang maestro yang Maha Sempurna dan Maha Kaya.

Aceh, belum lagi aku sampai ke tujuan utama liburan ini tapi aku sudah sangat yakin kalau Banda Aceh itu memang keren. Bagaimana tidak, sepanjang perjalanan menuju Banda Aceh saja mata ku terus ditelanjangi dengan pemandangan seperti ini. Aku biarkan hasrat itu terpuaskan dari balik jendela mobil yang terus melaju lurus dan kencang. Sesekali ku julurkan tangan keluar jendela hanya untuk menikmati derasnya hembusan angin yang sangat segar dan masih asri ini.

Kurang lebih 15 jam kami menghabiskan waktu diperjalanan dan akhirnya tiba di Banda Aceh pada pukul 02.30, dini hari. Memang badan terasa penggal semua dan mata juga setengah sadar. Namun, rasa bahagia yang tak sabar menunggu pagi segera cerah terus menggelumuti fikiran ku. Ya, memang pesona Banda Aceh ingin sekali ku telanjangi segera, baik itu wisata pantainya, museumnya, bangunan taunya, kulinernya, hingga pasar rakyatnya. Aku benar-benar ingin sekali mengeksplor kota ini.

Hari Pertama

“Bouk Piti, Bouk Piti. Bangun, mandi Bouk Piti. Kata opung kita mau jalan-jalan,” sahut si Keke, ponakan ku yang ketiga dan pemilik nama lengkap Khayla Mumtaz Nasution. Perlahan ku sadarkan diri dari tidur lelap pagi itu. Seketika aku tersadar,”Eh, ini kan aku lagi di Banda Aceh.” Sontak tubuh ku langsung bangkit dan bergegas mandi.

Selepas mandi dan sarapan, kami pun segera bergegas masuk ke dalam mobil dan meluncur ke destinasi pertama yakni, Museum Tsunami Aceh yang beralamat di Jl. Sultan Iskandar Muda, Aceh. Sekitar 3 menit dari hotel tempat aku dan keluarga menginap. Iya, sangat dekat.

Museum Tsunami Aceh adalah sebuah museum yang berada di Banda Aceh, dimana dibangun sebagai sebuah monumen simbolis untuk bencana gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004 sekaligus pusat edukasi dan tempat perlindungan darurat jika suatu waktu tsunami terjadi lagi.

Museum yang dirancang oleh arsitektur asal Indonesia yaitu Bapak Ridwan Kamil, yang juga seorang Walikota Bandung hari ini. Museum yang bertemakan “Rumoh Aceh as Escape Hill” diresmikan oleh Bapak Susilo Bambang Yudhoyono pada 27 Februari 2009 dan beroperasi pada 8 Mei 2011. Museum ini berupa bangunan dengan empat lantai dan relief geometris menghiasi bagian luar bangunan membentuk lengkungan.

Pengalaman pertama yang disuguhkan museum ini saat memasuki Ruang Renungan yakni, nuansa dimana kita bisa merasakan kembali suasana dan kepanikan saat tsunami terjadi. Desain lorong sempit dan gelap di antara dua dinding dengan aliran air di setiap dindingnya, ditambah dengan percikan air dan suara sayu-sayu riuh yang ditampilkan membuat bulu kuduk ku merinding saat melewati lorong ini. Ya, sempat aku meneteskan sedikit air mata. Teringat kembali derita Aceh pilu kala itu, dimana gelombang setinggi 18 meter telah meluluhlantakkan Aceh dan memakan 240.000 korban jiwa.

Museum Tsunami Aceh : Ruang Renungan

Museum Tsunami Aceh : Ruang Renungan

Selanjutnya aku sampai di Ruang Kenangan. Di ruangan ini ada sekitar 26 blok berbentuk kepala makam, yang berisikan monitor kumpulan foto-foto tragedi Tsunami Aceh. Mungkin saja ini simbolis tanggal terjadinya tragedi Tsunami Aceh. Selain itu, dinding di ruangan ini berupa cermin yang mana akan memantulkan blok-blok tadi sehingga jika dipandang mata, blok tersebut akan berjumlah ribuan. Ini merupakan pesan bahwa Tsunami Aceh telah memakan banyak korban pada saat itu.

Museum Tsunami Aceh : Ruang Kenangan

Museum Tsunami Aceh : Ruang Kenangan

Sekilas hati ku berdecak kagum pada Bapak Ridwan Kamil,”Beliau benar-benar orang yang pintar. Bisa berimajinasi sekeren ini.” Langkah ku berlanjut ke ruangan kumpulan nama-nama para korban tsunami, disebut dengan Cerobong Doa. Ruangan ini cukup banyak aku lihat dalam postingan instagram teman-teman ku. Ternyata benar, ruangan ini sama kerennya dengan hasil jepretan mata kamera teman-teman ku.

Desain yang berbentuk bulat dengan ornamen nama korban di susun melingkar hingga ke atas, membentuk pusaran. Pada langit-langit ruangan ada ukiran bertuliskan nama Allah dengan tembias cahaya yang membuatnya semakin mesra dipandang. Ditambah pula ruangan dengan cahaya redup dan suara sayu-sayu riuh seperti yang aku temukan saat pertama kali memasuki Museum Tsunami Aceh tersebut.

Museum Tsunami Aceh : Cerobong Doa

Museum Tsunami Aceh : Cerobong Doa

Ruangan ini mungkin sengaja dirancang untuk menunjukkan pada para pengunjung bahwa segagah apapun kita, sekaya apapun, sekuat dan sehebat apapun, ketika bencana datang dan meluluhlantakkan. Tetaplah kita akan kembali pada-Nya. Sang Pencipta yang akan mematikan, menghidupkan, dan membangkitkan kita kembali, dari gelap menuju terang. Ya, Allah lah tempat berpulang kita dari segala hiruk pikuk dunia. Dan bulu kuduk ku masih saja terus merinding.

Kemudian aku lanjutkan lagi menuju Terowongan Harapan, dimana dari gelap menuju terang sebagai perlambangan bahwa rakyat Aceh telah bangkit dari tsunami. Disambut satu jembatan lurus yang menghubungkan antara gedung utara ke selatan (lantai 2). Dimana di bawah jembatan terdapat kolam besar dengan riak air yang terhembus udara lepas dari sekeliling gedung tanpa pintu dan jendela. Tampak di langit-langit gedung bendera 35 negara yang turut membantu kebangkitan Aceh dari tragedi tsunami pada waktu itu.

Museum Tsunami Aceh : Terowongan Harapan

Museum Tsunami Aceh : Terowongan Harapan

Desain ini sebagai simbolis bahwa Aceh Hari Ini telah bangkit dari pilu yang berkepanjangan. Aceh telah berhasil bangun dari tidur panjangnya, dari gelap menuju terang, dari terpuruk menuju kejayaan. Ya, inilah Aceh Hari Ini. Semakin maju dan berkembang, serta berhasil bangkit untuk menjadi kota yang lebih baik lagi dan berdampingan dengan alam, berkat bantuan dunia.

Pada lantai 2, pengunjung diajak untuk menyaksikan kesaksian Tsunami Aceh dalam film pendek durasi 9 menit. Ruangan ini disebut Ruang Video Tsunami. Disebelahnya terdapat Ruang Display dan Ruang Sains tentang tsunami dan gempa bumi. Di sini pengunjung dimanjakan dengan benda-benda yang kala itu menjadi saksi bencana Tsunami Aceh. Mulai dari jam klasik yang menunjukkan waktu terjadinya tsunami (pukul 08.17 WIB), hingga benda-benda seperti Al-Qur’an, sepeda motor, pigura tsunami, dan lain sebagainya.

Museum Tsunami Aceh : Jam Penunjuk Waktu Tsunami Terjadi

Museum Tsunami Aceh : Jam Penunjuk Waktu Tsunami Terjadi

Petualangan aku lanjutkan hingga ke lantai 3. Tibalah aku di Ruangan Geologi. Di ruangan ini pengunjungan disuguhkan Beragam pengetahuan tentang proses terjadinya tsunami dan gempa bumi. Tidak hanya seputar pengetahuan berupa bacaan saja, melainkan juga ada tayangan audio visual yang ditampilkan dalam layar televisi sehingga memudahkan pengunjung untuk memahami proses terjadinya tsunami.

 

Tidak terasa ternyata aku sudah menghabiskan waktu selama 2 jam setengah berkeliling menikmati ketakjuban rancangan Bapak Ridwan Kamil ini. Ya, tak kan ada karya yang luar biasa tanpa ada objek yang mendukung imajinasinya yakni, tragedi Tsunami Aceh. Beliau telah berhasil memvisualisasikan Museum Tsunami Aceh sesuai penamaannya. Semua ini didukung dengan bentuk gedung yang menyerupai PLTD Apung, jika dilihat dari depan. Namun, jika dilihat dari atas bentuk gedung menyerupai gelombang tsunami. Ditambah dengan hiasan dinding gambar orang-orang menari Saman, sebuah makna simbolis terhadap kekuatan, disiplin, dan kepercayaan religius suku Aceh.

“Diharapkan kepada para pengunjung untuk segera mengosongkan area museum, karena waktu sudah memasuki jam istirahat. Dan akan dibuka kembali pada pukul dua siang nanti,” sang petugas informasi memperingatkan bahwa jam kunjung trip pertama sudah berakhir. Lalu, aku berkumpul kembali dengan keluarga di gerbang pintu masuk.

Perut pun mulai berdendang, pertanda destinasi berikutnya adalah wisata kuliner. Ya, kami memutuskan untuk berkunjung ke salah satu warung nasi yang cukup terkenal di Banda Aceh, kira-kira sekitar 20 menit dari Museum Tsunami Aceh.

Meski sedikit mendapati jalan berlubang-lubang dan dikelilingi sawah-sawah, akhirnya kami tiba di Warung Nasi Bang Gam. Hm, mata ku lagi-lagi disuguhkan dengan pemandangan sawah yang seperti ambal tebal berwarna hijau ini.

Hamparan Sawah di Warung Nasi Bang Gam

Hamparan Sawah di Warung Nasi Bang Gam

Dengan desain tempat makan lesehan di dalam pondok dan ditemani dengan sepai-sepoi angin sawah, serta dimanjakan dengan suara-suara gesekan padi dan burung yang bercicit-cuwit ria. Masya Allah, nafsu makan siapa yang enggak semakin menggila dengan lukisan Tuhan yang Maha Sempurna dan membuat ku semakin gila mencintai-Nya. Alhamdulillah walaillahailallah wallahuakbar.

Ready to rock??? Sudah siap berenang pantai?” tanya Kak Mima dengan semangat, ya dia adalah kakak pertama ku. Serentak sang ponakan menjawab,”Let’s goooo Bouk Imaaaa!” Dan mobil kami pun melaju melanjutkan perjalanannya menuju Pantai Lampuuk. Katanya sih pantainya pasir putih dan buat ngiler untuk nyemplung. Oh iya? Hmmm…

Sekitar 40 menit perjalanan, akhirnya kami tiba di Pantai Lampuuk. Saat memasuki pintu gerbang sih rasanya biasa saja deh nih pantai. Sekilas seperti pintu masuk Pantai Cermin yang terdapat di Medan. Namun, bayangan itu aku tepis,”Ah, enggak mungkinlah. Pasti kerenan ini.”

Masya Allah. Lagi-lagi puja-puji atas Allah aku panjatkan terus. “Ini baru pantai!” gumam ku dalam hati. Pasir putih, air pantai hijau paduan biru, dan ornamen gunung menambah lengkap lukisan Tuhan yang satu ini. Tiba-tiba ada suara dari arah belakang ku,”Bouk Piti, ayokla kita nyebur. Mandi pantai,” celoteh si Lila, ponakan ku nomor dua si pemilik nama lengkap Khalilah Aisyah Putri Nasution.

Lalu si tiga bocah itu lari menuju arah pantai dan menyeburkan diri. Begitu ceria wajah mereka melihat air yang begitu bersih di depan mata. Ya, siapa juga yang tak kan bersyukur dengan keagungan Allah SWT yang satu ini. Bahkan kalau aku di suruh memilih untuk tinggal di Banda Aceh, mungkin seminggu dua kali aku bakal bikin jadwal untuk main ke pantai. “Indahnya, Masya Allah. Oh Banda Aceh.”

Pantai Lampuuk

Pantai Lampuuk

Mengapa hati merasa bahagia ketika melihat pantai? Mengapa hati terbebas penat ketika menikmati hamparan gunung? Mengapa hati lebih mampu bernafas ketika mendengar deburan ombak yang saling berkejaran memecah buih di lautan?
Itu pertanda, Allah lebih ahli membuat kita bahagia. Lalu, apa alasan kita bermuram durja pada suatu masalah? Seakan hidup tak berpihak pada solusi. Sedangkan hati kecil kita tahu, Allah yang paling jago membuat kita bahagia.
Maka, tertawalah tanpa batas.
Berbahagialah dengan cerdas.
Sebab, Allah lebih mencintai kita hidup ikhlas dan bergantung pada-Nya, bukan pada ciptaan-Nya. Jika kita belum bisa berbahagia, mungkin ikhlas kita kudu lebih di asah.

Sekilas perenungan ku pada hari pertama menghabiskan waktu sore di pantai sambil menikmati deburan ombak memecah buih di lautan, sembari memanjatkan doa pada-Nya bahwa kecintaan ku tak kan lagi mengalahkan kecintaan apapun selain Dia.

Hari Kedua

Hari kedua di Banda Aceh, bertepatan pada hari Jumat. Kami sekeluarga memutuskan untuk melanjutkan perjalanan hari ini setelah ibadah shalat Jumat. Sambil menunggu para lelaki ibadah shalat Jumat, kami yang perempuan beserta para bocah, memutuskan untuk mengunjungi Museum Kapal PLTD Apung. Ternyata, kami belum beruntung karena mengingat hari itu merupakan tanggal merah.

Kami pun merubah haluan menuju Pasar Atjeh. Ya, biasalah. Bukan perempuan namanya kalau tidak ada sesi belanja di sela-sela waktu liburan. Sudah tentu yang diburu adalah oleh-oleh panganan Aceh. Mulai dari dodol, keripik, roti bhoi, pisang saleh, emping, asam aceh, hingga kopi pun di buru.

Pasar Atjeh

Pasar Atjeh

Tapi berbeda dengan ku. Aku lebih memilih untuk berburu kerajinan tangan khas Aceh. Apalagi kalau bukan tas Aceh. Pilihan ku pun jatuh pada tas ransel berwarna biru dengan ornamen rajutan pink dan putih. Ya, ini sungguh ciamik. Terkesan girly tapi sporty. Harga kerajinan di pasar Aceh ini beragam. Mulai dari harga 5 ribu rupiah, berupa gantungan kunci. Harga puluhan ribu, berupa tas kecil dan dompet. Hingga harga ratusan ribu, berupa tas besar dan songket khas Aceh. Siapa yang tak kalap mata berbelanja di sini. Murah dan sangat terjangkau, serta memiliki kualitas yang baik untuk dikonsumtif.

Tidak terasa waktu untuk belanja begitu cepat berlalu, dan kami bergegas kembali ke hotel. Sekitar pukul 14.00 WIB, kami tiba di hotel dan berkumpul di ruang makan. Lalu, bergegas untuk berangkat makan siang. “Karena tadi Museum Kapal PLTD Apung enggak buka, berarti kita langsung cari makan terus lanjut ke pantai lagi ya,” ujar abang ipar ku. Lalu, kami sepakat dan bergegas pergi melanjutkan perjalanan.

Selepas makan siang di salah satu restoran fast food yang enggak pernah sepi di Banda Aceh, kami melanjutkan perjalanan menuju arah Meulaboh. Sebenarnya, perjalanan hari ini agak sedikit galau, antara Pantai Lhoknga atau Pantai Sahid. “Pantai Sahid saja, soalnya kan pas kita melaju di jalannya itu, banyak kabut-kabut air dari percikan deburan ombak pantai. Keren kali lho,” hasut kakak ipar ku pada suaminya saat itu.

Setelah konfirmasi dengan rombongan abang ipar ku, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan ke Pantai Sahid. Meskipun sebenarnya kami sudah tiba lebih awal di Pantai Lhoknga. Namun, karena rayuan kakak ipar ku yang super dahsyat, kami pun berhasil meneruskan perjalanan.

Sekitar satu jam diperjalanan, tapi kami tak kunjung tiba juga di Pantai Sahid. Abang ipar ku pun memutuskan untuk menyudahi perjalanan dan kembali lagi ke arah Pantai Lhoknga. Sebab, cuaca sore itu sudah mulai gelap. Dikhawatirkan tidak akan dapat sunset lagi.

Sunset di Pantai Lhoknga

Sunset di Pantai Lhoknga

Setibanya di Pantai Lhoknga, kami masih sempat untuk mencelup-celupkan kaki. Ya, walaupun harus batal untuk mandi-mandi di pantai ini. Tapi, kami sekeluarga tetap menikmati momen sunset yang tak kan di dapat ketika balik ke Medan. Semua kegiatan bersama pun kami abadikan. Ini yang aku sebut ber-selfie ria, cekrek!

Sekilas Tentang Pantai Lhoknga

Pantai Lhoknga terletak di Selatan Pantai Lampuuk. Ombaknya yang garang menjadikan pantai ini sangat terkenal di komunitas peselancar internasional. Jika di Pantai Lampuuk dikenal dengan rekreasi Banan Boat-nya. Di Pantai Lhoknga lebih dikenal dengan rekreasi lapangan golf, aktivitas surfing, dan memancingnya. Ada lima titik yang menjadi ombak terpopuler di pantai ini, salah satunya Suri Point. Nama ini sebagai bentuk dedikasi kepada peselancar lokal yang bernama Suri, dimana tewas ketika Tsunami Aceh 2004. Semasa hidupnya, Suri merupakan orang yang spesialis berselancar di titik ini.

Wisata Kuliner Aceh

Tak lengkap rasanya jika liburan tidak menikmati wisata kuliner. Bagiku liburan bukan sekedar menikmati wisata alam dan bangunan tua saja, apalagi hanya sekedar belanja. Tentu tidak. Liburan akan semakin lengkap ketika kita bisa menikmati wisata kuliner, dimana panganan tersebut belum tentu kita temukan di Kota Medan.

Mungkin enggak semua kuliner yang akan aku sajikan dalam tulisan ini. Hanya lima macam panganan yang menurut ku unik dan wajib kawan-kawan kunjungi jika mampir ke kota Serambi Mekkah ini. Berikut rekomendasi ku :

Kuliner Aceh : Sate Matang

Kuliner Aceh : Sate Matang

Sate Matang. Jika kita dengar dari namanya, mungkin kita berfikir,”Ya, iyalah sate matang,. Kalau enggak matang gimana makannya.” Begitu juga awal aku mendengar nama ini. Ternyata nama Matang karena awal mula sate ini diperkenalkan oleh sang penjual yang tinggal di Matang Geuleumpang Dua, sebuah kecamatan di Kabupaten Bireuen.

Siapa yang tak suka dengan kuliner satu ini. Hm, kalau aku emang paling hobi makan sate. Ini bukan sate sembarang sate, cukup dengan Rp 25.000/porsi kita sudah bisa menikmati kuliner khas Aceh satu ini. Sate Matang merupakan sate yang cukup unik bagiku. Penyajian sepiring sate tusuk daging, diguyur kuah kacang, dengan taburan bawang goreng, bunga lawang, dan jeruk nipis serta kecap, tanpa lontong. Membuat aroma dari daging sate semakin gurih dan manis, sungguh menggoda.

Namun, ada keunikan lain dari Sate Matang ini. Sate ini disajikan bersama nasi putih dan semangkuk kuah soto. Kuah soto ini berisi irisan kentang dan daging. Aroma sereh dalam kuah begitu kuat terasa nuansanya. Sehingga ketika kita lahab daging Sate Matang bersamaan nasi ke dalam mulut, lalu kita susul dengan menyeruput sesendok kuah soto. Hm, rasanya begitu yummy di lidah, sangat membuat selera makan ku pecah.

Kuliner Aceh : Rujak Aceh

Kuliner Aceh : Rujak Aceh

Rujak Aceh. Siapa yang tak kenal Rujak Aceh. Ya, selama ini aku menikmati rujak ini dari hasil buatan tangan mama. Tapi kali ini aku benar-benar merasakan rujak asli buatan tangan orang Aceh sendiri. Kalau selama ini yang aku tahu Rujak Aceh itu diserut. Namun, kali ini aku berkesempatan mencicipi rujak potongnya.

Tidak jauh berbeda dengan rujak serut yang pernah dibuat mama ku. Hanya saja, rasa manis dan asam yang hadir dari racikan kuliner satu ini sedikit berbeda. Ya, manis dan asamnya lebih terasa. Membuat sensasi segar sejak kunyahan pertama di dalam mulut.

Cukup dengan Rp 10.000/porsi kita sudah bisa menikmati Rujak Aceh yang segar dengan padanan cabai rawit, gula merah, asam jawa, gula pasir, garam, dan terasi di pinggir Pantai Ulee Lheue. Wuih, emang tak bisa aku dustakan lagi nikmat Allah yang satu ini,”Kapan lagi bisa bermanja ria dengan suasana seperti ini?” gumam ku riang dalam hati.

Kuliner Aceh : Nagasari

Kuliner Aceh : Nagasari

Nagasari. Mungkin bagiku kue Nagasari bukanlah kuliner yang baru, karena memang mudah ditemukan di Kota Medan. Tapi, entah mengapa rasanya sedikit berbeda dengan buatan orang Medan. Nagasari khas Aceh ini tidak terlalu manis. Rasa manis dan harum justru datang dari pisang sebagai toping dari kue ini. Secara penyajian, memang panganan ini lebih enak disantap saat hangat. Sekalipun disantap dalam keadaan hangat, begitu masuk ke tenggorokan tetap terasa segar.

Kuliner satu ini juga tergolong murah, hanya dengan Rp 50.000 kita sudah bisa dapat 42 bungkus. Dengan kata lain, harganya tidak sampai Rp 1.200/bungkus. Jika kamu singgah di Lhoksumawe, aku sarani untuk singgah ke Kedai Nagasari Cipuga Bireuen. Rasa Nagasari di kedai ini juara kali, rekom banget deh!

Kuliner Aceh : Martabak Durian

Kuliner Aceh : Martabak Durian

Martabak Durian. Selama ini yang aku tahu varian martabak itu hanya ada 4 macam, diantaranya martabak telur, martabak mesir, martabak manis, dan martabak bangka. Kali ini ada yang unik di Aceh yakni, Martabak Durian.

Awalnya aku enggak habis fikir, “Bagaimana ceritanya durian diolah pakai telur terus jadi martabak? Apa mungkin bentuknya seperti martabak manis ya?” Akhirnya khayalan ku terputus karena ajakan abang ipar ku,”Fit, turun yuk? Kita beli Martabak Durian.” Tapi karena rasa malas yang begitu besar, aku memutuskan untuk menunggunya di mobil.

“Oh, ternyata Martabak Durian itu bentuknya seperti ini,” ungkap ku setelah membuka bungkus Martabak Durian yang dibeli abang ku di Warkop Nanda Keude Geudong. Martabak satu ini ternyata menggunakan roti canai sebagai balutan terluar dari martabak. Roti canai yang diisi durian, lalu dibentuk dengan bentuk gulungan memanjang.

Memang sederhana, tapi rasanya begitu nikmat. Sebab, roti canainya agak sedikit tebal dan di masak dengan menggunakan mentega sehingga aroma sedap diperkuat bersamaan aroma durian Aceh yang sangat khas. Harganya pun sesederhana martabaknya, hanya dengan Rp 7.000/bungkus, kita sudah bisa menikmati kuliner khas Aceh ini.

Solong Coffee. Tak sah rasanya jika tak mencicipi Kopi Aceh, karena memang kota ini terkenal akan komoditi kopinya. Berhubung aku bukan penikmat kopi dan pastinya memang enggak bisa minum kopi. Jadi aku hanya bisa memaparkan harga dan proses pembuatannya saja.

Dari hasil investigasi singkat ku. Kata abang ipar ku, kopi di Solong Coffee adalah salah satu kopi yang enak di Banda Aceh. Selain menjual beragam menu kopi, ternyata mereka juga mengolah bubuk kopinya sendiri. Pabrik kopi tempat mengolahnya berada di halaman belakang café mereka. Hanya dengan ruangan seukuran 3×4 meter, mereka sudah bisa memproduksi biji kopi hitam menjadi bubuk kopi yang sangat harum.

Kuliner Aceh : Solong Coffee

Kuliner Aceh : Solong Coffee

Malam itu aku bertemu Bang Fachri salah satu pekerja yang bertugas mengolah kopi di café tersebut. “Proses pengolahan biji kopi hitam menjadi bubuk kopi itu enggak lama kak. Untuk penggongsengan biji kopi hitam memakan waktu sekitar 2 jam. Biji kopi digongseng dengan mentega. Fungsinya agar aroma biji kopi lebih tajam. Setelah itu, biji kopi yang digongseng dihancurkan menggunakan mesin penggiling biji kopi. Untuk proses penghancuran hanya memakan waktu 15 menit,” begitu papar Bang Fachri sambil tersipu-sipu malu menjawab pertanyaan ku.

Beliau juga mengaku kalau satu hari mereka bisa memproduksi sampai 500 bungkus. Ya, itu hanya dengan bermodalkan satu mesin sederhana dan satu pekerja di mini pabrik kopi mereka. Harga bubuk kopi pun sangat bervariasi, semua sesuai takaran kilogramnya. Rp 85.000 untuk ukuran 1 kilogram, Rp 42.500 untuk ukuran ½ kilogram, dan Rp 21.500 untuk ¼ kilogram.

Hari Kepulangan

Empat hari di Aceh memang enggak cukup untuk mengeksplor semua wisata di Banda Aceh ini. Apalagi kami belum sempat berkunjung ke Pulau Sabang yang letaknya di seberang Banda Aceh. Hal ini dikarenakan ombak pantai di bulan Desember memang sangat riskan untuk melakukan penyeberangan. Ternyata memang ada jadwal penyeberangan yang telah ditetapkan oleh orang pelabuhan, berikut jadwalnya :

Jadwal Penyeberangan Menuju Sabang

Jadwal Penyeberangan Menuju Sabang

Meskipun aku belum sampai ke Sabang, tapi itu pertanda aku harus kembali lagi ke Aceh. Pesona Aceh Hari Ini sangat menenggelamkan ketertarikan ku akan kekayaan alamnya. Ditambah lagi dengan rasa penasaran ku yang semakin dalam akan budaya Aceh. Oh, Aceh pesona mu berhasil menggilakkan hasrat ku!

Barang-barang pun kami rapikan satu per satu ke dalam bagasi mobil. Ya, kami sedang bergegas untuk kembali lagi ke Medan. “Liburan telah berakhir, tapi tak kan berakhir dalam ingatan dan kerinduan ku akan tanah Aceh dan pesonanya. Aku harus kembali. Amin!” harap ku di dalam hati, yang sangat berat meninggalkan kota ini.

“Kita singgah bentar yuk ke toko oleh-oleh yang di seberang Masjid Raya Baiturrahman?” ajak mama ku yang masih ingin berbelanja. Katanya sih ada barang yang dia suka dan ingin sekali ia beli. Mobil pun berhenti di pelataran toko oleh-oleh, Rencong Aceh.

Ya, seperti biasa. Aku yang kurang suka berbelanja lebih memilih menyeberang ke Masjid Raya Baiturrahman. Entah kenapa seakan masjid itu memanggil ku. Namun, setibanya di sana, lagi-lagi aku belum rezeki untuk bisa masuk. “Ya, tidak apalah. Mungkin ini cara Allah membuat ku punya alasan untuk kembali lagi ke Banda Aceh,” motivasi ku dalam hati dan berusaha menenangkan sedikit rasa kecewa ku. Akhirnya aku memutuskan hanya berfoto ria dari seberang Masjid Raya Baiturrahman.

Masjid Raya Baiturrahman

Masjid Raya Baiturrahman

“Fit, yok kita jalan,” teriak abang ku dari seberang jalan. Bergegas aku simpan handphone ku dan kembali ke dalam mobil. Perjalanan pulang pun di mulai. Sepanjang jalan pulang seperti biasa, aku selalu menikmati pemandangan nan hijau dan asri tersebut. Namun, seketika aku tersadar saat melewati beberapa masjid selama perjalanan.

“Eh tunggu dulu. Kenapa ya masjid di Aceh ini besar-besar bentuknya? Terus juga desainnya terbuka tanpa pintu dan jendela? Sama itu, banyak pilar di bangunannya dan pasti berkubah besar juga?” tanya ku bertubi-tubi kepada kakak ku, yang akrab dipanggil Bouk Ima sama ponakan-ponakan ku.

“Kalau dari segi arsitek sih, itu maknanya keterbukaan. Tapi kakak enggak tahulah ya kalau dari segi budayanya. Bisa saja ada makna tersendiri dari desain masjid seperti itu,” jawab kakak ku yang basic-nya seorang arsitektur.

Semakin saja pertanyaan itu menggalaukan ku, hingga akhirnya aku teringat sama seorang sahabat jauh. “Hm, mas Hilmi Faiq. Iya aku harus nanyak dia nih. Mungkin saja dia sempat tahu,” bersit ku dalam hati. Mas Hilmi Faiq adalah salah seorang jurnalis di Kompas Jakarta. Melalui mas Faiq, akhirnya aku terhubung dengan bang Adrian Fajriansyah.

“Saya pernah berbicara tanpa liputan dengan sejarawan Aceh Husaini Ibrahim. Dahulu, arsitektur masjid di Aceh berbentuk limasan. Seperti Meunasah itu. Bisa dilihat juga ada masjid yang berarsitektur seperti itu di kawasan Pidie menuju Bireuen. Demikian arsitektur Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh di era Sultan Iskandar Muda. Lalu, pada abad 18 masehi, Belanda masuk Aceh. Belanda menyerang Aceh. Mereka membakar Masjid Raya Baiturrahman. Orang Aceh terlecut emosinya sehingga melakukan perlawanan besar-besaran karena masjid lambang kejayaan sekaligus identitas mereka dibakar Belanda. Mereka bantai semua penjajah yang terlihat di depan mata, tak terkecuali wanita maupun lelaki, anak-anak maupun dewasa ikut membunuh Belanda yang tampak mata. Lalu, Belanda berupaya mengambil hati orang Aceh lagi. Belanda membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman pada 1877. Ketika membangun kembali, Belanda merancang masjid itu bergaya Eropa perpaduan Timur Tengah. Konon arsitekturnya orang Turki, pekerjanya orang China, dan materialnya dari Eropa. Di Turki, bangunan ibadah, terutama masjid berkubah dan memiliki banyak pilar, gaya bangunan peninggalan Romawi yang pernah menduduki Turki (Konstantinopel). Nah, gaya bangunan itu dibawa pada Masjid Raya Baiturrahman yang baru dibangun lagi di Banda Aceh. Ternyata, hasil bangunan Masjid Raya Baiturrahman baru disukai orang Aceh. Seiring zaman, Masjid Raya Baiturrahman baru menjadi idola (treat center). Masjid itu dikagumi para penguasa dan masyarakat di seantero Aceh. Karena tidak mungkin setiap hari melihat dan beribadah di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, banyak pengusaha daerah di Aceh mendirikan masjid di daerahnya dengan arsitektur serupa Masjid Raya Baiturrahman. Maka, jadilah arsitektur masjid berkubah dan berpilar-pilar menjadi trend di seluruh Aceh dan daerah sekitarnya (seperti trend K-POP yang banyak ditiru artis maupun masyarakat seantero dunia beberapa waktu lalu). Seiring itu pula, gaya arsitektur limasan mulai ditinggalkan. Gaya limasan hanya bertahan untuk bangunan Meunasah (sejenis Mushalah) di kampung-kampung. Demikian. Semoga bisa menjadi informasi awal yang baik. Terima kasih,” papar bang Adrian yang merupakan jurnalis Kompas Aceh.

Masjid Khas Aceh Berbentuk Limasan

Masjid Khas Aceh Berbentuk Limasan

Penjelasan beliau membuat aku semakin penasaran lagi. Tidak sampai di situ, aku berusaha menggali informasi kepada beliau tentang siapa kira-kira yang bisa aku wawancara untuk hal ini. Alhamdulillah, beliau memberikan ku beberapa nama yang bisa digali informasinya. Semoga pada tulisan berikutnya, aku mampu menyajikan jawaban atas kegalauan ini kepada para pembaca setia ku.

“Setiba di Medan, aku kudu kupas tuntas nih galau,” gumam ku yang terus termotivasi. Memang liburan yang benar-benar menyenangkan. Begitu banyak pelajaran yang aku ambil dari perjalanan ini, yaitu :

  • Mensyukuri akan penciptaan Allah.
  • Mensyukuri kehangatan keluarga yang selalu berbahagia.
  • Hidup berdampingan dengan alam.
  • Hidup itu butuh piknik agar tidak stress.
  • Semakin bangga akan kekayaan alam dan budaya Indonesia.

Lalu, lamunan ku dihentikan oleh rasa kantuk yang tak terbendung lagi. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur hingga tiba di Medan pada pukul 03.15 WIB, dini hari.

Demikianlah artikel Pesona Aceh Hari Ini. Melalui tulisan ini, aku ingin mengajak para pembaca untuk menjadikan Banda Aceh sebagai pilihan destinasi liburan Anda berikutnya. Semoga menginspirasi!

7 Comments
  1. aizeindra
    • Rizky Nasution
  2. Rudi Hartoyo
    • Rizky Nasution
  3. Nasriati Muthalib
    • Rizky Nasution
  4. Taufan Tanlalana Pramulia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *