Siapa Yang Berhak Menjawab Pertanyaanmu?

Awalnya tidak ingin menuliskan cerita ini, tapi entah kenapa kemarin malam cerita ini terus terngiang dalam pikiranku dan dorongan itu kuat memaksaku untuk menuliskannya agar cerita ini tidak terhenti pada diriku saja. Harapannya, kawan-kawan yang membaca ini tidak lagi merasa bahwa kita itu tidak sehebat apa yang orang lain nilai ataupun apa yang diri kita sendiri nilai. Sebab, sebaik-baiknya penilai, hanya Dia, Allah SWT. Selamat menyimak ceritaku kawan.

Siapa Yang Berhak Menjawab Pertanyaanmu?

Siapa Yang Berhak Menjawab Pertanyaanmu?

Ketika Allah Menyadarkanku

Di suatu malam aku membuka halaman WhatsApp, ada pesan eletronik dari salah seorang sahabat yang meminta keluangan waktuku untuk bertemu besok siang di tempat dia bekerja.

“Assalamualaikum, kak Rizky. Besok ada waktu kosong tidak? Saya ingin berdiskusi dengan kak Ky. Ada banyak hal yang ingin saya sharing nih kak”

“Boleh bang, in syaa Allah. Ketemu dimana kita bang?”

“Saya kebetulan besok ada kerjaan di Darussalam Hotel. Kita ketemu di situ saja ya kak. Jam 14.00 gimana, kak Ky bisa?”

“Oke bang, saya siap meluncur. Sampai bertemu besok ya bang”

“Siap kak! Terima kasih banyak kak”

Tepat jam dua siang aku tiba di tempat yang telah dijanjikan. Sekitar menunggu 10 menit dan aku mendapati sosok tinggi besar berpakaian rapi itu menghampiriku.

“Apa kabar kak Ky?”

“Sehat bang”

“Maaf lama kak, tadi ada sedikit hal yang harus diberesin di dalam”

“Iya bang, tidak masalah. Gimana, gimana bang? Apa nih yang bisa Ky bantu?”

“Nah, ini yang saya suka. Semangat membantu kak Ky ini lho yang kadang buat saya segan sama kakak”

“Aman bang, selama saya mampu, in syaa Allah saya bantu”

“Sederhana sih kak sebenarnya. Saya hanya ingin sharing saja ke kakak. Saya melihat kakak ini orang yang energik sekali. Saya menikmati setiap postingan kakak. Setiap kakak posting, sepertinya tidak pernah rasanya saya melihat ide kakak itu habis. Ada saja ide-ide baru yang kakak bagi setiap harinya. Itu gimana itu kak membangun ide dan menjaganya bisa stabil seperti itu?”

“Jika pertanyaan itu abang tanyakan ke saya, mungkin saya juga sulit harus memulainya dari mana bang. Justru saya merasa, saya yang pengen banyak belajar dari abang. Ketika abang chat, saya kira hari ini saya bakal punya banyak kesempatan untuk bertanya ke abang. Eh, malah saya yang ditodongi bang. Hahaha”

Siapa Yang Berhak Menjawab Pertanyaanmu?

Percakapan itu mengalir santai tanpa ada hal yang terlalu berat dan serius yang menghiasi obrolan kami di siang itu. pembicaraan random, tidak ada sesuatu yang dituju dari obrolan kami. Namun, aku tertegun pada satu statement yang dilontarkan Bang Qodri.

“Kak, ketika saya diberi kesempatan untuk bisa memiliki ide berlebih seperti kak Ky. Mungkin saya bisa membuat hal yang lebih menarik dari apa yang saya lakukan hari ini. Rasanya, tak ada energi yang habis dari kak Ky untuk selalu saja membuat kegiatan sosial dan semua itu tidak kak Ky beratkan kepada tujuan duniawi, uang”

“Alhamdulillah bang, karena bagi saya ‘sukses’ itu bukan saya berhasil menjadi kaya, punya mobil, rumah, bisa belanja foya-foya, dikenal banyak orang, dan lain sebagainya. Saya juga tidak pernah mikir bisa jadi seperti sekarang ini”

“Jadi, apa yang menjadi hal mendasar kak Ky dalam melakukan semua ini?”

“Bagi saya, sukses itu ketika saya dan orang-orang di dekat saya bisa sukses bersama. Jadi, suksesnya itu jama’ah bang”

Namun, ketika kalimat itu mengalir keluar begitu saja dari lisanku, di saat itu ungkapan bang Qodri kerap kali terngiang. Yah, semacam alarm bagi diriku sendiri “Apa iya, yang saat ini aku lakukan sudah benar jalan-Nya? Apa iya, telah banyak orang yang mendapat manfaat dari apa yang aku kerjakan? Apa iya, sudah ada orang-orang sukses telah aku hantarkan kesuksesannya? Apa iya, aku bahagia atas semua yang sudah aku lakukan selama ini? Apakah aku harus puas?”

Entahlah, pertanyaan itu selalu saja mengganggu tidurku hampir di penghujung malam. Namun, kerap kali kegalauan itu berlalu begitu saja. Bukan tidak aku gubris, hanya saja terkadang aku butuh waktu untuk menemukan jawabannya, karena aku yakin bahwa Allah SWT selalu punya cara yang indah untuk menjawab kegundahan hatiku.

Siapa Yang Berhak Menjawab Pertanyaanmu?

26 Maret 2017

Baru selangkah kaki ku menyentuh halaman Masjid Raya Al Mahsun Medan, kumandang suara merdu itu aku dengar jelas mengiang masuk hingga telingaku. Yah, panggilan sahut-sahutan, ajakan mendirikan sholat. Merdu sekali, membuat kaki ini semakin bergegas membersihkan diri untuk menyegerakan panggilan itu.

“Wah, Alhamdulillah ramai hari ini yang berjama’ah. Syukurlah, in syaa Allah berkah,” detakku dalam hati ketika melihat barisan shaf di jam sholat zuhur siang itu hampir penuh dipadati jama’ah perempuan. Meskipun aku tidak tahu bagaimana kondisi shaf laki-laki. Tapi yang aku tahu, aku merasa bahagia bisa menikmati sholat berjama’ah yang kidhmat sekali di masjid tersebut.

-kriiing…kriiing…kriiing-

“Iya ibu, maaf saya baru kelar sholat. Ibu dan anak-anak dimana?”

“Kami di taman sebelah kanan dari pintu masuk ya mba Rizky”

“Baik bu, saya segera ke sana. Sebentar ya bu”

Saya pun bergegas merapikan perlengkapan sholat saya dan segera menyusul bu Nur Asiah dan anak-anak sanggarnya. Tampak dari kejauhan ada sekumpulan anak-anak yang tertawa sambil berlari, berkejar-kejaran. Ada juga yang hanya duduk ngobrol dengan anak lainnya. Tapi, perhatianku tercuri sama satu anak yang sedang seru dengan roti di kedua tangannya.

“Mba Ky ya?”

“Iya bu benar. Bu Nur ya?”

“Iya mba, akhirnya kita ketemu juga ya mba. Inilah mba anak-anak sanggar saya. Eh, ayo sini di salam kakaknya yuk” (Bu Nur menginstruksikan kepada anak yang mencuri perhatian saya tadi)

“Sudah bu tidak apa, dia lagi seru makannya. Saya senang melihatnya”

Siapa Yang Berhak Menjawab Pertanyaanmu?

Sesi perkenalan pun mengalir begitu saja. Jujur, saat itu aku ingin sekali menitihkan air mata. Entah apa yang membuatku begitu haru saat anak-anak itu silih berganti menyalamiku dengan tatapan bahagia. Ya, aku mendapati tatapan dalam itu yang berkata seolah-olah mereka penuh harap bisa mendapatkan kebahagiaan di hari itu dengan segudang cerita dariku.

“Ah, aku enggak tahu. Harapan apa yang sudah bu Nur tanamkan dalam mimpi mereka,” detakku dalam hati yang sebenarnya aku mulai khawatir mereka akan kecewa dengan ceritaku nanti. Pikiran itu cepat-cepat aku tepis. Aku takut jadi su’udzon sama Allah. Akhirnya aku benahi kembali niatku saat itu, kalau aku datang hanya untuk berbagi cerita seputar sejarah Kesultanan Deli dan membuat mereka semakin tahu bahwa kotanya ini juga memiliki sejarah yang luar biasa, salah satunya pengaruh Kesultanan Deli sebagai kekuatan Islam terbesar kala itu.

Siapa Yang Berhak Menjawab Pertanyaanmu?

Waktu bergulir, cerita demi cerita aku bagi kepada mereka. Ya, namanya anak-anak selalu ada saja 1001 tingkah mereka. Tapi, aku sangat menikmati keceriaan itu, hingga akhirnya aku menginisiasi nama program ini dengan sebutan ‘Heritage Ceria’. Kegiatan pun ditutup dengan sesi foto bersama. Semenit lepas foto bersama ada kejadian yang membuatku tertegun. Niat hati ingin menyalami anak-anak itu satu per satu. Tapi apa yang aku dapati? Mereka beramai-ramai memelukku dan berkata, “Kak, nanti kita gini lagi ya kak? Makasih ya kak.”

Siapa Yang Berhak Menjawab Pertanyaanmu?

Apa yang bisa aku perbuat, rasanya air mata itu lagi-lagi ingin membuka pintu bendungannya dan mengalir deras bak banjir bandang menggulung aliran sungai. “Ya Allaaaahhh…pesan apa yang ingin kau sampaikan dalam surat cinta-Mu padaku Ya Rahim?” detakku penuh tanya sambil memastikan air mata itu tak pecah di hujung kelopak mata ini. Ya, aku berhasil menahannya, namun pecah dan aku puaskan sejadi-jadinya saat jalan menuju pulang. Lagi dan lagi tanya itu bergentayangan hingga penghujung malamku. “Ke arah mana ingin Kau tuntun kaki ini Ya Rabb? Bimbinglah aku,” aku tutup malam dengan doa dan aku yakin Allah SWT akan menjawabnya nanti.

Siapa Yang Berhak Menjawab Pertanyaanmu?

Begini Cara Allah Menjawabnya

Siang itu selepas dari kampus dan menyelesaikan beberapa urusan yang tertunda.

“Assalamualaikum, dimana posisi bang? Masih di kantor enggak? Ky mau merapat ke sana nih, mumpung keluar rumah biar disekaliankan”

“Iya kak Ky, masih di kantor kok ini. Ke sinilah kak. Di Gedung CIMB. Lantai 9 dari Harbour 9 ya kak. Di kantor Regus”

“Oke bang, segera meluncur ini. Sudah on the way kok”

“Siap kak ditunggu, hati-hati”

Meskipun sedikit nyasar karena belum pernah sebelumnya ke gedung ini, akhirnya setelah 15 menit aku pun tiba di kantor Regus. Sebelah kanan dari arah lift dengan warna dominan biru sebagai interior dasar kantor tersebut.

-Tok…Tok…Tok-

“Ya masuk” (terdengar suara khas itu dari dalam ruangan)

“Assalamualaikum, akhirnya sampai juga ke kantor abang”

“Walaikumsalam, yuk masuk kak. Iya kak, beginilah kantor saya yang sederhana ini. Tapi nanti bakal pindah kok kak. Sementara ini yang masih saya mampu”

“Iya enggak masalah bang. Seru kok bang kantornya”

Nyaman, itu kesan pertama yang aku dapatkan ketika berada di ruang kantor yang ukurannya hampir sama dengan luas galeri anjungan tunai mandiri (ATM) di Bank Negara Indonesia Jl. Pemuda, Medan. Ini kali kedua aku bertemu dengan bang Qodri, setelah pertemuan terakhir kami di akhir tahun lalu. Sedikit berbeda dengan kondisi pertemuan sebelumnya, kali ini bang Qodri sudah tahu apa yang akan menjadi topik pembahasan kami.

-Setelah ngobrol panjang lebar sekitar setengah jam-

“Jadi kan kak, intinya dari obrolan kita tadi dan sedikit mukadimah saya menjelaskan atas apa yang saya geluti di Quantum ini. Kira-kira kalau kakak saya ajak terlibat dalam Youth Act Development Program bersedia enggak ya kak? Karena menurut saya kakak merupakan salah satu penggerak anak muda Medan. Cukup punya banyak lingkaran anak muda dan menurut saya kakak cukup menguasai apa yang menjadi kebutuhan di lingkungan anak muda saat ini”

“In syaa Allah bang, jika amanah ini sebagai bentuk lahan dakwah kita untuk membentuk karakter anak muda menjadi lebih masif dalam menyebarkan kebaikan nilai-nilai Islami, In syaa Allah saya bersedia terlibat dalam program ini. Satu yang saya minta bang. Jika pun ini pada akhirnya berjalan, harapan saya, ini tidak sekedar kegiatan satu waktu saja. Tapi bisa jadi kegiatan pengembangan karakter hingga mereka benar-benar menjadi anak muda yang siap berkontribusi nyata dan terukur. Kita damping terus. Tidak perlu banyak, sedikit asal produktif, itu jauh lebih bermanfaat bang”

“Iya kak, saya sepakat sama kakak. Memang itu tujuan saya. Karena di usia saya sekarang ini, saya selalu saja bertanya dalam hati, apa yang bisa saya persembahkan dari diri saya untuk orang banyak?”

“Oh iya bang, jika berkenan. Saya ingin mengusulkan. Tapi sebelumnya, saya ingin menyampaikan dulu bahwa sepertinya Allah sedang menjawab pertanyaan saya kemarin melalui obrolan kita ini. Kemarin saya berkenalan dengan bu Nur dan anak-anak sanggarnya, Sanggar Belajar Cerdas. Ibu itu cukup butuh bantuan menurut saya. Kalaulah boleh, bagaimana jika beliau masuk dalam salah satu daftar nama peserta yang akan kita coaching nanti. In syaa Allah dampaknya tidak hanya ke ibu Nur, tapi juga ke anak-anak didiknya serta sanggarnya”

“Sepakat kak Rizky, boleh saja. Bu Nur akan kita jadikan salah satu daftar kita. Wah, bersyukur rasanya kalau kita sudah satu frekeunsi begini kak. Karena saya juga berhati-hati untuk memilih mentor dalam program ini. Jika visinya berbeda tujuan, mungkin akan saya skip. Alhamdulillah kak Rizky meresponnya baik dan satu tujuan”

Perbincangan itu semakin menghangat di tengah suhu ruangan yang cukup sejuk. Hatiku berdetak lagi, “Ya Allah, ternyata Kau Maha Hebat, Maha Bijaksana. Jawaban itu Kau arahkan di tahun ini. Melalui sahabatku yang ini, padahal aku tidak pernah terpikir sebelumnya akan bekerja sama dalam kebaikan dengan ini orang. Dia siapa, aku pun juga tidak terlalu dekat Ya Allah, tapi dia telah mempercayakan aku sebagai satu dari beberapa orang yang akan menjadi mentor dalam program kebaikan yang sedang ia rancang. Ma syaa Allah”

Fabiayyi ‘aalaa ‘i Rabbikumaa Tukadzdzibaan

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan”

Ya, ayat yang selalu menyadarkanku bahwa Allah Maha Perancang terbaik dalam perjalanan hidupku. Pertanyaan di penghujung tahun kemarin, muncul dari orang yang sama dan akhirnya Allah menjawab kegalauanku melalui orang yang sama pula. Beginilah cara Allah menjawab kegundahan hati itu. Mengarahkan kepadaku jawaban atas apa yang dipertanyakan dan siapa yang aku temui, dan Allah menjawabnya di orang yang sama.

Siapa Yang Berhak Menjawab Pertanyaanmu?

Jawaban itu adalah :

  1. Kenapa ide itu seakan enggak habis di pikiranku? Itu karena Allah selalu saja menganugerahkanku hati yang kerap kali bertanya di penghujung malam “Sudah benarkah amalanku di hari ini? Terus apa yang akan aku lakukan esok hari, jika nanti Dia beri aku kesempatan hidup lagi?”
  2. Bahwa hidayah itu dijemput. Menjemputnya dengan kepekaan, peristiwa, dan silaturrahmi. Bu Nur telah membantuku membuka pintu hidayah ini melalui pelukan anak-anaknya dan membantuku menemukan apa sebenarnya yang aku cari dalam hidup ini. Jawaban itu, aku hanya butuh lebih banyak lagi kesempatan untuk bisa ‘berbagi’.
  3. Keyakinanku pada sesuatu yang beberapa bulan ini selalu saja ‘terbaca’ olehku,“..Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal ia baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagi kamu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” (A-Baqarah : 216). Aku menyadari bahwa Allah sedang menuntunku pada orang-orang yang Dia pilih meskipun perjalanan sedikit panjang untuk bertemu orang-orang pilihan-Nya. Padahal 6 bulan terakhir ini aku selalu saja disibukkan dengan beragam aktifitas yang bermanfaat, tapi masih sangat duniawi, menurutku. Namun, melalui program yang bang Qodri tawarkan ini, seakan Allah sedang memberikan kepadaku kesempatan lebih luas lagi untuk berbagi dengan cara semesti-Nya.
  4. Hanya butuh 3 hal dalam menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita dalam hidup : sabar, tawakal dan ikhtiar. Selebihnya, biarkan Allah yang bekerja atas rezeki, jodoh, dan maut kita. Sebab, ketiga itu datangnya pasti dan tugas kita hanyalah mempersiapkan diri agar pantas. Pantas menjadi bagian dari barisan hamba-Nya yang bertakwa.

Ketika niat baik dicurhatkan dalam doa. Allah menghantarkan kita pada orang yang semestinya. Semakin kuatlah keyakinan itu #NR

Lantas, Siapa Yang Berhak Menjawab Pertanyaanmu? Allah saja, Allah lagi, Allah terus. Ya, hanya Dia. Semoga cerita dalam tulisan ini bisa memberikan sedikit cara pandang berbeda bagi kamu yang sedang dilanda kegaluauan hidup. Semoga menginspirasi kawan!

 

10 Comments
  1. sarah
  2. lily
    • Rizky Nasution
  3. TM Reza
    • Rizky Nasution
  4. Ivan Suaidi
    • Rizky Nasution
  5. Siti Rogayah
    • Rizky Nasution

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *