Ramadhan Penuh Berkah, Lebaran Lebih Baik

Ramadhan adalah bulan yang suci, begitu banyak orang mendeskripsikan keistimewaan bulan ini. Salah satu hal yang membuat Ramadhan menjadi bulan yang istimewa merupakan bulan seribu bulan, yang mana hanya bulan Ramadhan-lah umat Islam diwajibkan berpuasa dengan tujuan menahan dari segala nafsu lapar, dahaga, dan amarah.

Ramadhan Penuh Berkah, Lebaran Lebih Baik

Tidak terasa Ramadhan sudah berlalu hampir satu bulan. Seperti yang kita ketahui, Ramadhan adalah momentum bagi umat Islam untuk belajar memahami nikmatnya berbagi, baik berbagi harta maupun berbagi cinta kasih pada sesama. Ramadhan juga merupakan bulan yang penuh kesucian dan kebajikan (hikmah). Dimana puasa menjadi suatu kewajiban bagi orang-orang yang beriman dalam rangka membersihkan diri, hati, dan jiwa dari perbuatan-perbuatan keji (dosa).

“Hai orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana yang telah diwajibkan atas umat -umat sebelum kamu, agar kamu bertaqwa” (Q.S. Al-Baqarah : 183).

Ayat ini menjelaskan bahwa puasa tidak sekedar menahan rasa lapar dan dahaga, lebih dari itu dengan berpuasa diharapkan manusia mampu menahan dirinya dari hawa nafsu yakni, perbuatan keji dan mungkar. Selain itu juga dapat meningkatkan amal ibadah kita kepada Allah SWT.

Setiap orang memiliki ragam makna dalam mengartikan bulan Ramadhan, berikut pendapat mereka :

Edly Fachrurozy

Edly Fachrurozy

“Kalau menurut saya, makna Ramadhan itu seperti hijrah. Proses dimana seseorang akan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ramadhan adalah tempatnya orang-orang untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Baik dalam beribadah, maupun baik dalam perilaku kesehariannya,” ungkap Agam Favorit Banda Aceh 2014.

Gita Pratiwi

Gita Pratiwi

“Ramadhan, latihan kesabaran. Ramadhan, waktunya ngumpulin amal dengan bonus berlipat-lipat. Ramadhan, bulan khusus meningkatkan kualitas iman,” tutur gadis hijab ini, salah satu delegasi Sumatera Utara pada Konferensi Mahasiswa Asia Afrika 2015.

Aizeindra Yoga

Aizeindra Yoga

“Kalau aku perhatikan, zaman semakin tua, semakin sulit orang memaknai arti Ramadhan itu sendiri. Semua orang menganggap Ramadhan sama seperti bulan-bulan lainnya. Karena setelah Ramadhan berlalu hilang enggak ada kesan sama orang-orang. Itu sih yang aku rasakan kak,” lugas lelaki yang merupakan salah satu pengurus di Blog M (Blogger Medan).

Windi Septia Dewi

Windi Septia Dewi

“Ramadhan kali ini belajar tersadar, bersyukur, dan bersabar. Tersadar kalau masih banyak ketidakbisaan Windi, sekalipun itu dalam pekerjaan yang sudah biasa Windi gelutin. Kemarin sempat jadi host di salah satu TV swasta bawain program Grebek Bedug, tapi tantangannya Windi ternyata belum mampu menggugah emosional orang untuk bisa sedih. Sebelumnya Windi menerima job ini berasa yakin mampu bisa melakukannya. Akhirnya tersadarkan kalau kita tuh enggak boleh merasa paling bisa, paling pintar. Bersyukur, karena tahun ini belajar dari pengalaman di tempat kerja. Orang-orang yang didatangi bisa dibilang rumahnya saja sebesar kamar Windi mungkin. Bersabar, karena Allah belum menjawab doa pasti ada alasannya. Nah, karena Windi dan tim kerja sering doa, Ya Allah perbanyaknya tingkat penjualan kami. Akhirnya, di Ramadhan ini Allah kabulkan dan kami keteter mengelola pemesanan. Dari semua ini Windi belajar kalau dalam hidup ini kita ikutin saja ritme Allah, terus ikhtiar dan tawakal. Rezeki? Allah sudah punya porsi mengaturnya, tugas kita yah cukup bersyukur,” papar owner produk teri kemasan, Teri Bajak Medan (@TeriBajakMedan).

Ismul Chairy

Ismul Chairy

“Alhamdulillah, bulan Ramadhan tahun ini Ary diberi kesehatan dari Allah, jadi Alhamdulillah tahun ini puasa Ary lancar sampai akhir. Bulan Ramadhan tahun ini benar-benar berat cobaan karena tahun ini Kota Medan terjadi peningkatan suhu udara yang lumayan ekstrim, jadi tambah cobaan puasa deh,” ungkap lelaki yang merupakan salah satu social media buzzer (@UwakLen) di Medan.

Elfara Fachri

Elfara Fachri

“Ramadhan kemarin itu Ramadhan yang bawa berkah kali kak. Enggak tahu kenapa, rasanya lebih baik saja. Dari keluarga juga semuanya lebih baik lagi. Yang tadinya ibadahnya biasa-biasa saja, sekarang jadi banyak ilmu agama sampai sekarang. Mamak Fara pun makin lebih baik lagi karena sudah mulai pakai jilbab kalau di dalam rumah. Rezeki di bulan Ramadhan kemarin juga semakin bertambah, semakin diuji kesabaran Fara sama orang yang mancing-mancing emosi kemarin itu. Cuma sayangnya solat Ied-nya enggak dapat,” curhat gadis berkaca mata ini, salah satu delegasi Sumatera Utara pada ajang Indonesia Youth Forum 2015.

Ragam makna Ramadhan 1436 H bagi beberapa orang sangat kontras perbedaannya. Bisa jadi hal ini dikarenakan perbedaan pengalaman dan perbedaan sudut pandang dalam memaknai kehadiran bulan Ramadhan tersebut. Maka, sudah sepatutnya bersyukurlah kita yang diberikan pengalaman lebih dalam bulan Ramadhan yang penuh berkah.

Begitu juga yang terjadi pada aku. Ramadhan 1436 H sungguh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bagiku Ramadhan kali ini sangat banyak memberi hikmah dan perbaikan dalam diri ini. Sudah banyak kalimat syukur yang membuat aku merasa semakin kecil di hadapan Allah. Namun, hal ini tidak membuat aku kecil hati ataupun kecewa pada-Nya, melainkan semakin bersyukur.

Tulisan ini aku bagi tidak untuk bermaksud riya, namun hanya sekedar berbagi cerita kepada para pembaca. Semoga bisa menginspirasi dan membawa manfaat bagi para pembaca. Karena, ilmu yang paling berguna ketika ilmu itu dapat bermanfaat bagi orang lain, dan pengalaman adalah sebagian dari ilmu yakni, ilmu kehidupan. Alasan ini yang menggerakkan hati aku untuk berbagi kisah ini.

Sekitar tujuh bulan yang lalu, 23 Februari 2015, aku mendapat hadiah yang sangat indah dari Allah SWT. Dia memberikan hadiah berupa penyakit yang cukup serius dan itu membuatku harus istirahat total selama kurang lebih enam bulan lamanya. Tidak tahu pasti sebabnya, akhirnya aku jatuh sakit dan dokter menyarankan untuk tidak beraktifitas hingga tubuh sembuh total.

Mungkin bagi sebagian orang istirahat dalam waktu yang cukup lama merupakan hal yang membosankan. Tapi tidak bagiku. Rasa sakit yang aku derita tidak menjadikan aku su’udzon sama Allah. Entah apa yang membuatku pada saat itu justru berfikir, “Ya Allah, terima kasih atas penyakit yang mungkin tidak semua orang bisa percaya bakal menerimanya. Tapi Ya Rabb, aku tahu.. aku tahu karena cinta-Mu padaku makanya Kau hadiahkan ini. Aku tahu.. aku tahu.. Ya Rabb, Engkau tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hamba-Mu. Ya Rahman Ya Rahim, berilah aku kekuatan untuk melewati fase ini,” gumamku dalam hati sambil berdoa.

“Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula. Kalau Allah mencintai seseorang, pasti Allah akan memberikan cobaan kepadanya. Barangsiapa yang ridha menerima cobaan-Nya, maka ia akan menerima keridhaan Allah. Dan barangsiapa yang kecewa menerimanya, niscaya ia akan menerima kemurkaan Allah.” (HR. At-Tirmidzi).

Hadist ini semakin menguatkanku pada saat itu, bahwa penyakit diturunkan bukan untuk membuat aku menderita, melainkan agar aku semakin bersyukur kalau Allah teramat mencintaiku. Semasa aku sakit, Allah menitipkan begitu banyak hikmah tentang menghargai, kesabaran, bersyukur, dan menebar kebaikan.

Menghargai. Saat dimana keluarga dan begitu banyak teman yang peduli serta memberikan dukungan bahwa aku adalah pribadi yang kuat dan pasti bisa melalui masa-masa kritisku. Keluarga yang semasa sehatku hampir terabaikan olehku hanya karena alasan sibuk dengan kegiatan di luar rumah, yang mana sibuk sana-sana dan eksis tak jelas. Namun, justru mereka orang pertama yang selalu ada menemaniku saat masa-masa kritis itu. Akhirnya aku sadar bahwa tidak ada yang lebih setia kasih sayangnya melainkan kasih sayang kedua orang tua dan kakak serta abang-abang aku, setelah cinta Allah SWT.

Ramadhan Penuh Berkah, Lebaran Lebih Baik

Keluarga, mereka yang paling merindukan kepulanganmu di kala kau jauh berkelana dan mereka yang selalu memberikan kehangatan di saat kau kembali. Keluarga, mereka yang senantiasa mendoakanmu dalam menggapai mimpi dan mereka yang selalu bersamamu di saat yang lain pergi menjauh. Keluarga, mereka yang akan selalu memaafkanmu apapun kesalahanmu dan siap membimbingmu kembali, karena mereka tahu kau adalah saudara (Nasution Rizky).

Kesabaran. Rasa sakit yang aku derita selama enam bulan kemarin mengajarkan padaku makna sabar yang mendalam. Hampir setiap hari aku menikmati perih, ngilu, dan mabuk yang disebabkan oleh muntah serta mual yang berkepanjangan, membuat aku sedikit menjadi pribadi yang pemarah. Acapkali beberapa anggota keluargaku menjadi korban pengalihan amarah tersebut. Hingga pada akhirnya, tanpa sengaja aku membuka Al-Qur’an secara random dan membaca beberapa ayat yang mengatakan :

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah : 155 – 157).

Sedangkan dalam buku Hikmah Bagi Orang Sakit, karangan Abdullah bin Ali Al-Juaitsin juga mengakatan bahwa kesabaran dapat terwujud dalam tiga perkara :

  1. Menahan diri dari rasa putus asa dan amarah.
  2. Menahan lisan dari berbagai macam ungkapan keluh-kesah terhadap ciptaan Allah.
  3. Menahan anggota tubuh dari perbuatan-perbuatan yang dapat menghilangkan kesabaran.

“Astaghfirullah,” gumamku tertegun kala itu. Ayat-ayat dan bacaan ini sungguh menampar dan menyadarkanku bahwa aku tidak boleh menambah beban hidupku dengan berlaku tidak sabar dan melimpahkan emosiku pada keluarga, karena itu sama saja aku tidak bersyukur atas penyakit ini.

Bersyukur. Banyak artikel dan banyak ustad yang mengatakan bahwa bersyukur adalah bentuk penghargaan kita atas nikmat yang dilimpahkan Allah. Bersyukur atas musibah yang diberikan-Nya pun merupakan salah satu bentuk syukur pada-Nya. Namun, bukan hal yang mudah untuk melakukannya. Yah, begitu pula yang terjadi padaku di awal menerima penyakit ini.

“Sesungguhnya Allah Ta’ala akan menguji hamba-Nya dengan penyakit hingga dengannya setiap dosanya akan dihapuskan,” (HR. Al-Hakim).

Penggalan hadist ini yang menguatkanku bahwa penyakit bukanlah bala bagi kehidupan manusia, melainkan suatu nikmat yang patut disyukuri, sebab Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya..” (QS. Al-Baqarah : 286).

Semasa sakit, aku sangat menikmati hari-hari yang luang dan jauh dari kesibukkan yang dahulu aku rasakan. Dimana jadwal shalat ku berantakan, begitu pula jam makan dan istirahatku, semua benar-benar tidak teratur. Pada saat itu sempat terbersit di benak ku, “Duh, capek kali sibuk seperti ini.” Sampai akhirnya aku tersadar, bisa jadi keluhan aku itu diijabah Allah melalui penyakit ini agar aku mengerti bahwa telah banyak hal yang aku sia-siakan selama sehat. Tidak hanya nikmat sehat saja yang digadaikan, kebersamaan keluarga dan kewajiban-Nya pun aku abaikan. Padahal telah jelas bahwa jika seseorang ingin bahagia di dunia maka cintailah Allah dan kedua orang tua, sebab ridha Allah beserta ridha kedua orang tua.

“Ada dua kenikmatan yang sering terlupakan oleh banyak orang: nikmat sehat dan nikmat waktu senggang,” (HR.  Al-Bukhari).

Allah memang selalu punya cara menitipkan hikmah di setiap perkara. Awalnya aku merasa bosan harus berhari-hari istirahat tanpa ada aktifitas yang biasa aku gelutin. Namun, hadist di atas untuk kesekian kalinya menyadarkanku bahwa Allah sedang memberikan aku kesempatan waktu yang sangat senggang, dan ini juga berupa nikmat yang harus aku syukuri.  Dan akhirnya aku memutuskan untuk memanfaatkan waktu luang dengan beribadah dan melakukan hal-hal positif yang bisa aku lakukan dalam keterbatasanku saat itu.

Tepat 10 Juni 2015, aku membaca postingannya @digidoy di akun instagram. Digidoy yang merupakan komik hasil karya anak Medan, kala itu memasuki usianya yang ke-1 tahun. Dalam menyambut perayaan ini, mereka membuat rentetan lomba dan salah satunya lomba blog dengan tema “Digidoy Komik Medan.” Pada saat itu tidak berfikir untuk menang, melainkan berfikir memang ingin mengapresiasi karya mereka melalui artikel yang aku tulis. Yah, hitung-hitung ini jadi aktifitasku untuk mengisi waktu luang. Artikel itu pun aku posting pada 18 Juni 2015 dengan judul Digidoy : Industri Kreatif Digital Komik Khas Medan. Dan pada 23 Juni 2015 pemenang lomba pun diumumkan, “Alhamdulillah, rezeki anak sholeha,” teriakku bahagia membaca postingan mereka.

Ramadhan Penuh Berkah, Lebaran Lebih Baik

Selain menulis, aku juga tetap melakukan aktiftas komunitas. Tapi, hanya melakukan sebatas yang bisa aku lakukan saja. Berawal dari kunjungan beberapa teman dari Komunitas Blog M, 9 Juni 2015, yang berkunjung dan berbagi cerita tentang kegiatan mereka. Pada akhirnya, perbincangan itu berupa ajakan untuk menggarap suatu kegiatan sosial di bulan Ramadhan dengan tema “Internet Sehat, Hebatkan Warisan Kota Medan.”

“Kak, kakak yakin bisa bantu kami? Enggak akan mengganggu proses pengobatan kakak?” ungkap salah satu anggota mereka pada hari itu. Entah apa yang mendorongku pada saat itu hingga aku menyanggupi permintaan mereka . Namun, keyakinanku pada saat itu adalah jika niat baik, Allah pasti akan izinkan. “Lagian ini kan juga untuk suatu kebaikan, kapan lagi aku bisa berbagi? Iya kalau umurku ini panjang,” begitu gumamku dalam hati sambil menyemangati diri ini.

Menebar kebaikan. Melakukan hal baik, mungkin banyak orang yang mampu melakukannya. Namun, menebar kebaikan, belum tentu semua orang mampu melakukannya. Sebab, suatu perbuatan dianggap kebaikan ketika niat yang mendasarinya memang tulus dan baik, Innamal a’malu binniyat.

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. Al-Zalzalah : 7 – 8).

Ayat inilah yang meneguhkan niatku pada waktu itu bahwa sakit bukanlah alasan untuk aku berhenti menebarkan kebaikan. Dalam keterbatasanku Alhamdulillah Allah meridhai setiap niat baik yang aku dan teman-teman Blog M yakini di awal penggarapan kegiatan sosial ini. Mungkin kalian bertanya bagaimana kami melakukannya padahal aku adalah seorang pasien yang harus istirahat total. Jawabnya, semua kami lakukan melalui komunikasi di grup Line.

Setiap kali aku berkesempatan pulang ke rumah atau rawat jalan, di waktu itulah kami jadwalkan rapat tatap muka. Semua bisa dilakukan tanpa aku harus ke luar rumah. Namun siapa bisa menduga, persiapan singkat hanya dua minggu dan lobi donatur serta partnership via telepon berhujung sukses. Kebutuhan dana proposal yang di budget-kan Rp 4.500.000, Alhamdulillah yang diterima sebesar Rp 5.500.000,. Allah menunjukkan kembali padaku bahwa nikmat sakit juga bisa membuat seseorang menjadi produktif. Tinggal kitanya saja yang menentukan, mau larut dalam keluhan atau bangkit dan berbuat sesuai kemampuan.

Kegiatan sosial ini pun tergolong sukses dengan mengajak 30 anak panti dari dua panti asuhan di Kota Medan. Ya, walaupun pada saat itu aku tidak bisa ikutan secara langsung dalam kegiatan tersebut. Namun, jiwa ini berada bersama kebahagian mereka di sana.

Internet Sehat, Hebatkan Warisan Kota Medan

Internet Sehat, Hebatkan Warisan Kota Medan

Bulan Ramadhan kali ini sungguh banyak meninggalkan pesan bagi hidupku ke depan. Mulai dari pembenahan waktu shalat, waktu istirahat, waktu bersama keluarga, dan waktu untuk produktif di luar rumah. Mungkin tanpa penyakit yang diturunkan Allah, aku tidak akan tersadarkan akan pentingnya membagi waktu.

Hingga sampai lebaran tiba pun, keberkahaan bulan Ramadhan berasa menghantarkanku pada nuansa Lebaran yang lebih baik. Mau itu dari segi keimanan, pemikiran, hingga kesehatan. Kamu tahu kenapa? Karena aku berhasil menyelesaikan pengobatanku hanya dalam tempo 12 minggu, yang mana awalnya dijadwalkan selama 18 minggu.

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. AR-Rahman).

Bahkan tidak ada satu pun nikmat yang bisa aku dustakan. Di dalam sakit aku masih diberikan-Nya nikmat kesempatan waktu senggang sehingga masih bisa melakukan banyak hal. Allah juga memberikan aku kesempatan untuk sembuh lebih awal dari perencanaan dokter, hingga aku menyadari bahwa tiada yang tak mungkin baginya jika Dia berkehendak dan tugasku sebagai hamba adalah menjalani apa-apa yang diperintahkan-Nya serta apa-apa yang dilarang-Nya.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah : 216).

Alhamdulillah, dua minggu menjelang Lebaran aku diberikan nikmat menjalankan puasa dan pada Idul Fitri 1436 H, aku bisa menjalankan ibadah shalat Ied. “Segala puji bagi-Mu, Ya Rabb. Dzat yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,” gumamku memanjatkan syukur di saat mata ini memandangi sajadah masjid serta sekelilingnya yang dipenuhi ratusan jama’ah di pagi syahdu itu.

Ramadhan Penuh Berkah, Lebaran Lebih Baik

Suasana Lebaran tidak lagi dihiasi air mata keluarga, seperti di awal Ramadhan kemarin. Semua wajah mereka aku pandangi satu per satu, sungguh terpancar kebahagiaan dan keceriaan. “Alhamdulillah, Fitri sudah kembali pulih. Seperti yang kita tahu, Ramadhan kali ini banyak cobaan yang Allah titipkan di keluarga kita. Harapannya, setelah ini Fitri harus lebih jaga kesehatan, diatur waktunya, diperkuat ibadahnya, dan selesaikan tesisnya. Bagaimana pun kesembuhan itu datangnya dari Allah,” tutur Papa memberikan wejangan padaku di pagi Lebaran waktu itu.

“Dan apabila aku sakit, maka Dia (Allah) akan memberikan kesembuhan..” (QS. Asy-Syu’ara : 80).

Ternyata kebahagiaan Lebaran tidak hanya sebatas nikmat keceriaan dan sholat Ied saja. Allah menitipkan lebih banyak nikmat lagi selepas kesembuhanku. Salah satunya kegiatan yang kami lakukan pada 2 Agustus 2015, aku bersama beberapa teman komunitas di Medan menggelar kegiatan KolaborAKSI Merah Putih. Siapa yang bisa menduga, kegiatan yang kami kemas sederhana itu justru diliput oleh DAAI TV, NET TV, Mix FM Radio, dan Harian Analisa.

Liputan Oleh DAAI TV

Liputan Oleh DAAI TV

Liputan Mix FM Radio

Liputan Mix FM Radio

Liputan Oleh Harian Analisa Medan

Liputan Oleh Harian Analisa Medan

Saat aku mengingat kembali, dahulu memang aku pribadi yang ambisius dalam melakukan sesuatu, termasuk dalam merencanakan kegiatan sosial. Segalanya harus serba sempurna, segalanya tidak boleh keluar dari rencana. Seolah-olah keberhasilan sesuatu itu dikarenakan perencanaanku yang sempurna.

Namun, lagi-lagi Allah menunjukkan dan menyadarkan aku bahwa segala sesuatu pun kalau direncanakan sederhana tapi kita percaya akan kekuatan Allah (Lillahi ta’ala). Insha Allah jalannya lebih dipermudah, bahkan hasilnya lebih dari yang direncanakan. Masya Allah.

Selain itu, pada tanggal 9 Agustus 2015, Allah memberiku nikmat lagi melalui Komunitas Blog M. Aku diundang menjadi pemateri di salah satu programnya mereka yakni, Durian (Diskusi Ringan) dengan tema “Memulai Gerakan Sosial.”

Ramadhan Penuh Berkah, Lebaran Lebih Baik

Kemudian, rezeki datang dari arah yang berbeda lagi. Selepas mengisi materi bersama Blog M, aku berkesempatan mengisi materi di empat sekolah, diantaranya SMA Panca Budi Medan, SMK Negeri 6 Medan, SMK YAPIM Medan, SMK Tritech Medan.

Marina Roadshow to School

Marina Roadshow to School

Semua pengalaman ini memberikanku semangat baru. Rasa letih yang seharusnya sangat terasa, semua sirna karena energi positif yang aku terima dari antusias para siswi yang merupakan peserta di kegiatan Marina Roadshow to School. “Ya Rabb, tak pernah terfikir oleh ku nikmat yang luar biasa ini. Tak pernah terfikir menjadi seorang pemateri yang diundang secara profesional,” gumamku sambil berucap syukur berkali-kali.

“Karena sesungghunya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Asy-Syarh : 5 – 6).

Kini aku merasakan makna dari ayat ini bahwa benarlah adanya kalau sesudah kesulitan itu akan ada kemudahan, jika kita mau bersabar dan bersyukur atas apa-apa yang telah Allah anugerahkan. Kisahku mulai dari Ramadhan hingga Lebaran menyiratkan banyak ilmu yang bisa dipelajari, dan ini bukan membuatku bangga, justru aku merasa semakin kecil dan tidak ada apa-apanya tanpa pertolongan dari Allah SWT.

Ramadhan Penuh Berkah, Lebaran Lebih Baik

Apakah aku sudah memasuki tahapan ketiga seperti gambar di atas? Tidak perlu dijawab, melainkan terus memantaskan diri agar menjadi golongan hamba-Nya yang bertakwa. Sehat, memang mahal harganya dan kesempatan untuk bisa sehat kembali, justru itu yang tidak bisa dibayar. Mengapa? Karena, Allah menyelipkan hikmah di balik setiap perkara. Jika kita tidak bisa memaknai hikmah tersebut, maka sehat kita pun tidak ada harganya.

Ramadhan Penuh Berkah, Lebaran Lebih Baik

Sahabat kini telah pergi meninggalkan cerita tentang pelajaran hidup tertinggi yakni, makna arti bersyukur dan berbagi. Tentang menahan diri dan mawas hati. Ya Allah, Ramadhan ini penuh arti. Engkau mengajarkan arti cinta paling hakiki. Terima kasih telah menuntun kembali langkah ini. Sebab, tiada manusia-Mu yang sempurna, hanya cinta yang mampu menyempurnakannya. Itulah cinta kepada-Mu. Assalamualaikum Ied Mubarak 1436 H. Selamat jalan Ramadhan 1436 H, semoga kita bertemu kembali (Nasution Rizky).

Demikian artikel Ramadhan Penuh Berkah, Lebaran Lebih Baik ini aku bagi. Semoga pengalaman ini bisa memberi inspirasi bagi para pembacanya dan menjadikan kita manusia yang selalu merindukan datangnya bulan Ramadhan serta menjalani kehidupan lebih baik lagi setelah Lebaran.

4 Comments
  1. Edly Fachurozy
  2. aizeindra
  3. Molly
  4. Rudi Hartoyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *