TCDP : Saatnya Menginspirasi Negeri

Indonesia Terdidik TIK, begitulah selogan gerakan yang diinisiasi oleh Djalaluddin Pane Foundation. Meskipun pada faktanya pembangunan infrastruktur di sektor pendidikan belum menyeluruh hingga pelosok desa. Namun, ini tidak menurunkan semangat para Relawan Indonesia Terdidik TIK untuk terus menebar semangat menginspirasi negeri melalui pembinaan guru-guru pedalaman Sumatera Utara, khususnya para guru di Kabupaten Labuhan Batu.

TCDP : Saatnya Menginspirasi Negeri

TCDP : Saatnya Menginspirasi Negeri

“Perkembangan era digital sudah up date sejak tahun 2001, tapi pendidikan di Indonesia masih saja menggunakan metode era 90-an. Standar guru saat ini sudah dituntut untuk menggunakan media pembelajaran digital. Maka, guru-guru sudah saatnya melek TIK,” ungkap Rizki Ardhani Situmorang, selaku Plt Ketua Djalaluddin Pane Foundation.

Lalu, timbul pertanyaan bahwa apakah materi didiknya, sumber daya pendidikan, atau justru infrastruktur yang belum merata? Djalaluddin Pane Foundation menjawabnya, ketidakmerataan pengetahuan perihal teknologi merupakan salah satu masalah dini yang harus segera di atasi.

Jika sumber daya pendidikan (dalam hal ini adalah pendidik) tidak mempunyai pengetahuan tentang teknologi, bagaimana pendidik tersebut mampu menerapkan metode pembelajaran berbasis teknologi ke peserta didiknya. Fenomena inilah yang disambut oleh Djalaluddin Pane Foundation melalui Teacher Competency Development Program (TCDP) sebagai solusi meretas problematika para guru pedalaman yang Gagap Teknologi (Gaptek).

Foto Bersama Jajaran Staff Djalaluddin Pane Foundation

Foto Bersama Jajaran Staff Djalaluddin Pane Foundation

Sabtu, 21 Mei 2016 lalu, aku dan beberapa jajaran staff Djalaluddin Pane Foundation melakukan perjalanan edukasi ke salah satu daerah pedalaman di Labuhan Batu Utara, tepatnya di Kota Aek Kanopan. Berbeda dengan kegiatan TCDP : Oktober Menolak Gaptek! yang berbasis workshop, kali ini Djalaluddin Pane Foundation menggelar konsep kegiatan TCDP berupa seminar dengan tema “Dengan Semangat Teacher Competency Development Program Mari Bangun Daerah Menuju Indonesia Terdidik TIK.”

Dalam seminar ini, Djalaluddin Pane Foundation menghadirkan dua pembicara yang expert di bidangnya, diantaranya Dedi Dwitagama selaku Guru Era Baru dari Jakarta dan juga ada Bambang F. Wibowo selaku Koordinator Pendidikan USAID Medan. Pada seminar ini pemateri memaparkan bagaimana peran teknologi saat ini pesat berkembang dan semakin memudahkan para pendidik dalam melakukan proses belajar mengajar, salah satunya dengan menggunakan peran social media.

Guru Bukan Lagi Pejuang Tanpa Tanda Jasa

Mungkin kita sudah sering mendengar istilah “Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.” Namun, bagi mas Dedi Dwitagama, yang menyebut dirinya sebagai Guru Era Baru mengatakan bahwa tidak sepakat akan hal tersebut.

“Bagi saya guru jangan mau menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Yang akhir hayatnya hanya dikenang nama tanpa dimasukkan namanya dalam daftar nama Pahlawan Indonesia,” ulas mas Dedi yang menganggap konsep ini butuh dirubah dari karakter para pendidik.

Dedi Dwitagama : Guru Era Baru

Dedi Dwitagama : Guru Era Baru

Beliau sepakat bahwa sudah saatnya guru masa kini meninggalkan jejak tidak hanya nama, melainkan karya. Pendidik di era baru harus paham memanfaatkan teknologi dan social media untuk menunjang pembelajaran. Tidak hanya untuk lingkungan sekolah saja, tapi juga untuk eksistensi diri pendidik sebagai seorang guru. Melalui apa? Yaitu melalui tulisan, baik tulisan di blog maupun di social media.

Ya, seperti yang kita tahu era digital abad 21 memaksa pendidik harus kuasai Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (TIK). Maka, sudah sepatutnya kecanggihan teknologi dimanfaatkan pendidik sebagai media pembelajaran.

Menurut mas Dedi, saat ini dunia pendidikan terdiri dari tiga konten penting, diantaranya pedidikan, TIK, dan social media. Baginya, ketiga hal tersebut merupakan siklus yang mampu mendukung para pendidik berkarya yakni, berkarya melalui tulisan. “Manusia itu unik. Never have the same idea,” begitu tegasnya.

TCDP : Saatnya Menginspirasi Negeri

Hanya karya yang bisa mendokumentasikan keunikan ide setiap orang dan sifatnya bisa diwariskan, sekalipun si pemiliknya meninggal dunia. Pria berkaca mata ini menyarankan para peserta seminar TCDP untuk mulai membuat karya berupa tulisan-tulisan sederhana di blog. “Saya tahu untuk membuat buku bukanlah hal yang mudah. Tapi, canggihnya teknologi saat ini sudah memudahkan Anda untuk mempublikasi karya Anda melalui social media,” paparnya meyakinkan para peserta seminar.

Beliau juga mengatakan salah satu keuntungan menggunakan social media ialah sebagai media promosi diri. Penuturannya mengakui bahwa saat ini beliau bisa menjadi pembicara keliling Indonesia dikarenakan kelihaiannya memanfaatkan social media. Do Something Different with Someone merupakan selogan yang beliau lontarkan dalam hal mengoptimasi peran TIK saat ini. “Temukan passion Anda, publikasi di social media. Ceritakan semua hal yang Anda lakukan bersama siswa, dengan begitu Anda akan menjadi guru yang berbeda dari pendidik lainnya,” tambah lelaki berdarah Solo ini.

Aktif dan produktif, itulah pesan yang ingin disampaikan mas Dedi kepada para peserta seminar. Sebab, aktif pun seorang pendidik tapi kegiatannya tidak di publikasi, itu hanya akan dia dan peserta didik yang tahu. Aktif, dipublikasikan, tapi tidak produktif. Itu hanya meninggalkan jejak di kenangan bukan mati dalam karya. Maka, seorang pendidik era baru adalah mereka yang mampu meninggalkan jejak dalam karya.

Kemajuan Teknologi, Komunikasikan Budaya Literasi

Sesuai informasi diperoleh dari Dinas Pendidikan Deli Serdang menunjukkan bahwa terdapat sekitar 13.000 guru peserta Uji Kompetensi Guru (UKG) tidak lulus uji dari 16.000 yang ikut. “Ini diprediksikan sekitar 20 – 30 tahun baru bisa di atasi,” ungkap bang Bambang F. Wibowo yang akrab di panggil bang Beng.

Bambang F. Wibowo : Koordinator Pendidikan USAID Medan

Bambang F. Wibowo : Koordinator Pendidikan USAID Medan

Menurut lelaki yang mengaku sebagai Social Worker ini, pentingnya social media bagi pembangunan para pendidik adalah sebagai media penyebar budaya literasi. Sebab, Indonesia harus mengejar ketertinggalan dari negara tetangga. Tolak ukurnya sederhana, kita bisa melihat dari tingkat kemampuan literasi di Indonesia. Beliau sempat memaparkan data UNESCO tahun 2012 yang menyebutkan, hanya 1 dari 1000 orang di Indonesia yang memiliki minat baca terhadap buku.

Sedangkan menurut Connecticut State University, Indonesia menempati urutan ke-60 dari 61 negara yang di survey tentang kemampuan literasi. “Dari fakta ini sudah tergambar jelas kualitas pendidikan di Indonesia. Jadi teknologi, terkhusus pada social media dianggap sangat penting karena dapat memudahkan pekerjaan kita apalagi di abad 21, dimana segala sesuatu sudah menggunakan TIK. Lain dari itu, di zaman yang serba teknologi begini, keterampilan yang harus dimiliki semua orang adalah keterampilan teknologi juga media informasi,” jelasnya kepada peserta seminar.

Sesi Tanya Jawab Bersama Dua Pembicara

Sesi Tanya Jawab Bersama Dua Pembicara

Singkat kata, sudah seharusnya para pendidik mengejar kemajuan teknologi. Baginya, kecanggihan teknologi merupakan keuntungan bagi para pendidik untuk lebih mudah mengkomunikasikan budaya literasi. Tidak hanya siswa dan sekolah saja yang akan mengetahui perkembangan metode pembelajaran yang para pendidik terapkan. Bahkan dunia pun bisa mengetahui aktifitas para pendidik.

“Selama yang apa Anda ajarkan , Anda tulis dan sebarkan melalui social media, ini akan menjadi dokumentasi seumur hidup di jaringan internet. Pastinya akan terus diketahui zaman. Banyak cara yang bisa Anda lakukan, bisa dengan media tulis, video, dan foto. Pada dasarnya ini adalah metode literasi,” tambahnya menguatkan karakter para peserta seminar.

Berikut keterampilan abad 21 yang harus para pendidik miliki :

  1. Hidup dan berkarir
  2. Belajar dan berinovasi
  3. Teknologi dan media informasi : kemampuan literasi mengakses, kemampuan mengolah dan menganalisis, serta kemampuan menciptakan.

Seminar yang dihadirin oleh 180 peserta ini diantaranya guru dan mahasiswa, berakhir dengan euforia yang geregetan. Hal ini tampak dari antusias peserta yang saling rebutan untuk bertanya pada sesi tanya jawab. Aku sebagai moderator sempat merasakan kelabakan, karena ada peserta yang sampai berdiri dan menepukkan tangannya agar ia diberi kesempatan untuk bertanya. Hal ini bisa dijadikan parameter kalau acara yang digelar Djalaluddin Pane Foundation ini berhasil merubah mindset para pendidik dan mahasiswa.

TCDP : Saatnya Menginspirasi Negeri

Rizki menyebutkan kalau program TCDP sudah bergerak sejak tahun 2012. Berawal dari Labuhan Batu dan Labuhan Batu Selatan. Tahun ini TCDP melakukan ekspansi ke Deli Serdang dan Labuhan Batu Utara. “Harapan Djalaluddin Pane Foundation, semoga langkah kecil yang dilakukan ini bisa seperti efek bola salju, dari kecil kemudian bergulir semakin besar,” harap Rizki, wanita berjilbab hijau tersebut.

Rizki Ardhani Situmorang : Plt Ketua Djalaluddin Pane Foundation (Kanan)

Rizki Ardhani Situmorang : Plt Ketua Djalaluddin Pane Foundation

Program TCDP ini merupakan pendidikan dan pelatihan gratis bagi para pendidik di pedalaman desa tentang TIK, baik membahas tentang perkembangannya, aplikasi medianya, peran dan manfaatnya, hingga mengakses serta mengimplemetasikannya ke dalam metode pembelajaran. “Kita sama-sama tahu Labura ini bukanlah Kabupaten yang besar. Namun, fokus kegiatan mereka dilihat cukup serius dari pemerintahan yang ada. Terlihat dari gerakan Labura Membaca,” tukas Rizki menutup perbincangan kami di siang itu.

Lalu, masih mau Gaptek? Yuk, ikuti zaman mu tanpa meninggalkan budaya mu. Bersama kita tularkan budaya literasi melalui semangat menginspirasi negeri. Semoga artikel TCDP : Saatnya Menginspirasi Negeri ini dapat membuka wacana berfikir para pembacanya. Salam Literasi! Salam #IndonesiaTerdidikTIK !

TCDP : Saatnya Menginspirasi Negeri

2 Comments
  1. Siti Nurjannah Tambunan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *