Sungai Deli, Jantungnya Kota Medan

Kalau kelen ditanya sekilas tentang Sungai Deli, apa respon kelen? Beberapa orang berespon, sampah, kotor, airnya coklat, keruh, berbau, kumuh, tercemar, dan tidak sehat. Ya, respon negatif acapkali terlontar dari orang-orang yang aku temui.

Sungai Deli, Jantungnya Kota Medan ; Ilustration by : NAZ

Sungai Deli, Jantungnya Kota Medan ; Ilustration by : NAZ

Tapi, jika aku yang ditanya seperti itu, maka aku akan menjawab, seksi, klasik, penuh misteri, dan yang pasti jantung bagi keberadaan kota Medan. Loh kok gitu? Apa maksudnya? Beginilah kebanyakan anak Medan, selalu saja skeptic terhadap sebuah objek yang dianggap tidak menarik. Padahal jika kita cermat berpikir dan menganalisa, apa yang dikomentari merupakan bentuk proyeksi kita akan sebuah isu.

Aku masih saja kesel sama mental anak muda yang apa-apa selalu menganggap sesuatu itu sudah tidak bisa diubah, apalagi yang sifatnya sudah menjadi budaya. Kelen tahu enggak, suatu perilaku yang berulang itu akan membentuk kebiasaan kita sehari-hari, ini lambat laun akan mendarah daging dan membentuk karakter bagi diri.

Kegiatan Piknik Heritage, Sungai Deli

Kegiatan Piknik Heritage, Sungai Deli

Diskusi Bareng Koalisi Peduli Anak Sungai Deli

Diskusi Bareng Koalisi Peduli Anak Sungai Deli

Jika konsepnya seperti itu, maka perilaku baik dan buruk merupakan dua hal yang memiliki porsi sama. Berarti dengan kata lain, perilaku buruk seperti mencemari kawasan sungai, bisa saja diubah menjadi perilaku memelihara sungai. Semua kembali kepada para penghuni kawasan di bantaran sungai.

Berdasarkan ulasan di atas, tidaklah menutup kemungkinan Sungai Deli yang hari ini tercemar, suatu saat bisa disulap menjadi sungai yang asri dan lestari. Sudah pasti ini bukan hasil kerja satu pihak, melainkan banyak pihak harus turut terlibat melakukannya. Meskipun sesederhana, tidak membuang sampah ke sungai.

Bukan Bertanya Kenapa Memelihara Sungai Deli, Tapi Harus!

Perilaku memelihara tidak begitu saja bisa terjadi. Layaknya seorang yang jatuh cinta, pasti keduanya butuh mengenal satu dan lainnya, lalu pendekatan, saling tertarik, kemudian benih cinta itu timbul, dan memutuskan untuk menikah.

Inilah konsep yang bisa digunakan untuk mengajak orang peduli dengan Sungai Deli. Langkah pertama yang bisa dilakukan yakni, mengenalkan bahwa Sungai Deli memiliki cerita yang luar biasa di balik kondisinya hari ini.

Mengenalkan Sungai Deli Melalui Literasi

Mengenalkan Sungai Deli Melalui Literasi

Tahu enggak kelen? Sungai Deli merupakan jantungnya kota Medan. Sebuah jantung jika tidak terpompa, maka aliran darah tidak akan jalan dan seseorang akan mati karenanya. Begitu pula Sungai Deli, jika kita mengetahui kegagahan di balik sejarahnya, maka kita akan tergerak untuk turut merawat keberadaannya.

Ya, Sungai Deli sudah tak seseksi dulu lagi. Perkembangan zaman yang tidak memperhatikan aspek lingkungan sebagai salah satu tatanan kota, membuat keberadaan sungai semakin tergerus dan tercemar.

Padahal karena keberadaan Sungai Deli, Medan menjadi sebuah kota hingga kini. Kalau kita merunut ke belakang, seperti yang sempat aku ulas dalam kisah Medan Bukan Persinggahan, Tapi Tujuan. Medan terbentuk menjadi kota dikarenakan keberadaan industri perkebunan yakni, Tembakau Deli.

Pasti laju industri membutuhkan akses transportasi toh? Pada masa itu, Sungai Deli merupakan salah satu jalur transportasi perdagangan di kota Medan. Tembakau Deli yang sudah dikelola oleh pabrik, di bawa melalui transportasi air menuju kota.

Perdagangan jual-beli komoditi ini pun banyak terjadi di semenanjung Sungai Deli. Sungai Babura dan Sungai Deli adalah saksi sejarah perdagangan kota Medan. Medan yang begitu potensial dengan komoditi lokalnya, mejadikan kota ini sangat strategis untuk dikunjungi para pedagang mancan Negara. Ya, jalur Sungai Deli menjadi sejarah kejayaan masa itu.

Mengulas Permasalahan & Potensi Sungai Deli

Mengulas Permasalahan & Potensi Sungai Deli

Lantas, apa alasan kita tidak peduli akan keberadaan Sungai Deli? Ini yang aku sebut dengan skeptis. Anak muda Medan terlalu cepat latah dalam sebuah isu. Memandang sesuatu tidak dari sisi lain sebuah isu, sekedar dari apa yang mereka lihat saja. Lalu, menganggap hal itu tidak akan bisa diubah.

Bukankah kondisi Sungai Deli yang kita lihat hari ini merupakan buah dari perilaku kita sebagai penghuni kota? Kalau menurutku, iya! Sungai itu tercemar bukan terjadi begitu saja, pasti ada sebab di balik itu semua. Salah satu penyebabnya, karena warga Medan sekitarnya yang suka membuang sampah sembarangan ke lairan sungai.

Beberapa Ulasan yang Bisa Diterapkan Warga Sungai

Lagi-lagi di sini aku tidak akan berbicara tentang data, aku hanya berbagi tentang apa yang aku lihat, rasakan, dan pikirkan. Ya, sebuah proses analisis pengalaman. Sikap seperti ini yang seharusnya dimiliki oleh anak muda Medan. Bukan berkoar dan mengeluh saja.

Beberapa waktu lalu aku sempat melakukan perjalanan ke Pekanbaru, Riau. Agenda aku ke sana untuk memenuhi undangan dari komunitas Saujana Riau. Sebuah komunitas yang bergerak melestarikan heritage di Riau, hampir sama dengan Medan Heritage.

Selain aktifitas diskusi, aku dan beberapa kawan dari Saujana Riau melekukan perjalanan ke beberapa site heritage di Riau, salah satunya kunjungan ke Sungai Siak. Pengalaman pertama melihat kondisi Sungai Siak, tercengang. Ya, warga Pekanbaru sangat menjaga lingkungan sungainya.

Kondisi Sungai Siak, Pekanbaru - Riau

Kondisi Sungai Siak, Pekanbaru – Riau

Mendengar beberapa ulasan dari kawan-kawan Saujana Riau, ternyata Sungai Siak dan Sungai Deli memiliki sebuah kemiripan kisah, sama-sama jalur transportasi perdagangan industri perkebunan. Bisa dikatakan Sungai Siak juga merupakan jantungnya kota Pekanbaru.

Sungai Deli, Jantungnya Kota Medan

Dari pengalaman aku belajar, dari yang dilihat dan didengar aku mencerna, lalu pikiranku terus bekerja menganalisis. Akhirnya, aku sampai pada sebuah titik jawaban dari sebuah permasalahan. Ya, yang membuat Sungai Deli dan Sungai Siak berbeda adalah  posisi tempat tinggal masyarakat di sepanjang bantaran sungai.

Kalau kelen lihat di Medan posisi rumah membelakangi sungai, tapi di Pekanbaru, semua rumah menghadap ke arah sungai. Hal ini sejalan dengan pernyataan bang Bambang dan bang Azmi, sebagai salah dua founder Go River Community. Mereka mengatakan bahwa akan berbeda perilaku manusia yang menjadikan sungai sebagai halaman belakang rumahnya ketimbang halaman depan rumahnya.

Sungai Sebagai Halaman Depan

Sungai Sebagai Halaman Depan

Pelabuhan Sungai Siak

Pelabuhan Sungai Siak

Kondisi Jembatan di Sepanjang Sungai Siak

Kondisi Jembatan di Sepanjang Sungai Siak

Kalau rumah membelakangi sungai, maka masyarakat akan menganggap itu sebagai halaman belakang yang tak akan dia pandang, sehingga menjadi sebuah kawasan huni yang tidak penting, atau dengan kata lain bukan kebutuhan primer.

Poin ini yang menjadi hal utama bagi komunitas Go River dalam mengkampanyekan Sungai Deli yang asri dan lestari. Selain mereka menggalakkan aksi bersih sungai, mereka juga menggalakkan kegiatan Sungai Deli Membaca sebagai gerakan literasi bagi warga.

“Karena perilaku mencemari sungai itu terbentuk hasil turun temurun dari orang tuanya. Kalau kita tidak mengedukasi anak-anaknya, maka perilaku ini akan terwariskan terus menerus ke generasi berikutnya. Ini alasan kami membuat gerakan Sungai Deli Membaca, agar warga bantaran Sungai Deli menjadi lebih cerdas dan tanggap akan keberadaan sungai sebagai kebutuhan primer mereka,” papar bang Darwis Nasution yang juga founder dari Go River Community.

Upaya mereka dalam mengkampanyekan isu Sungai Deli tidaklah main-main. Ada beberapa perubahan yang baik terjadi saat ini di bantaran Sungai Deli. Salah satu buah keberhasilan mereka yakni, Sungai Deli mendapat peringkat kedua di Kompetisi Sungai Nasional 2017,  yang diadakan oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU).

Ini berarti menunjukkan bahwa proses tidak memungkirin hasil. Tidak hanya itu, saat ini juga aktiftas warga lebih aktif dalam menjaga Sungai Deli sebagai jantungnya kota Medan, agar kelak Medan memiliki nyawa lagi untuk kejayaan transportasi sungainya. Harapannya, Sungai Deli bisa menjadi salah satu destinasi wisata kota yang dirindukan turis lokal dan internasional.

Yuk, kita hidupi kembali Sungai Deli! Sebab, Sungai Deli, Jantungnya Kota Medan. Berikan dia nyawa. Kalau kelen belum punya waktu turut berkontribusi dalam gerakan ini, mohon bantu sebar tulisan ini, agar makin banyak warga Medan yang sadar akan keberadaan Sungai Deli. Save Our River! Save Our Heritage!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *