Semoga Cinta Tak Salah Bertamu

Semoga Cinta Tak Salah Bertamu – Cinta, satu kata beribu makna. Setiap kita berbeda dalam mendefinisikan cinta dan semua sesuai dengan pengalaman kita mengartikan cinta. Berikut pendapat beberapa sahabat saya :

Mollyta Mochtar

Mollyta Mochtar

“Cinta adalah komitmen. Kalau enggak ada komitmen berarti belum sepenuhnya mencintai. Ya paling tidak itu yang dirasakan selama 14 tahun berumah tangga, hehe. Karena terlalu banyak kesempatan dan alasan untuk melepas cinta yang sudah ada. Ya, cara mempertahankannya cuma kesediaan berkomitmen,” ungkap perempuan yang mengaku suka traveling  dan juga merupakan Travel Blogger.

Husainul Khairan

Husainul Khairan

“Cinta adalah satu. Mau cinta sama siapa pun, baik itu cinta makhluk sama pencipta-Nya. Cinta anak sama orang tuanya dan sebaliknya. Adalah bentuk penyatuan. Perbedaan karakter, pemikiran, pendapat, kebiasaan dan lainnya, disatukan dengan lawan yang dicintainya. Sehingga menghasilkan bentuk kasih sayang. Kalau sudah satu, pasti sama. Kalau sudah sama, pasti sejalan. Jadi kalau mau cinta, sama-sama menyatu dulu,” tutur lelaki yang berprofesi sebagai Presenter di salah satu televisi swasta.

Dewi Sartika

Dewi Sartika

“Cinta adalah rasa. Rasa yang tercipta dan diciptakan bukan hanya dengan sepasang kekasih, melainkan dengan orang sekeliling kita yang menerima dan memberi cinta tanpa mengukur seberapa berat cinta itu pantas dimiliki,” lugas perempuan hijab yang merupakan anggota dari Komunitas Blog M (Blogger Medan).

Pada dasarnya cinta memiliki rasa, emosi, eros, dan cemburu. Cinta pun mampu mendatangkan kebahagiaan, kesehatan, kebersamaan, kemapanan, dan ketertarikan. Namun, cinta juga mampu mendatangkan kesengsaraan, penyakit, permusuhan, kesedihan, dan kecemburuan.

Kenapa begitu? Yah, karena banyak orang berani jatuh cinta padahal mereka tahu resikonya tak lain tak bukan hanya akan terjadi cekcok, sakit hati, kecewa, bahkan bermusuhan atau putus hubungan silahturahmi. Apakah cinta sekejam itu? Kalau iya, berarti ini sungguh tidak adil bagi siapa pun.

“Tapi ada juga kok cinta yang membawa kebahagiaan. Yah, meskipun pakai berantam-berantam dikit lah,” ungkap sebagian orang yang sempat saya tanyakan pendapatnya. Kalau bisa menciptakan perdamaian, buat apa kita memilih cinta yang berbuah permusuhan. Ayo, kamu pilih mana? Sebelum diperdebatkan lebih jauh kita pahami terlebih dahulu defenisi cinta baik secara umum ataupun syari’at.

Cinta secara bahasa adalah suka sekali dan senang sekali. Berdasarkan definisi Wikipedia, cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi yakni, perasaan yang positif dan diberikan pada manusia atau benda yang disukai.

Bagi Hamka, cinta adalah perasaan yang mesti ada pada setiap manusia, tumbuh dan berkembangnya cinta tergantung dari bagaimana cinta itu dipupuk. Sedangkan Quraish Shihab mengatakan bahwa cinta adalah kencendrungan hati kepada sesuatu karena kenikmatan atau manfaat yang dapat diperoleh dari yang dicintai.

Nah, bagaimana cinta menurut syari’at? Menurut Islam, kasih sayang adalah identitas dan asas iman. Tidaklah seseorang dikatakan beragama jika orang tersebut tidak memiliki perasaan kasih sayang, sehingga cinta bisa diwujudkan ke dalam bentuk hati nurani, di mana seseorang yang memiliki hati nurani adalah ia yang memiliki cinta di hatinya.

Dari mana datangnya cinta? Para pujangga berkata, “Dari mata turun ke hati.” Lalu, siapakah pemilik hati (qolbu)? Tentu saja, Allah SWT pemiliknya. Dia menciptakan cinta di dalam hati manusia. Dia pula yang berhak membolak-balikkan hati manusia sesuai ikhtiar dan tawakal manusia itu sendiri.

Jika kita sudah mengetahui bahwa Allah Sang Pemilik Hati, mengapa kita masih menaruh harapan pada cinta manusia? Bukankah untuk mendapatkan cinta manusia, kita terlebih dahulu mencintai Sang Pemilik Cinta? Inilah yang sering terlupakan oleh banyak para muda-mudi dalam menumbuh kembangkan cinta mereka.

“Wahai manusia, bertakwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Dia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali” (QS. An Nisa : 1).

Ayat tersebut telah menjelaskan bahwa tak ahyal kita sebagai manusia meragukan akan keberadaan cinta dari manusia, atau dengan kata lain jodoh. Sebab, Allah telah menjanjikan jodoh bagi hamba-Nya yang bertakwa. Boleh ya aku berpendapat bahwa cinta sehakikinya yang harus ditumbuhkan dalam hati yakni, cinta akan Allah SWT, Sang Pemilik Hati. Dengan begitu, kita tidak perlu takut kehilangan cinta manusia.

Kenapa harus mencintai jika hanya mendatangkan kesengsaraan? Itu karena kita  mendefinisikan cinta berdasarkan “keinginan hati.” Bukankah itu egois? Ya, Allah-lah yang berhak atas hati manusia, maka cintai Dia, niscaya kita akan menggapai apa yang menjadi keinginan.

Amat merugi manusia yang hanya dilelahkan oleh cinta dunia, mengejar cinta makhluk, memburu harta dengan segala cara, dan enggan menolong orang yang papah. Padahal nasib di akhirat nanti adalah ditentukan oleh dirinya selama hidup di dunia.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga)” (QS. Ali Imran : 14).

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main” (QS. Al Ankabut : 64).

Masikah kita membutakan diri terhadap kebesaran cinta Sang Pemilik Hati? Atau bahkan menyibukkan diri untuk mendapatkan cinta manusia? Mau sampai kapan menaruh harapan pada cinta hampa? Sudah tentu manusia adalah ladangnya khilaf yang sangat memungkinkan untuk ingkar janji.

Jadi jangan heran jika saat ini banyak berita yang mengabarkan bahwa siswa/i Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), bahkan mahasiswa tega melakukan tindakan bunuh diri hanya karena masalah putus cinta. Selain itu, kasus aborsi juga kebanyakan datangnya dari para remaja putri yang mengaku melakukan tindakan tersebut dikarenakan malu ketahuan hamil di luar nikah. Inilah contoh bentuk cinta manusia yang sangat murah untuk ingkar janji.

Ketuk hati, tanya iman. Bersungguh-sungguh mencintai Allah, ataukah terlena oleh dunia yang fana ini? Karena, salah satu penyebab doa tidak diijabah adalah ketika kita memilih cinta kepada selain Allah. Bisa jadi saat ini jodoh belum bertamu dikarenakan niatnya belum karena Allah.

Namun, hati-hati bagi kamu (lelaki) yang suka mengumbar janji mencintai si doi “Karena Allah”, sebab cinta yang berlandaskan nama Allah adalah suatu bentuk rasa sayang yang tidak memandang kekurangan satu pun pada pasanganmu, baik lahir maupun batin. Karena Allah sewaktu-waktu bisa saja merubah keadaan hidup seseorang. Jika benar mencintainya karena Allah, maka pinanglah ia bukan justru mengajaknya pacaran, sebab Islam tidak pernah menganjurkan umatnya untuk berpacaran.

NyitnyutNyutnyit

“Cinta bukan soal siapa yang berani datang dan menyatakan, melainkan siapa yang berani datang dan melamar” (Nasution Rizky).

Banyak cara dalam mendefinisikan cinta. Bagi saya saat ini, cinta adalah Allah, sebab dengan mencintai-Nya Insha Allah cinta manusia akan bertamu ke hati saya sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan-Nya. Bagaimana dengan kamu? Yuk, ketuk hati, tanya iman.

Semoga bacaan ini dapat menjadi inspirasi bagi para sahabat yang mengunjungi blog saya. Jika sahabat mempunyai saran dan tambahan berdasarkan pengalaman, silahkan berbagi komentar di kolom Semoga Cinta Tak Salah Bertamu di bawah ini. Salam Inspiratif!

6 Comments
  1. Dewi
    • Rizky Nasution
  2. Husainul Khairan
  3. Gita Pratiwi
    • sabda awal
  4. Robby Subrata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *